LAMPUNGCORNER.COM, Metro — Ratusan suporter gabungan Jakmania dan Aremania Lampung melakukan aksi lilin dan juga do’a bersama atas tragedi yang dialami oleh para suporter Aremania di Stadion Kajuruhan Kepanjen Malang yang menewaskan 174 orang. Demikian diungkapkan, Ketua Aremania Lampung, Sam Dwi (28) usai lakukan kegiatan itu di Lapangan Terminal 16c, Minggu (02/10/2022) Pukul 19.00 WIB.
Ia menyampaikan rasa dukanya atas tragedi yang menewaskan sekurangnya 174 orang suporter Aremania tersebut. Menurutnya, aksi aparat kepolian yang berada di stadion tersebut tidak seharusnya dilakukan. Karena, pada pasal 19b dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations, disebutkan tentang larangan membawa atau menggunakan senjata api atau gas air mata (gas pengendali massa).
“Tidak perlu tindakan gas air mata ketika sporter turun kelapangan. Karena di peraturan FIFA, pihak aparat tidak diperbolehkan melakukan pengamanan menggunakan gas air mata,” jelasnya.
Sam menambahkan, dari Aremania Lampung juga kemarin ikut mengirimkan perwakilannya untuk menonton pertandingan antara Arema vs Persebaya itu.
“Kita ada perwakilan juga kemarin kesana, tapi ia (perwakilan suporter Lampung) tidak menjadi korban tragedi tersebut dan kini sudah dalam perjalanan pulang ke Lampung,” ujarnya.
Kemudian, ia juga mengecam keras tindakan yang dianggap tidak berperikemanusian itu dan meminta jajaran kepolisian tuntuk dapat menindak tegas sesuai peraturan yang berlaku.
“Dalam aksi Lilin ini kami membawa sekiranya 100 orang dari seluruh Lampung untuk bersama mendoakan para korban, dan berharap untuk tidak terjadi lagi dikemudian hari,” ungkapnya.
Ditempat sama, Rizki Ardiansyah (30), Ketua Jakmania Biro 04 Lampung, mengaku dalam aksi Lilin ini dirinya bersama 200 orang anggotanya mengucapkan keprihatinannya atas tragedi tersebut.
“Ini merupakan bentuk solidaritas kami para suporter, dan kami bersama mendoakan para korban dari pihak suporter Aremania yang menjadi korban disana. Juga turut berduka karena para suporter disana juga dituding menjadi biang kerok keributan itu,” sambung dia.
Tak hanya itu, dirinya juga menyayangkan akan adanya pelolosan penonton tanpa tiket dalam pertandingan antara Arema dan Persebaya itu.
Ia juga turut mengecam tindakan yang dilakukan aparat kepolisian yang bertugas. Lantaran, tidak mengindahkan peraturan FIFA yang tidak memperbolehkan membawa senjata api dan gas air mata.
“Jadi, buat apa larangan penggunaan flare dan smoke bomb itu ada, kalau aparat masih menggunakan gas air mata sebagaimana telah dilarang oleh FIFA,” pungkasnya.(*)
Red















