WHO : Jangan Sebut Varian Omicron Ringan

- Jurnalis

Jumat, 7 Januari 2022 - 06:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana pandemi COVID-19 di India pada tahun 2022. Foto: Adnan Abidi/REUTERS

Suasana pandemi COVID-19 di India pada tahun 2022. Foto: Adnan Abidi/REUTERS

LAMPUNGCORNER.COM – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan penyakit yang disebabkan varian Omicron tidak boleh disebut ringan. Menurutnya, varian ini tetap menyebabkan rawat inap dan kematian di seluruh dunia.

Menurut Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, jumlah orang terinfeksi varian ini terus mencetak rekor. Bahkan, membalap rekor-rekor yang sebelumnya disebabkan oleh varian Delta.

Ini berarti, ucap Tedros, rumah sakit mengalami tekanan dan kewalahan.

“Meskipun Omicron tampak tidak separah Delta, terutama bagi mereka yang sudah divaksinasi, bukan berarti varian ini bisa dikategorikan sebagai ‘ringan’,” tegas Tedros dalam konferensi pers, Kamis (6/1/2022), dikutip dari AFP.

“Sama seperti varian-varian sebelumnya, Omicron menyebabkan pasien dirawat di rumah sakit dan membunuh orang-orang,” lanjutnya.

Pada pekan lalu, total 9,5 juta kasus COVID-19 dilaporkan di seluruh dunia, meningkat 71 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Angka ini mencetak rekor penambahan tertinggi.

“Faktanya, tsunami kasus ini sangat besar dan cepat, dan ini membuat sistem kesehatan di seluruh dunia kewalahan,” ujar dia.

Baca Juga :  Indonesia–Rusia Perkuat Kemitraan Strategis, dari Investasi Pupuk hingga Perkapalan Mutakhir

Bahkan menurut Tedros, angka 9,5 juta itu kemungkinan lebih rendah dari yang sebenarnya terjadi di dunia nyata.

Sebab, ada keterlambatan pencatatan kasus selama liburan Natal dan Tahun Baru, tes COVID-19 mandiri yang tidak dilaporkan, dan sistem pengawasan yang juga kewalahan.

Banyak negara yang mengalami lonjakan kasus sangat buruk, hingga terus mencetak rekor penambahan kasus harian tertinggi. Saat ini, rekor penambahan kasus harian tertinggi dipegang oleh Amerika Serikat, dengan hampir 1 juta kasus dalam 24 jam.

Ia pun menyerukan agar distribusi vaksin pada 2022 ini bisa lebih merata dibandingkan selama 2021. Dalam pidato pertama Tedros di tahun baru, ia menegur negara-negara berpenghasilan tinggi “memonopoli” vaksin yang ada.

Tedros mengatakan, kesenjangan vaksinasi menciptakan tempat berkembang sempurna bagi varian-varian baru.

“Ketidaksetaraan vaksin adalah pembunuh manusia dan pekerjaan, dan ini merusak pemulihan ekonomi global,” ucap Tedros.

Baca Juga :  Prabowo Tiba di Rusia, Hadiri EEF ke-11 sebagai Tamu Kehormatan Utama

“Booster setelah booster yang diberikan di sedikit negara tidak akan mengakhiri pandemi, ketika miliaran orang masih tetap tidak terlindungi,” tambahnya.

Target yang ditetapkan Tedros pada tahun lalu adalah 10% dari populasi setiap negara di dunia harus sudah divaksinasi dosis lengkap pada akhir September 2021, dan 40 persen pada akhir Desember 2021.

Tetapi, 92 dari 194 negara anggota WHO tidak berhasil mencapai target akhir tahun itu. Bahkan, 36 negara tidak berhasil mencapai target 10 persen karena tidak memperoleh akses vaksin.

Untuk pertengahan 2022, Tedros ingin setiap negara memvaksinasi 70 persen dari total populasinya.

Dari data yang disajikan Worldometers.info, per Jumat (7/1), total kasus COVID-19 dunia saat ini mencapai 299.895.544 infeksi—nyaris mencapai 300 juta kasus. Sedangkan kematian berjumlah 5.487.242 jiwa. (*)

 

Red

Berita Terkait

Indonesia–Rusia Perkuat Kemitraan Strategis, dari Investasi Pupuk hingga Perkapalan Mutakhir
Prabowo-Putin Bertemu di Vladivostok, Tegaskan Strategisnya Hubungan Indonesia-Rusia
Prabowo Tiba di Rusia, Hadiri EEF ke-11 sebagai Tamu Kehormatan Utama
Prabowo Bertolak ke Rusia, Jadi Tamu Kehormatan Utama EEF Atas Undangan Putin
Gubernur Mirza Bersama Sekdaprov Marindo Tinjau Langsung Pelayanan Jemaah Ijtima Ulama
Menang Adu Pinalti, Argentina Juarai Piala Dunia 2022
Momen Haru Ridwan Kamil Dipeluk Warga Bern yang Selamatkan Adik Eril dari Arus Sungai Aare
Pencarian Anak Ridwan Kamil di Sungai Aare Terkendala Air Keruh, Ini Penjelasan Polisi Swiss
Berita ini 108 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 15:35 WIB

Indonesia–Rusia Perkuat Kemitraan Strategis, dari Investasi Pupuk hingga Perkapalan Mutakhir

Jumat, 4 September 2026 - 13:48 WIB

Prabowo-Putin Bertemu di Vladivostok, Tegaskan Strategisnya Hubungan Indonesia-Rusia

Rabu, 2 September 2026 - 18:29 WIB

Prabowo Tiba di Rusia, Hadiri EEF ke-11 sebagai Tamu Kehormatan Utama

Rabu, 2 September 2026 - 08:53 WIB

Prabowo Bertolak ke Rusia, Jadi Tamu Kehormatan Utama EEF Atas Undangan Putin

Minggu, 30 November 2025 - 18:42 WIB

Gubernur Mirza Bersama Sekdaprov Marindo Tinjau Langsung Pelayanan Jemaah Ijtima Ulama

Berita Terbaru