LAMPUNGCORNER.COM, Tubaba–Diera kecanggihan teknologi masa kini, tentu tidak dapat menyamai critical thinking atau cara berpikir kritis yang dimiliki oleh manusia.
Hal itu tergambarkan dalam sebuah naskah film Heart of Stone, berkisah tentang Rachel Stone saat melakukan misi penyamaran dari organisasi yang menaunginya, yakni Charter.
Selama menjalankan tugasnya, Rachel selalu dipandu dengan bantuan teknologi super canggih bernama Heart, yang bisa mengendalikan apapun yang ada di Bumi. The Heart adalah AI paling kuat di dunia.
Dalam film Heart of Stone teknologi informasi berupa artificial intelligence (Heart) merupakan salah satu elemen utama yang membentuk alur cerita menggambarkan konflik perebutan Heart serta memberikan karakter seperti Rachel Stone keunggulan dalam pelaksanaan misi untuk mencapai perdamaian dunia.
Menurut Jenita Agma Putri. Mahasiswi semester V pada Universitas lampung (Unila), jurusan ilmu pemerintahan fakultas ilmu sosial dan politik mengatakan. Pada film ini teknologi Informasi dipakai untuk menghadirkan elemen aksi yang lebih dramatis dan kompleks sehingga menciptakan konflik yang menarik dan mempertimbangkan bagaimana teknologi informasi dapat digunakan untuk tujuan baik maupun jahat.
“Naskah film ini merupakan bagian tugas mata kuliah teknologi Informasi Pemerintahan” Kata Jenita, kepada lampungcorner.com via whatsapp pada (8/10/2023).
Kemudian dalam skenario film ini juga ditunjukkan bagaimana kekhawatiran perkembangan teknologi di dunia bisa memusnahkan umat manusia apabila jatuh ke tangan yang salah.
“film ini sangat berkaitan dengan teknologi informasi karena mengingat Heart memiliki kemampuan untuk mencatat (record), menyimpan (storage), mengolah (proses), mengambil kembali (retrieve), mengirim (transmit), dan menerima (receive)” Terangnya.
Hal tersebut kata dia, tergambarkan pada adegan ketika Stone meminta Jack memberikan data perkiraan strategi, di mana kemudian Jack membuka data-data yang sudah tercatat dan tersimpan sebelumnya.
“Kelebihan pada film ini Pertama, cerita film ini sangat kompleks dan penuh dengan kejutan. Rachel harus menghadapi berbagai rintangan dan musuh yang kuat dalam upayanya mengambil kembali Heart yang telah dicuri atas kesalahannya yang percaya kepada rekannya” Ungkapnya.
Dalam film tersebut karakter Rachel diperankan dengan sangat baik, menggambarkan keahliannya sebagai seorang mata-mata yang tangguh dan cerdas. Akting yang kuat ini membuat penonton terhubung dengan perjalanan emosional Rachel dan ikut merasakan ketegangan yang dialaminya.
“Film ini juga mengambil lokasi syuting di beberapa tempat yang menarik, seperti Lisbon, pegunungan alpen italia dan Berlin. Lokasi-lokasi ini digambarkan dengan sangat indah nan memukau” Jelasnya.
Tentunya, kecanggihan teknologi yang dipakai dalam film Heart Of Stone memiliki keterkaitan dengan teknologi pemerintahan dalam memberikan pelayanan publik di dunia nyata. Kemudian, kekurangan dalam film ini yakni pada ekspektasi yang dilihat di awal film berubah seketika dan menurunkan ketegangan pada saat menonton film tersebut.
Karakter keya yang pada awalnya dianggap “misterius dan kuat” pun akhirnya hilang karena pembawaan alur film nya terlalu cepat. Karakter keya yang langsung berubah menjadi “tidak konsisten dan penakut” membuat penonton dengan mudahnya bisa menebak alur akhir dari filmnya.
“Pesan yang dapat diambil dari film Heart of Stone ini adalah, secanggih apapun teknologi tetap saja tidak dapat menggantikan keputusan manusia” Imbuhnya.
Lanjut dia, teknologi tidak akan dapat menggantikan critical thinking atau cara berpikir kritis yang dimiliki oleh manusia. Terlebih insting hanya dapat dirasakan ketika seseorang yang mengalami sebuah reaksi pada sesuatu yang menyebabkan rangsangan untuk mempengaruhi pola pikir seseorang. (*)










