Modernisasi Pertanian Jadi Kunci, Jihan Dorong Produktivitas dan Kesejahteraan Petani Lampung

- Jurnalis

Rabu, 30 September 2026 - 17:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

METRO – Wakil Gubernur (Wagub) Lampung Jihan Nurlela menegaskan pentingnya modernisasi dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendongkrak pendapatan dan kesejahteraan petani.

Hal itu disampaikan Jihan saat mengikuti Gerakan Tanam Padi Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) serentak secara nasional di Kelurahan Yosomulyo, Kecamatan Metro Pusat, Rabu (30/9/2026).

Jihan mengatakan, sektor pertanian masih menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Provinsi Lampung. Dari total produk domestik regional bruto (PDRB) Lampung yang menembus lebih dari Rp500 triliun, hampir 28 persen di antaranya ditopang sektor pertanian. Sektor ini juga menyerap sekitar 44 persen tenaga kerja.

“Sebanyak 44 persen masyarakat kita bekerja di bidang pertanian, perikanan, dan hortikultura. Jika sektor ini menjadi fokus perhatian, terutama dalam peningkatan kesejahteraan dan produktivitas, insya Allah Lampung akan semakin maju dan sejahtera,” ujar Jihan.

Menurut dia, penerapan PM-AAS tidak boleh sekadar dimaknai sebagai penggunaan mesin atau teknologi baru di lahan pertanian. Lebih dari itu, modernisasi harus mampu menekan biaya produksi, meningkatkan hasil panen, serta memperbesar keuntungan yang diterima petani.

“Pentingnya PM-AAS sebagai salah satu instrumen modernisasi pertanian bukan sekadar menghadirkan mesin atau teknologi baru ke sawah. Namun, bagaimana efisiensi biaya pertanian bisa meningkat, produktivitas bertambah, dan margin keuntungan petani menjadi lebih besar,” jelasnya.

Jihan mencontohkan keberhasilan penerapan PM-AAS di Kabupaten Lampung Tengah pada lahan seluas 100 hektare yang dikelola 77 petani. Program percontohan tersebut dilaporkan mampu menghasilkan panen hingga 11,2 ton per hektare.

Sementara itu, produksi padi Lampung pada tahun sebelumnya mencapai 3,2 juta ton. Capaian tersebut menempatkan Lampung dalam posisi surplus beras secara nasional.

Untuk menjaga keberlanjutan produksi dan memperkuat ekosistem pangan dari hulu hingga hilir, Pemerintah Provinsi Lampung terus melakukan sejumlah intervensi. Di antaranya melalui pemberian pupuk hayati cair untuk menjaga kesuburan tanah, penyediaan mesin pengering gabah atau bed dryer, serta penguatan peran badan usaha milik desa (BUMDes) dan koperasi desa.

Baca Juga :  Lampung Benahi Tata Niaga Beras, KDMP Didorong Jadi Penyerap Gabah Petani

Langkah tersebut diharapkan dapat memperpendek rantai tata niaga hasil panen sehingga petani memiliki lebih banyak pilihan dalam mengelola dan memasarkan hasil pertaniannya.

“Saya berharap bantuan dan kegiatan hari ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani, khususnya di Kota Metro dan seluruh Provinsi Lampung,” kata Jihan.

Produktivitas Padi Ditargetkan Melonjak

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Hubungan Kelembagaan, Regulasi, dan Reformasi Birokrasi, Tin Latifah, menegaskan bahwa capaian swasembada pangan harus dijaga melalui konsistensi program dan inovasi pertanian.

Tin mengatakan, percepatan pencapaian swasembada pangan yang semula ditargetkan dalam empat tahun, kemudian dipersingkat menjadi tiga tahun hingga satu tahun, merupakan capaian yang perlu dipertahankan.

“Bapak Presiden menginginkan kita swasembada pangan. Awalnya ditargetkan empat tahun, kemudian dipersingkat menjadi tiga tahun, lalu menjadi satu tahun. Alhamdulillah, itu tercapai,” ujarnya.

Menurut Tin, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi petani, penyuluh, dan pemerintah daerah. Namun, tantangan iklim ekstrem pada 2026 menuntut terobosan baru agar produktivitas padi tidak terus stagnan.

Ia mengungkapkan, produktivitas padi nasional dalam kurun waktu yang panjang cenderung bertahan di kisaran 5 hingga 5,3 ton per hektare. Karena itu, diperlukan lompatan teknologi untuk meningkatkan hasil panen secara signifikan.

“Produktivitas padi kita sejak 2010 stagnan di angka 5 ton, 5,1 ton, 5,2 ton, hingga terakhir 5,3 ton. Kita harus punya lompatan teknologi dan berpikir di luar kebiasaan,” kata Tin.

Ia menyebutkan, penerapan PM-AAS di sejumlah provinsi menunjukkan hasil panen di atas 10 ton per hektare. Di Lampung Tengah, hasil panen dilaporkan mencapai 10 hingga 12 ton per hektare, dengan rata-rata di kisaran 11 ton.

“Jadi, ini bukan angan-angan. Hasilnya sudah terealisasi,” tegasnya.

Tin juga memaparkan proyeksi Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) yang memperkirakan produksi beras Indonesia pada 2026 berpotensi mencapai 38,6 juta ton dan menempatkan Indonesia dalam jajaran empat besar dunia.

Baca Juga :  Anak Krakatau Masih Erupsi, Mirza: Jangan Lengah!

Untuk mendongkrak produktivitas, Kementerian Pertanian menargetkan penerapan PM-AAS pada lahan seluas satu juta hektare secara nasional pada 2026. Target tersebut akan diperluas menjadi tiga juta hektare pada 2027.

Khusus di Provinsi Lampung, program PM-AAS dialokasikan untuk lahan seluas 35.100 hektare. Pada tahap awal, target pertanaman September ditetapkan seluas 2.500 hektare dan akan terus dikejar hingga akhir tahun.

Stok Beras Diklaim Aman hingga 10 Bulan

Tin menyatakan cadangan beras nasional berada dalam kondisi kuat. Menurut dia, stok yang memadai selama 10 bulan ke depan diharapkan menjaga pasokan dalam negeri sekaligus mengurangi kebutuhan impor beras.

“Selama 10 bulan ke depan, insya Allah stok beras masih aman. Ketika stok kita aman, Indonesia tidak melakukan impor beras dan dampaknya harga beras nasional langsung turun,” paparnya.

Ia menegaskan, pemenuhan kebutuhan pangan secara mandiri menjadi bagian penting dari upaya memperkuat kedaulatan pangan nasional.

Tin juga menyoroti percepatan luas tambah tanam (LTT) pada September sebagai salah satu momentum penting dalam menjaga ketersediaan beras. Padi yang ditanam pada akhir musim tanam tersebut diproyeksikan dapat dipanen pada Desember hingga Januari.

Dengan demikian, produksi dalam negeri diharapkan mampu mencukupi kebutuhan beras pada 2027 tanpa harus bergantung pada impor.

Untuk memastikan pelaksanaan PM-AAS berjalan optimal, Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Provinsi Lampung juga meminta pengawalan terhadap sejumlah faktor pendukung produksi.

Ketersediaan air irigasi akan dikoordinasikan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), keandalan pasokan listrik untuk mendukung modernisasi pertanian bersama PLN, serta kelancaran distribusi pupuk bersubsidi bersama PT Pupuk Indonesia.

Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah keterlambatan pasokan sarana produksi sehingga petani dapat menjalankan kegiatan pertanian secara optimal dan meningkatkan hasil panen. (*)

Berita Terkait

Presiden PKS Bakal Hadiri Pesta Rakyat Petani di Pringsewu, Riyono: Bukti Keberpihakan
DPRD Lampura Gelar Paripurna Propemperda 2026/2027, Perkuat Kepastian Hukum
Ela Siti Nuryamah: 227 Pesantren Jadi Pilar Pembangunan Lamtim
Desa Sungai Langka Jadi Desa Tapis, Perempuan Didorong Makin Berdaya
Petakan Kompetensi 295 Pejabat, Lampura Bersiap Terapkan Manajemen Talenta
Sekda Lamtim Konfirmasi Isu Plt Kadis PUPR Jarang Masuk Kantor, Ini Hasilnya
Diduga Jarang Ngantor, Sekda Lamtim Bakal Panggil Plt Kadis PUPR
Target PAD Rp315 Miliar, Bapenda Lamtim Perkuat Digitalisasi dan Gandeng Pers
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 19:20 WIB

Presiden PKS Bakal Hadiri Pesta Rakyat Petani di Pringsewu, Riyono: Bukti Keberpihakan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:46 WIB

DPRD Lampura Gelar Paripurna Propemperda 2026/2027, Perkuat Kepastian Hukum

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:23 WIB

Ela Siti Nuryamah: 227 Pesantren Jadi Pilar Pembangunan Lamtim

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:26 WIB

Desa Sungai Langka Jadi Desa Tapis, Perempuan Didorong Makin Berdaya

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:06 WIB

Petakan Kompetensi 295 Pejabat, Lampura Bersiap Terapkan Manajemen Talenta

Berita Terbaru

LC TV Story

Prabowo Targetkan 700 BUMN Merugi Ditutup hingga Desember 2026

Jumat, 23 Okt 2026 - 08:28 WIB