BANDAR LAMPUNG – Pembenahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung, Kota Bandar Lampung, masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah. Meski Dinas Pekerjaan Umum (PU) telah melakukan penataan sepanjang 2026, fasilitas kolam pengolahan air lindi hingga kini belum berfungsi secara optimal.
Penataan yang dilakukan Dinas PU Kota Bandar Lampung meliputi perbaikan saluran drainase hingga optimalisasi fasilitas kolam penampungan air lindi. Namun, proses pembenahan tersebut belum berjalan maksimal karena terkendala kondisi lapangan dan keterbatasan ruang kerja.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PU Kota Bandar Lampung Irwan mengatakan, fokus utama pekerjaan saat ini adalah mengoptimalkan kolam lindi, termasuk menormalisasi saluran air yang mengarah ke kolam penampungan.
Menurut dia, langkah tersebut menjadi solusi paling memungkinkan untuk memperbaiki sistem pengelolaan air lindi dalam kondisi TPA Bakung saat ini.
“Untuk sementara ini, solusi paling cepat adalah optimalisasi fasilitas yang ada. Memang terjadi sedikit perlambatan karena ruang kerja yang dimiliki terbatas,” kata Irwan.
Dia menjelaskan, pekerjaan pembenahan mencakup perbaikan konstruksi kolam agar limpasan air lindi dapat tertampung dan tidak meluap hingga membanjiri kebun warga.
Salah satu kerusakan yang menjadi perhatian adalah tembok penahan atau talud kolam yang sebelumnya roboh. Material longsoran bahkan sempat menutupi sekitar dua pertiga bagian kolam sehingga menghambat fungsi penampungan.
“Tembok yang roboh sudah kita benahi, kolamnya kita dalamkan lagi, dan alirannya kita normalisasi dengan membuang endapan sedimennya,” ujarnya.
Dengan perbaikan tersebut, endapan sedimentasi yang menumpuk di dalam kolam diharapkan dapat dibersihkan sehingga kapasitas tampung dan fungsi kolam lindi kembali maksimal.
Namun, persoalan belum sepenuhnya teratasi. Irwan mengakui, kondisi terkini fasilitas kolam lindi TPA Bakung masih belum berfungsi optimal, meskipun normalisasi saluran telah dilakukan dengan menggunakan box culvert.
Dia menjelaskan, air yang seharusnya mengalir melalui box culvert menuju kolam penampungan justru mengalami penyumbatan. Persoalan tersebut dipicu posisi elevasi saluran yang belum sesuai sehingga air mengalir di atas saluran, bukan masuk ke dalamnya.
“Kenapa sekarang kita anggap tidak optimal? Karena air yang seharusnya masuk ke dalam box culvert menuju kolam lindi malah tersumbat. Elevasinya belum terlalu pas sehingga air justru mengalir di atasnya. Ini terjadi karena timbunan sampah dan lain-lain,” jelasnya.
Menurut Irwan, pekerjaan tersebut tergolong rumit karena proses perbaikan harus dilakukan di bawah timbunan sampah yang sudah menjulang tinggi. Kondisi itu juga menyimpan risiko longsoran yang dapat membahayakan pekerja.
Selain pembenahan fisik, Dinas PU juga berencana mengubah metode penyaringan air lindi. Langkah ini diperlukan karena air lindi memiliki tingkat kepekatan tinggi sehingga pengolahannya tidak cukup hanya mengandalkan aliran secara alami.
Salah satu alternatif yang tengah dipertimbangkan adalah menggunakan kincir seperti yang biasa digunakan di tambak untuk mendorong pergerakan air. Dengan metode tersebut, proses pengolahan diharapkan lebih aktif dan endapan sedimentasi dapat lebih cepat dipisahkan.
Irwan menegaskan, keberhasilan optimalisasi kolam lindi tidak hanya bergantung pada pembangunan dan perbaikan fisik, tetapi juga pemeliharaan secara rutin.
Menurut dia, fasilitas yang sudah diperbaiki tidak akan bertahan optimal jika dibiarkan tanpa perawatan berkala. Pemeliharaan menjadi faktor penting agar proses pengolahan air lindi berjalan efektif dan menghasilkan air olahan yang memenuhi kelayakan untuk dibuang.
“Walaupun banyak masalah dan hal-hal yang timbul, karena sifatnya adalah optimalisasi dan perbaikan, prosesnya memang berjalan sedikit lambat. Cuma harapannya, sebelum berakhirnya kontrak, itu sudah selesai,” paparnya.
Dengan demikian, pembenahan TPA Bakung masih membutuhkan perhatian serius. Sebab, optimalisasi kolam lindi bukan sekadar memperbaiki infrastruktur yang rusak, tetapi juga memastikan sistem pengolahan air limbah tersebut benar-benar berfungsi untuk mencegah pencemaran lingkungan di sekitar TPA. (*)
Editor: Furkon Ari















