BANDAR LAMPUNG – Aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan penurunan. Meski demikian, gunung api tersebut masih berstatus Siaga (Level III) dan tetap mengalami erupsi.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal melakukan pemantauan visual secara langsung terhadap kondisi Gunung Anak Krakatau dari KRI Lepu-861, Rabu (9/9/2026). Kapal tersebut mendekat hingga sekitar 1,2 mil atau kurang lebih 3 kilometer dari gunung api tersebut.
Berdasarkan hasil pemantauan, frekuensi dan intensitas erupsi mulai berkurang dibandingkan tiga hari sebelumnya. Interval erupsi juga semakin panjang, sementara secara visual aktivitas gunung lebih banyak ditandai dengan keluarnya asap berwarna putih.
“Dari hasil pemantauan Gunung Anak Krakatau hari ini masih erupsi dan statusnya Siaga III. Namun, secara visual aktivitasnya mulai menurun dibanding tiga hari sebelumnya,” ujar Mirza saat memberikan keterangan di Pusdalops BPBD Lampung, Rabu (9/9/2026).
Menurut Mirza, penurunan aktivitas tersebut terlihat dari berkurangnya frekuensi dan intensitas material yang keluar dari gunung api. Jeda waktu antarerupsi pun semakin panjang.
“Frekuensi dan intensitas keluarnya material magma juga sudah sangat berkurang. Intervalnya semakin lebar dan visual yang terlihat juga sudah banyak asap putih,” katanya.
Meski demikian, Mirza menegaskan bahwa penurunan aktivitas secara visual tidak serta-merta menandakan erupsi telah berakhir. Kepastian mengenai berakhirnya erupsi masih bergantung pada perkembangan aktivitas gunung api dan suplai magma.
“Menurunnya aktivitas bukan berarti erupsi sudah berakhir. Kita juga belum dapat memastikan erupsi berakhir. Ini sangat bergantung pada aktivitas gunung dan suplai magma,” tegasnya.
Dari hasil pengamatan, tubuh Gunung Anak Krakatau juga terlihat cenderung melebar secara horizontal. Sementara itu, arah angin pada Rabu (9/9/2026) bergerak ke barat laut.
Abu vulkanik dengan intensitas relatif tipis dilaporkan telah mencapai wilayah Bandar Lampung dan sekitarnya. Meski kondisi kualitas udara dan konsentrasi partikel debu di sejumlah wilayah kabupaten berangsur membaik, masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan perubahan aktivitas gunung api.
Mirza mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tetapi tidak lengah. Ia juga meminta masyarakat, khususnya pengguna transportasi laut, untuk tidak mendekati sektor yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya sesuai arahan pihak berwenang.
“Untuk itu saya mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, jangan lengah. Penggunaan transportasi di laut juga diminta untuk tidak mendekati sektor sesuai arahan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi kualitas udara yang berangsur membaik membuat aktivitas masyarakat secara umum mulai dapat berjalan dengan lebih aman.
Namun, kewaspadaan harus tetap dijaga mengingat Gunung Anak Krakatau masih berstatus Siaga III.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan dan koordinasi untuk memastikan keselamatan masyarakat, terutama warga yang tinggal di wilayah pesisir dan sekitar pantai.
Langkah antisipasi juga ditingkatkan, antara lain dengan memeriksa jalur-jalur evakuasi serta mengingatkan masyarakat agar menyiapkan masker untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik.
Mirza turut menyampaikan apresiasi kepada jajaran TNI Angkatan Laut yang selama tiga hari terakhir membantu Pemprov Lampung melakukan pengamatan visual terhadap Gunung Anak Krakatau. Sebelumnya, pemantauan dilakukan secara virtual, sedangkan kini pengamatan dapat dilakukan secara langsung dari laut.
“Terima kasih kepada rekan-rekan TNI AL yang selama tiga hari ini telah membantu pengamatan secara visual bersama Pemprov Lampung,” katanya.
Mirza kembali menegaskan, meskipun aktivitas Gunung Anak Krakatau secara visual mulai menurun, statusnya masih Siaga III. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan potensi bahaya dan senantiasa mengikuti informasi serta arahan resmi dari pihak berwenang.
“Gunung Anak Krakatau masih erupsi dan statusnya tetap Siaga,” pungkasnya. (*)
















