LAMPUNGCORNER.COM, Pasukan Rusia angkat kaki dari PLTN Chernobyl pada Selasa (29/3/2022). Namun, mereka tidak pergi sendirian. Kremlin turut membawa sejumlah tawanan.
Perusahaan Pembangkit Energi Nuklir Nasional Ukraina, Energoatom, melaporkan kabar tersebut pada Kamis (31/3/2022). Badan itu mengatakan, Moskow masih menyandera prajurit Kiev. Namun, pihaknya tidak dapat merinci jumlah serdadu tersebut.
Unggahan lain dari Energoatom menyinggung penyerahan tanggung jawab atas perlindungan Chernobyl dari pihak Moskow kepada Kiev. Energoatom kemudian membagikan pindaian dokumen resmi tersebut.
Dokumen itu tampak telah ditandatangani oleh anggota staf senior di Chernobyl dan pejabat militer Kremlin yang menguasai situs nuklir itu. Namun, media tidak dapat segera memverifikasi keaslian dokumen tersebut.
“Ketika mereka melarikan diri dari PLTN Chernobyl, penjajah Rusia membawa anggota Garda Nasional, yang mereka sandera sejak 24 Februari, bersama mereka,” tulis Energoatom di Telegram, seperti dikutip dari AFP.
Badan yang bertanggung jawab atas Zona Ekslusi Chernobyl menerangkan, seluruh pasukan Rusia telah meninggalkan lokasi. Mereka tak lagi melihat seorang pun di luar wilayah PLTN Chernobyl.
Laporan mengatakan, para serdadu berderap menuju perbatasan Ukraina dengan Belarusia. Chernobyl memang terletak dekat perbatasan Belarusia. Sementara itu, pasukan yang bertugas mengepung Kota Slavutych tampak turut bergabung dengan mereka.
Slavutych merupakan kota kediaman para pekerja PLTN Chernobyl. Sebelumnya, para petugas dikatakan kembali ke rumah untuk beristirahat usai bekerja selama empat pekan tanpa henti. Kendati demikian, Kremlin tak urung menggencarkan serangan terhadap daerah itu pada Kamis (24/3/2022).
“(Pasukan Rusia) berbaris dalam dua kolom menuju perbatasan Ukraina dengan Belarusia,” jelas Energoatom.
“Ada juga bukti bahwa barisan tentara Rusia yang mengepung kota Slavutych saat ini sedang dibentuk untuk bergerak menuju Belarusia,” sambung pernyataan itu.
Menilik laporan tersebut, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) segera tanggap merespons. Badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu berencana mengirim misi ke Chernobyl.
“IAEA sedang dalam konsultasi erat dengan pihak berwenang Ukraina tentang pengiriman bantuan pertama dan misi dukungan ke (Chernobyl) dalam beberapa hari ke depan,” ungkap IAEA, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Rusia merebut PLTN Chernobyl sejak awal invasi pada 24 Februari. Langkah itu menuai kekhawatiran akan peningkatan risiko radiologi. Pasalnya, reaktor nomor empat Chernobyl meledak pada 26 April 1986.
Insiden itu menyebabkan tragedi nuklir terburuk di dunia. Kecelakaan nuklir tersebut merenggut ratusan nyawa dan menyebarkan kontaminasi radioaktif ke seluruh Eropa.
Ukraina berulang kali menyatakan keprihatinan atas keamanan Chernobyl. Pihaknya menuntut penarikan pasukan Rusia.
Sebab, kehadiran para tentara mencegah rotasi personel yang bekerja di pabrik. Terlebih, serangan oleh Kremlin kerap menyebabkan kebakaran di area sekitar Chernobyl.
Sejak itu, para staf diperbolehkan mengawasi penyimpanan bahan bakar nuklir bekas. Mereka juga memperhatikan sisa-sisa reaktor berbungkus beton yang meledak pada 1986 itu.
Pada awal pekan ini, para pekerja di lokasi melaporkan, serdadu Moskow kerap mengemudi melalui Hutan Merah tanpa perlindungan radiasi. Wilayah itu merupakan area yang paling terkontaminasi radioaktif di zona sekitar Chernobyl.
Energoatom kemudian mengklaim, kepergian pasukan Rusia yang tak terduga itu diakibatkan kekhawatiran akan radiasi. Pihaknya mengatakan, para prajurit bahkan hampir meletuskan kerusuhan akibat cemas. Namun, IAEA belum mengkonfirmasi laporan tersebut.
Red















