SURABAYA — PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) tak ingin hanya bertumpu pada bisnis perkebunan. Perusahaan ini mulai memperkuat dua lini usaha strategis, yakni energi terbarukan dan manufaktur, untuk membuka sumber pertumbuhan baru sekaligus meningkatkan daya saing.
Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras turun langsung mengawal pengembangan bisnis tersebut melalui kunjungan kerja ke PT Energi Agro Nusantara (Enero) di Mojokerto dan PT Dasaplast Nusantara (Dasaplas) di Jepara, Kamis (15/10/2026).
Kunjungan itu difokuskan pada penguatan operasional, optimalisasi aset, peningkatan produktivitas, hingga perluasan pasar kedua anak perusahaan.
Di Enero, Abdul Rivai Ras mendorong pengembangan bisnis bioetanol berbasis molases atau tetes tebu. Menurut dia, potensi energi terbarukan harus digarap lebih agresif agar perusahaan tidak hanya menjadi pemain regional, tetapi mampu memperluas bisnis ke berbagai wilayah Indonesia.
“Enero tidak boleh berhenti dan berpuas diri hanya menjadi pemain utama di Jawa Timur. Kita harus melangkah lebih jauh, berekspansi, dan membawa model bisnis bioetanol berbasis molases ini ke berbagai wilayah lain di Indonesia,” ujarnya.
Abdul Rivai menilai Enero memiliki peluang untuk berkembang menjadi pusat keunggulan industri bioetanol nasional. Namun, peluang tersebut harus diikuti penguatan kompetensi, peningkatan daya saing, dan pengembangan model bisnis yang sesuai dengan kebutuhan energi masa depan.
Pengolahan molases menjadi bioetanol juga membuka ruang bagi peningkatan nilai tambah produk samping industri perkebunan. Dengan begitu, sumber daya yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung transisi energi.
Setelah sektor energi, perhatian beralih ke bisnis manufaktur. Saat mengunjungi Dasaplas di Jepara, Abdul Rivai menekankan pentingnya efisiensi operasional, optimalisasi aset, dan inovasi produk untuk memperkuat fundamental perusahaan.
Produsen karung plastik dan kemasan fleksibel tersebut juga didorong memperluas pasar komersial di luar kebutuhan internal PTPN Group.
Langkah itu dinilai penting untuk membuka peluang permintaan baru, meningkatkan pemanfaatan kapasitas produksi, dan memperbesar kontribusi Dasaplas terhadap kinerja grup.
“Optimalisasi aset yang efisien serta pengembangan bisnis yang adaptif terhadap kebutuhan pasar menjadi kunci utama Dasaplas untuk tumbuh berkelanjutan dan berdaya saing tinggi,” tegasnya.
Abdul Rivai menegaskan, setiap anak perusahaan harus mampu mengembangkan potensi bisnis secara terukur, meningkatkan produktivitas, dan memastikan aset yang dimiliki menghasilkan nilai ekonomi optimal.
Dengan strategi tersebut, anak perusahaan diharapkan tidak sekadar menjadi penopang operasional grup, tetapi juga tampil sebagai mesin pertumbuhan baru bagi PTPN I.
Penguatan Enero dan Dasaplas menjadi bagian dari upaya PTPN I mempercepat transformasi bisnis agar lebih adaptif, produktif, dan kompetitif. Pengembangan kedua lini usaha itu diharapkan memperluas sumber pendapatan perusahaan sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan dan mendukung ketahanan energi nasional. (*)















