Di Balik Mitos Gunung Kawi, Warisan Sejarah, Budaya, dan Toleransi yang Terus Hidup

- Jurnalis

Kamis, 9 Juli 2026 - 14:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gunung Kawi
Foto: Ist

Gunung Kawi Foto: Ist

Lampungcorner.com – Nama Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah lama dikenal luas di masyarakat. Sebagian orang mengenalnya melalui berbagai mitos, termasuk cerita tentang pesugihan.

Namun, kajian akademik menunjukkan bahwa Gunung Kawi menyimpan makna yang jauh lebih luas sebagai kawasan wisata religi yang kaya akan nilai sejarah, budaya, dan toleransi.

Kompleks Pesarean Gunung Kawi menjadi salah satu tujuan utama ziarah. Di tempat ini dimakamkan Kyai Zakaria II atau Eyang Jugo serta Raden Mas Imam Soedjono, dua tokoh yang dihormati karena perannya dalam penyebaran Islam dan perjuangan melawan penjajahan.

Hingga kini, kawasan tersebut tidak pernah sepi dari peziarah yang datang untuk berdoa, mengenang jasa para tokoh, sekaligus mencari ketenangan batin.

Penelitian berjudul “The Relation of Community Values and Norms to the Practice of Pilgrimage in Mount Kawi, Indonesia” yang dipublikasikan dalam BELIEF: Sociology of Religion Journal Volume 1 Nomor 1 Tahun 2023 mengungkap bahwa praktik ziarah di Gunung Kawi tidak hanya berkaitan dengan aspek religius.

Baca Juga :  Dari Kebun ke Cangkir, Wonosari Buka Wisata Edukasi Teh

Aktivitas tersebut juga membentuk relasi sosial, identitas budaya, serta memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat.

Melalui pendekatan kualitatif berupa wawancara dan observasi terhadap masyarakat dan peziarah, penelitian tersebut menemukan beragam motivasi kunjungan.

Ada yang datang untuk menjalankan tradisi, memperdalam spiritualitas, menghormati tokoh, hingga sekadar menikmati wisata religi dan budaya.

Keunikan Gunung Kawi juga tampak dari keberagaman budaya yang hidup berdampingan. Di kawasan pesarean tidak hanya terdapat makam tokoh Islam, tetapi juga tempat ibadah yang digunakan oleh masyarakat keturunan Tionghoa.

Harmoni ini telah terjalin selama puluhan tahun dan menjadikan Gunung Kawi sebagai ruang perjumpaan berbagai latar belakang budaya dan keyakinan.

Di sisi lain, citra Gunung Kawi sebagai tempat yang dikaitkan dengan pesugihan masih melekat di sebagian masyarakat. Cerita-cerita tersebut berkembang melalui tradisi lisan maupun media populer.

Dalam kajian ilmiah, narasi tersebut dipandang sebagai bagian dari folklor, yakni kepercayaan yang tumbuh sebagai fenomena sosial dan budaya.

Baca Juga :  Hujan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga Pematang Sawa Tanggamus

Selain nilai spiritual dan budaya, aktivitas ziarah di Gunung Kawi juga berdampak pada ekonomi masyarakat sekitar. Kehadiran peziarah mendorong tumbuhnya berbagai usaha, mulai dari penginapan, rumah makan, toko oleh-oleh, penjualan bunga tabur, hingga jasa transportasi lokal.

Lebih jauh, tradisi ziarah turut memperkuat identitas sosial dan rasa kebersamaan. Norma yang berkembang mengajarkan pengunjung untuk menjaga sikap, berpakaian sopan, saling menghormati, serta menjaga ketertiban selama berada di kawasan pesarean.

Dengan berbagai fakta tersebut, Gunung Kawi tidak dapat dipahami semata melalui cerita mistis yang berkembang. Kawasan ini merupakan destinasi wisata religi yang merepresentasikan sejarah panjang, keberagaman budaya, serta nilai toleransi yang tetap hidup hingga kini.

Pendekatan berbasis penelitian ilmiah memberi perspektif yang lebih utuh dalam melihat Gunung Kawi sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. (*)

Berita Terkait

Dari Kebun ke Cangkir, Wonosari Buka Wisata Edukasi Teh
Rahmat Erwin Ukir Rekor Dunia, Indonesia Tambah Emas di Asian Games 2026
Truk Diduga Rem Blong, Kecelakaan Beruntun Terjadi di Depan Baitul Jannah
Kecelakaan Maut di SPBU Natar, Pengendara Motor Tewas di Tengah Antrean Solar
Hujan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga Pematang Sawa Tanggamus
Tarik Wisatawan, Festival Krakatau 2026 Disiapkan dalam Konsep Paket Wisata
Festival Krakatau 2026 Siap Digelar, Pemprov Gandeng Sponsor dan Perbankan
Konsep Festival Krakatau 2026 Harus Baru, DPRD Minta Tinggalkan Pola Lama
Berita ini 102 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Dari Kebun ke Cangkir, Wonosari Buka Wisata Edukasi Teh

Sabtu, 26 September 2026 - 18:31 WIB

Rahmat Erwin Ukir Rekor Dunia, Indonesia Tambah Emas di Asian Games 2026

Selasa, 22 September 2026 - 13:04 WIB

Truk Diduga Rem Blong, Kecelakaan Beruntun Terjadi di Depan Baitul Jannah

Selasa, 22 September 2026 - 12:12 WIB

Kecelakaan Maut di SPBU Natar, Pengendara Motor Tewas di Tengah Antrean Solar

Sabtu, 5 September 2026 - 18:50 WIB

Hujan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga Pematang Sawa Tanggamus

Berita Terbaru

Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras saat melakukan kunjungan kerja ke Afdeling Plalangan, Kebun Kopi Ijen, pada 14–15 Oktober 2026.

BISNIS

PTPN I Genjot Hilirisasi Kopi Ijen, Bidik Pasar Ekspor

Sabtu, 17 Okt 2026 - 16:13 WIB

BANDAR LAMPUNG

Pleno Terakhir PWI Lampung, Konferprov Digelar 1 Desember

Jumat, 16 Okt 2026 - 17:07 WIB

Penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) oleh Ketua Umum PWI Akhmad Munir dan Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily di Kantor Lemhannas RI, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Foto: Humas PWI

Lampungcorner.com

PWI-Lemhannas Teken MoU, Perkuat Peran Pers Jaga Ketahanan Nasional

Kamis, 15 Okt 2026 - 22:15 WIB