LampungCorner.com, PESAWARAN – Petani kakao di Kabupaten Pesawaran berpeluang meningkatkan pendapatan dengan memperbaiki kualitas hasil panen. Salah satu caranya melalui penggunaan alat pengering tenaga surya (solar dryer) yang dapat membantu petani menghasilkan kakao kering berkualitas sekaligus mendongkrak harga jual.
Penguatan hilirisasi komoditas kakao itu didorong melalui kolaborasi pemerintah, sektor swasta, dan lembaga jasa keuangan. Upaya tersebut diwujudkan lewat pemberdayaan desa wisata, pelatihan, penyerahan bantuan solar dryer, serta akselerasi pengembangan ekonomi daerah berbasis kakao di Pekon Ampai, Kecamatan Marga Punduh, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Bupati Pesawaran Nanda Indira, dan Wakil Bupati Antonius Muhammad Ali. Agenda itu juga dirangkaikan dengan kunjungan gubernur bersama tokoh adat Pekon Ampai yang dikenal sebagai desa wisata budaya.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, kakao merupakan salah satu komoditas strategis yang berpotensi menggerakkan perekonomian Pesawaran. Namun, potensi tersebut tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi. Penguatan proses pascapanen dan pengolahan juga diperlukan agar petani memperoleh nilai tambah lebih besar.
Salah satu persoalan yang masih dihadapi petani adalah keterbatasan fasilitas pengeringan, terutama ketika panen berlangsung pada musim hujan. Akibatnya, sebagian petani terpaksa menjual kakao dalam kondisi basah karena tidak memiliki sarana pengeringan yang memadai.
Kondisi tersebut berdampak pada harga jual yang diterima petani. Mirza menyebut, harga kakao basah dalam kondisi tertentu berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Setelah dikeringkan, harganya dapat mencapai Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.
Perbedaan harga itu menunjukkan bahwa penanganan pascapanen memegang peranan penting dalam meningkatkan nilai ekonomi kakao.
Karena itu, bantuan solar dryer dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) diharapkan menjadi solusi untuk membantu petani mengatasi kendala pengeringan. Teknologi berbasis tenaga surya tersebut juga diharapkan menjaga kualitas kakao agar lebih konsisten sepanjang tahun.
“Saya berharap Pekon Ampai dapat berkembang menjadi pusat pengembangan sekaligus produksi solar dryer yang dapat direplikasi dan didistribusikan ke sentra-sentra kakao lainnya di sepanjang pesisir Lampung. Langkah ini diharapkan memperluas pemanfaatan teknologi tepat guna sekaligus mendorong hilirisasi kakao dimulai dari tingkat desa,” kata Mirza.
Menurut dia, pengembangan kakao perlu diarahkan pada industri pengolahan yang lebih dekat dengan sentra produksi. Dengan begitu, masyarakat di daerah penghasil tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga terlibat dalam proses penciptaan nilai tambah.
Bupati Pesawaran Nanda Indira menyambut baik dukungan lintas sektor tersebut. Dia menilai bantuan solar dryer menjadi bentuk nyata tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) yang menyentuh kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal.
“Ini merupakan momentum yang sangat luar biasa bagi kita semua, khususnya bagi pergerakan ekonomi masyarakat di Kecamatan Marga Punduh. Bantuan solar dryer ini merupakan wujud nyata tanggung jawab sosial perusahaan yang langsung menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat kita,” ujar Nanda.
Dia mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) penerima manfaat agar menjaga serta merawat fasilitas tersebut secara bersama-sama. Dengan demikian, alat pengering dapat digunakan dalam jangka panjang dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi produktivitas usaha.
Nanda berharap bantuan itu menjadi langkah awal bagi hadirnya dukungan produktif lainnya untuk mempercepat kemandirian ekonomi masyarakat. Menurut dia, pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat sebagai pelaku utama kegiatan ekonomi.
“Kami sangat menghargai komitmen Pemerintah Provinsi Lampung yang terus berupaya mendekatkan masyarakat dengan pihak perusahaan. Sinergi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat seperti inilah yang menjadi kunci dalam memperkuat perekonomian daerah agar masyarakat semakin mandiri dan sejahtera,” tambahnya.
Bantuan solar dryer dari PNM disalurkan untuk mendukung pengembangan kakao di tiga desa, yakni Desa Sidodadi, Pekon Ampai, dan Desa Maja. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan membantu petani mengatasi kendala pengeringan, menjaga kualitas hasil panen, serta membuka peluang pengembangan usaha pengolahan kakao di tingkat lokal.
Potensi Besar, Ekosistem Usaha Diperkuat
Pelaksana Harian Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung Ety Eliati menyebut, Pesawaran memiliki lahan kakao sekitar 25.000,8 hektare dengan produksi mencapai sekitar 21.000 ton per tahun.
Potensi tersebut dinilai perlu ditopang ekosistem usaha yang terintegrasi. Penguatan tidak hanya dilakukan pada sektor budidaya dan pascapanen, tetapi juga mencakup pembiayaan, pengolahan, hingga pemasaran.
OJK mendorong pengembangan kakao melalui skema closed-loop, yakni ekosistem usaha yang menghubungkan sektor hulu dan hilir. Skema tersebut mencakup akses pembiayaan bagi petani, mitigasi risiko melalui lembaga penjamin, kepastian pasar dan harga melalui pembeli atau offtaker serta industri pengolahan, hingga pendampingan dari pemerintah daerah dan akademisi.
Dukungan pembiayaan juga disiapkan PNM. Pemimpin Regional 1 PNM Endang Nurjani, yang mewakili Direktur Utama PT PNM, menyampaikan bahwa perusahaan akan merealisasikan pembiayaan sebesar Rp318 juta kepada 50 debitur pelaku usaha tani kakao.
Pembiayaan itu diharapkan meningkatkan kapasitas usaha sekaligus mendorong kenaikan pendapatan petani.
Hingga September 2026, PNM tercatat memiliki sekitar 490 ribu nasabah di Provinsi Lampung dengan outstanding pembiayaan sekitar Rp2 triliun. Sementara itu, penyaluran pembiayaan sepanjang 2026 telah mencapai Rp2,04 triliun.
Khusus di Pesawaran, jumlah nasabah PNM Mekaar tercatat sebanyak 29.383 orang dengan outstanding pembiayaan sekitar Rp125,86 miliar. Operasional PNM di kabupaten tersebut didukung 11 cabang, 148 pendamping, dan 1.940 kelompok nasabah.
Melalui penguatan fasilitas pascapanen, akses pembiayaan, dan kemitraan usaha, pengembangan kakao di Pesawaran diharapkan tidak berhenti pada peningkatan produksi. Komoditas ini didorong naik kelas melalui pengolahan yang memberikan nilai tambah lebih besar bagi petani dan pelaku UMKM.
Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi langkah untuk membangun ekosistem kakao yang lebih kuat, sekaligus memastikan potensi perkebunan daerah memberikan manfaat lebih luas bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. (*)
Editor: Furkon Ari
















