Lampungcorner.com – Nama Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah lama dikenal luas di masyarakat. Sebagian orang mengenalnya melalui berbagai mitos, termasuk cerita tentang pesugihan.
Namun, kajian akademik menunjukkan bahwa Gunung Kawi menyimpan makna yang jauh lebih luas sebagai kawasan wisata religi yang kaya akan nilai sejarah, budaya, dan toleransi.
Kompleks Pesarean Gunung Kawi menjadi salah satu tujuan utama ziarah. Di tempat ini dimakamkan Kyai Zakaria II atau Eyang Jugo serta Raden Mas Imam Soedjono, dua tokoh yang dihormati karena perannya dalam penyebaran Islam dan perjuangan melawan penjajahan.
Hingga kini, kawasan tersebut tidak pernah sepi dari peziarah yang datang untuk berdoa, mengenang jasa para tokoh, sekaligus mencari ketenangan batin.
Penelitian berjudul “The Relation of Community Values and Norms to the Practice of Pilgrimage in Mount Kawi, Indonesia” yang dipublikasikan dalam BELIEF: Sociology of Religion Journal Volume 1 Nomor 1 Tahun 2023 mengungkap bahwa praktik ziarah di Gunung Kawi tidak hanya berkaitan dengan aspek religius.
Aktivitas tersebut juga membentuk relasi sosial, identitas budaya, serta memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat.
Melalui pendekatan kualitatif berupa wawancara dan observasi terhadap masyarakat dan peziarah, penelitian tersebut menemukan beragam motivasi kunjungan.
Ada yang datang untuk menjalankan tradisi, memperdalam spiritualitas, menghormati tokoh, hingga sekadar menikmati wisata religi dan budaya.
Keunikan Gunung Kawi juga tampak dari keberagaman budaya yang hidup berdampingan. Di kawasan pesarean tidak hanya terdapat makam tokoh Islam, tetapi juga tempat ibadah yang digunakan oleh masyarakat keturunan Tionghoa.
Harmoni ini telah terjalin selama puluhan tahun dan menjadikan Gunung Kawi sebagai ruang perjumpaan berbagai latar belakang budaya dan keyakinan.
Di sisi lain, citra Gunung Kawi sebagai tempat yang dikaitkan dengan pesugihan masih melekat di sebagian masyarakat. Cerita-cerita tersebut berkembang melalui tradisi lisan maupun media populer.
Dalam kajian ilmiah, narasi tersebut dipandang sebagai bagian dari folklor, yakni kepercayaan yang tumbuh sebagai fenomena sosial dan budaya.
Selain nilai spiritual dan budaya, aktivitas ziarah di Gunung Kawi juga berdampak pada ekonomi masyarakat sekitar. Kehadiran peziarah mendorong tumbuhnya berbagai usaha, mulai dari penginapan, rumah makan, toko oleh-oleh, penjualan bunga tabur, hingga jasa transportasi lokal.
Lebih jauh, tradisi ziarah turut memperkuat identitas sosial dan rasa kebersamaan. Norma yang berkembang mengajarkan pengunjung untuk menjaga sikap, berpakaian sopan, saling menghormati, serta menjaga ketertiban selama berada di kawasan pesarean.
Dengan berbagai fakta tersebut, Gunung Kawi tidak dapat dipahami semata melalui cerita mistis yang berkembang. Kawasan ini merupakan destinasi wisata religi yang merepresentasikan sejarah panjang, keberagaman budaya, serta nilai toleransi yang tetap hidup hingga kini.
Pendekatan berbasis penelitian ilmiah memberi perspektif yang lebih utuh dalam melihat Gunung Kawi sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. (*)
















