PTPN I Siapkan Investasi Rp26,76 Triliun, Bidik Hilirisasi Perkebunan

- Jurnalis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

JAKARTA – PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) menyiapkan rencana investasi senilai Rp26,76 triliun untuk memperkuat hilirisasi industri perkebunan.

Investasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dari sektor hulu hingga hilir sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan dan energi nasional.

Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan, investasi tersebut merupakan bagian dari transformasi perusahaan untuk mengoptimalkan potensi perkebunan, meningkatkan daya saing, serta menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Menurut Rivai, pengembangan bisnis PTPN I sejalan dengan agenda prioritas pemerintah dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Fokusnya mencakup swasembada pangan, ketahanan energi, penciptaan lapangan kerja, pemerataan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Asta Cita Presiden Prabowo memiliki korelasi erat dengan bidang bisnis PTPN I. Sumber daya lahan, komoditas perkebunan, serta jaringan operasional yang tersebar di berbagai wilayah menjadi modal perusahaan untuk mendukung agenda tersebut,” kata Rivai di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Dia menjelaskan, rencana investasi tidak hanya menyasar peningkatan produktivitas perkebunan. Perusahaan juga menyiapkan pengembangan fasilitas pengolahan agar komoditas yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Dari total investasi Rp26,76 triliun, sebesar Rp16,34 triliun dialokasikan untuk pengembangan sektor hulu dengan cakupan areal perkebunan seluas 342.321 hektare.

Sementara Rp10,42 triliun lainnya disiapkan untuk membangun 25 fasilitas pengolahan di sejumlah wilayah strategis Indonesia.

Baca Juga :  Launching Tim Bhayangkara Lampung Gratis, 4.000 Jersey Dibagikan

Di sektor hulu, pengembangan mencakup peremajaan tanaman dan optimalisasi sejumlah komoditas, mulai jagung, kelapa, karet, kopi, kakao, jambu mete, hingga pala.

Adapun di sektor hilir, pembangunan fasilitas pengolahan diharapkan memperkuat keterhubungan antara produksi bahan baku, industri pengolahan, dan pasar.

Dengan demikian, komoditas perkebunan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk turunan bernilai tambah.

Salah satu peluang yang tengah dikaji ialah pemanfaatan jagung sebagai bahan baku bioetanol untuk mendukung pengembangan energi baru terbarukan.

Namun, pengembangan tersebut tetap mempertimbangkan kelayakan bisnis dan kebutuhan pasar.

“Hilirisasi bagi PTPN I bukan sekadar pengembangan bisnis baru, melainkan upaya mengubah cara perusahaan menciptakan nilai. Kekuatan perkebunan tidak cukup diukur dari luas lahan atau volume produksi, tetapi juga dari nilai ekonomi yang dihasilkan ketika komoditas diolah menjadi produk turunan,” ujar Rivai.

Untuk memastikan investasi berjalan optimal, PTPN I menyiapkan sejumlah langkah pengawalan proyek.

Di antaranya melalui studi kelayakan bisnis, integrasi rantai pasok, serta penguatan kepastian pasar dengan melibatkan pembeli siaga atau off-taker.

Langkah tersebut ditujukan agar pembangunan fasilitas pengolahan sejalan dengan ketersediaan bahan baku dan kebutuhan pasar.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Naik Rp 2.000 per Gram, Pegadaian Ingatkan Investor Tak Gegabah

Dengan begitu, investasi yang digelontorkan diharapkan dapat memberikan hasil ekonomi yang terukur.

PTPN I juga mendorong kemitraan dengan petani dan pelaku usaha lokal, termasuk melalui pengembangan skema perkebunan plasma.

Kemitraan ini diharapkan memperkuat pasokan bahan baku sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Petani merupakan bagian dari garda terdepan dalam menopang ketahanan pangan bangsa. Karena itu, melalui kemitraan dan pengembangan plasma, keberhasilan hilirisasi harus memberikan manfaat nyata bagi petani dan mitra lokal,” kata Rivai.

Hingga awal Oktober 2026, pengembangan areal karet PTPN I tercatat mencapai 1.479 hektare, sedangkan pengembangan jagung mencapai 1.125 hektare.

Secara keseluruhan, realisasi pengembangan komoditas unggulan di sektor budidaya atau on-farm diproyeksikan mencapai 11.516 hektare. Angka tersebut setara dengan sekitar 59–60 persen dari target tahunan 2026.

Percepatan program dilakukan melalui koordinasi lintas fungsi, pengendalian anggaran, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan melalui pendekatan pentahelix.

Melalui rencana investasi tersebut, PTPN I menargetkan penguatan rantai nilai industri perkebunan, mulai dari budidaya hingga pengolahan produk.

Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas, membuka peluang usaha, dan memperkuat kontribusi perusahaan terhadap ketahanan pangan serta energi nasional. (*)

Berita Terkait

Harga Emas Antam Naik Rp 2.000 per Gram, Pegadaian Ingatkan Investor Tak Gegabah
PTPN I Genjot Hilirisasi Kopi Ijen, Bidik Pasar Ekspor
Bioetanol Jadi Andalan Baru, PTPN I Dorong Ekspansi Bisnis
PTPN I dan IPB Sulap Tankos Sawit Jadi Helm hingga Rompi Antipeluru
Deli Nusantara-Golden Djawa, Cerutu PTPN I Bidik Pasar Dunia di Indonesian Cigar Festival 2026 Denpasar
Launching Tim Bhayangkara Lampung Gratis, 4.000 Jersey Dibagikan
PTPN I Gandeng PWI Lampung, Perkuat Promosi Produk Berkualitas ke Publik
Pasar Otomotif Berubah, Mobil Listrik Kian Menguat di 2026
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:25 WIB

PTPN I Siapkan Investasi Rp26,76 Triliun, Bidik Hilirisasi Perkebunan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:24 WIB

Harga Emas Antam Naik Rp 2.000 per Gram, Pegadaian Ingatkan Investor Tak Gegabah

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 16:13 WIB

PTPN I Genjot Hilirisasi Kopi Ijen, Bidik Pasar Ekspor

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Bioetanol Jadi Andalan Baru, PTPN I Dorong Ekspansi Bisnis

Selasa, 6 Oktober 2026 - 15:41 WIB

PTPN I dan IPB Sulap Tankos Sawit Jadi Helm hingga Rompi Antipeluru

Berita Terbaru

PEMERINTAHAN

Ela Siti Nuryamah: 227 Pesantren Jadi Pilar Pembangunan Lamtim

Kamis, 22 Okt 2026 - 11:23 WIB

LC TV Story

Prabowo Respons Downgrade MSCI, Tegaskan Indonesia Tak Gentar

Kamis, 22 Okt 2026 - 09:33 WIB