LampungCorner.com, SERANG – Limbah kayu yang kerap dipandang tak bernilai, justru menjadi sumber inspirasi dan peluang usaha bagi Rahmat, pengrajin asal Banten. Melalui brand kerajinan lokal Hokay Kaywood, ia mengusung filosofi “Embracing Nature, Crafting Culture” dengan menghadirkan produk-produk bernilai tinggi berbahan dasar sisa kayu.
Berbekal ketekunan dan kreativitas, Rahmat memanfaatkan limbah kayu sonokeling, jati, serta kayu campuran untuk diolah menjadi beragam produk fungsional. Di tangannya, sisa potongan kayu itu disulap menjadi jam tangan kayu eksklusif, talenan, dudukan handphone, passive speaker, hingga gantungan ID card yang memiliki nilai estetika sekaligus fungsi.
Usaha kerajinan Hokay Kaywood telah dirintis selama kurang lebih satu dekade. Galeri sekaligus pusat produksinya berlokasi di Kampung Ciekek, Babakan Keraton, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Untuk produk jam tangan kayu, Hokay Kaywood mematok harga mulai dari Rp500 ribu hingga Rp800 ribu per unit. Harga tersebut sebanding dengan kualitas material dan ketahanan kayu yang digunakan.
“Material kayu yang kami pilih memiliki daya tahan yang baik dan mampu bersaing dengan jam tangan pada umumnya,” ujar Rahmat saat turut meramaikan Pentas Budaya Hiburan dan Pameran UMKM dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) di Alun-Alun Pancaniti, KP3 Serang, Sabtu (7/2/2026).
Dalam memasarkan produknya, Hokay Kaywood memanfaatkan berbagai platform digital seperti Instagram, TikTok, serta marketplace Shopee. Selain itu, Rahmat juga aktif mengikuti berbagai kegiatan bazar sebagai sarana promosi sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Dengan memadukan kepedulian lingkungan, kearifan lokal, dan sentuhan kreativitas, Hokay Kaywood membuktikan bahwa limbah kayu dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. (*)
















