LAMPUNGCORNER.COM, Lampung Timur — Produktivitas sapi sangat bervariasi dan cukup tanggap terhadap perubahan lingkungan. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan potensi sapi melalui persilangan dengan berbagai bangsa sapi lainnya.
Program persilangan yang tidak terarah dan tidak disertai seleksi yang baik menyebabkan peningkatan produksi tidak tercapai, bahkan seringkali menimbulkan gangguan reproduksi. Di samping itu, kebijakan pemerintah mengurangi impor terhadap sapi bakalan dan daging menyebabkan pemotongan sapi lokal meningkat.
Demikian disampaikan Ketua Pelaksana Program Pendampingan Desa Mitra Unila Dr. Kusuma Adhianto dalam kegiatan Program Pendampingan Desa Mitra yang dilaksanakan di Desa Rantau Fajar, Kecamatan Raman Utara, Lampung Timur.
Ia menjelaskan, salah satu upaya perbaikan produktivitas sapi dapat dilakukan melalui peningkatan efisiensi reproduksinya. Di antaranya dengan cara memperbanyak jumlah kelahiran pedet, memperpendek jarak beranak, memperpanjang masa produktif induk, dan mengoptimalkan manajemen perkawinan untuk menyiapkan bakalan dalam jumlah yang cukup.
Menurutnya, banyak faktor yang memengaruhi efisiensi reproduksi. Meliputi faktor eksternal seperti manajemen penyapihan pedet; kualitas ransum dan keterbatasan dalam penggunaan straw unggul; ketinggian tempat dan faktor internal seperti bangsa sapi, dan kondisi induk.
Ia menerangkan, keberhasilan usaha pembibitan sapi potong salah satunya ditentukan oleh keberhasilan reproduksi. Apabila pengelolaan reproduksi ternak dilakukan dengan tepat, maka akan menghasilkan kinerja reproduksi yang baik. Yaitu peningkatan angka kebuntingan dan jumlah kelahiran pedet.
“Tetapi masalah yang masih sering dijumpai pada usaha peternakan rakyat saat ini adalah kinerja reproduksi yang rendah,” ungkapnya.
Itu, lanjut dia, ditandai dengan masih terjadi kawin berulang (S/C > 2) dan rendahnya angka kebuntingan (CR < 70%).
Hal tersebut menyebabkan jarak beranak pada induk menjadi panjang (CI > 16 bulan) serta berdampak terhadap rendahnya perkembangan populasi sapi dan pendapatan petani dari usaha ternak.
Banyak peternak mengeluhkankan tentang tingginya S/C. Ada yang sapinya sudah 3 kali di kawin suntik, belum ada tanda-tanda bunting, bahkan ada juga yang sampai 8 kali di inseminasi buatan (IB) juga belum bunting sehingga akhirnya sapinya dijual.
Padahal, imbuh dia, untuk meningkatkan kinerja reproduksi ternak yang diperlukan adalah manajemen reproduksi yang tepat. Yang meliputi pengamatan birahi dan waktu kawin; pola perkawinan yang tepat; deteksi kebuntingan; dan penanganan kelahiran.
Ia berharap, melalui usaha tersebut, jumlah kelahiran pedet dan jumlah induk yang berkualitas meningkat.
“Akhirnya bisa berdampak pada meningkatnya pendapatan petani dari usaha pembibitan sapi potong,” pungkasnya.(*)
Red















