Film Heart Of Stone Menggambarkan Kecanggihan Teknologi Tidak Dapat Menyamai Manusia 

- Jurnalis

Minggu, 8 Oktober 2023 - 20:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LAMPUNGCORNER.COM, Tubaba–Diera kecanggihan teknologi masa kini, tentu tidak dapat menyamai critical thinking atau cara berpikir kritis yang dimiliki oleh manusia.

Hal itu tergambarkan dalam sebuah naskah film Heart of Stone, berkisah tentang Rachel Stone saat melakukan misi penyamaran dari organisasi yang menaunginya, yakni Charter.

Selama menjalankan tugasnya, Rachel selalu dipandu dengan bantuan teknologi super canggih bernama Heart, yang bisa mengendalikan apapun yang ada di Bumi. The Heart adalah AI paling kuat di dunia. 

Dalam film Heart of Stone  teknologi informasi berupa artificial intelligence (Heart) merupakan salah satu elemen utama yang membentuk alur cerita  menggambarkan konflik perebutan Heart serta memberikan karakter seperti Rachel Stone keunggulan dalam pelaksanaan misi untuk mencapai perdamaian dunia.

Menurut Jenita Agma Putri. Mahasiswi semester V pada Universitas lampung (Unila), jurusan ilmu pemerintahan fakultas ilmu sosial dan politik mengatakan. Pada film ini teknologi Informasi dipakai untuk  menghadirkan elemen aksi yang lebih dramatis dan kompleks sehingga menciptakan konflik yang menarik dan mempertimbangkan bagaimana teknologi informasi dapat digunakan untuk tujuan baik maupun jahat. 

“Naskah film ini merupakan bagian tugas mata kuliah teknologi Informasi Pemerintahan” Kata Jenita, kepada lampungcorner.com via whatsapp pada (8/10/2023). 

Baca Juga :  Merajut Transparansi, Menghadirkan Solusi, Satu Tahun Kepemimpinan Olpin Putra di BPKAD Pringsewu

Kemudian dalam skenario film ini juga ditunjukkan bagaimana kekhawatiran perkembangan teknologi di dunia bisa memusnahkan umat manusia apabila jatuh ke tangan yang salah. 

“film ini sangat berkaitan dengan teknologi informasi karena mengingat Heart memiliki kemampuan untuk mencatat (record), menyimpan (storage), mengolah (proses), mengambil kembali (retrieve), mengirim (transmit), dan menerima (receive)” Terangnya. 

Hal tersebut kata dia, tergambarkan pada adegan ketika Stone meminta Jack memberikan data perkiraan strategi, di mana kemudian Jack membuka data-data yang sudah tercatat dan tersimpan sebelumnya. 

“Kelebihan pada film ini Pertama, cerita film ini sangat kompleks dan penuh dengan kejutan. Rachel harus menghadapi berbagai rintangan dan musuh yang kuat dalam upayanya mengambil kembali Heart yang telah dicuri atas kesalahannya yang percaya kepada rekannya” Ungkapnya. 

Dalam film tersebut karakter Rachel diperankan dengan sangat baik, menggambarkan keahliannya sebagai seorang mata-mata yang tangguh dan cerdas. Akting yang kuat ini membuat penonton terhubung dengan perjalanan emosional Rachel dan ikut merasakan ketegangan yang dialaminya.

“Film ini juga mengambil lokasi syuting di beberapa tempat yang menarik, seperti Lisbon, pegunungan alpen italia dan Berlin. Lokasi-lokasi ini digambarkan dengan sangat indah nan memukau” Jelasnya. 

Baca Juga :  Penerima Manfaat Keracunan, Ketua Karang Taruna Tegineneng Minta DPRD dan Pemda Pesawaran Evaluasi SPPG Trimulyo

Tentunya, kecanggihan teknologi yang dipakai dalam film Heart Of Stone memiliki keterkaitan dengan teknologi pemerintahan dalam memberikan pelayanan publik di dunia nyata. Kemudian, kekurangan dalam film ini yakni pada ekspektasi yang dilihat di awal film berubah seketika dan menurunkan ketegangan pada saat menonton film tersebut. 

Karakter keya yang pada awalnya dianggap “misterius dan kuat” pun akhirnya hilang karena pembawaan alur film nya terlalu cepat. Karakter  keya yang langsung berubah menjadi “tidak konsisten dan penakut” membuat penonton dengan mudahnya bisa menebak alur akhir dari filmnya. 

“Pesan yang dapat diambil dari film Heart of Stone ini adalah, secanggih apapun teknologi tetap saja tidak dapat menggantikan keputusan manusia” Imbuhnya. 

Lanjut dia, teknologi tidak akan dapat menggantikan critical thinking atau cara berpikir kritis yang dimiliki oleh manusia. Terlebih insting hanya dapat dirasakan ketika seseorang yang mengalami sebuah reaksi pada sesuatu yang menyebabkan rangsangan untuk mempengaruhi pola pikir seseorang. (*) 

 

Berita Terkait

Alfan Rois Apresiasi Satu Tahun Kepemimpinan Nanda-Anton, Dorong Percepatan Program Masyarakat
Launching Tim Bhayangkara Lampung Gratis, 4.000 Jersey Dibagikan
Pendamping Sosial Apresiasi dan Dukung GERCEP Kecamatan Tegineneng
Lewat GERCEP, Kecamatan Tegineneng Percepat Penanganan Warga Rentan
Transparansi Keuangan Pringsewu, BPKAD Rilis Update Posisi RKUD, Saldo Kas Capai Rp20 Miliar, Zero Belanja Tak Terduga
Merajut Transparansi, Menghadirkan Solusi, Satu Tahun Kepemimpinan Olpin Putra di BPKAD Pringsewu
MTsN 2 Pesawaran Tuan Rumah Peringatan Hari Anak Nasional 2026
Danbrigif 4 Mar/BS Perkuat Kolaborasi Pertahanan Melalui Audiensi kepada Pangdam XXI/RI
Berita ini 463 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:14 WIB

Alfan Rois Apresiasi Satu Tahun Kepemimpinan Nanda-Anton, Dorong Percepatan Program Masyarakat

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:52 WIB

Launching Tim Bhayangkara Lampung Gratis, 4.000 Jersey Dibagikan

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:11 WIB

Pendamping Sosial Apresiasi dan Dukung GERCEP Kecamatan Tegineneng

Selasa, 25 Agustus 2026 - 18:36 WIB

Lewat GERCEP, Kecamatan Tegineneng Percepat Penanganan Warga Rentan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:40 WIB

Transparansi Keuangan Pringsewu, BPKAD Rilis Update Posisi RKUD, Saldo Kas Capai Rp20 Miliar, Zero Belanja Tak Terduga

Berita Terbaru