BANDAR LAMPUNG — Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas akan mengkaji usulan pembangunan kawasan industri pangan di Provinsi Lampung. Usulan tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menerima kunjungan Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Rahmat Pambudy di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur Lampung, Jumat (24/7/2026).
Gubernur yang akrab disapa Mirza itu menegaskan, pembangunan kawasan industri pangan diperlukan agar komoditas pertanian Lampung tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah.
“Bagaimana komoditas yang belum dihilirisasi ini bisa diolah di Lampung. Karena itu, kita butuh kawasan industri pangan agar nilai tambahnya tetap berada di daerah,” ujar Mirza.
Menurutnya, Lampung memiliki potensi besar di sektor pertanian. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan nilai tambah optimal karena sebagian hasil produksi masih dipasarkan dalam bentuk mentah.
Lampung sendiri merupakan salah satu sentra pangan nasional dengan komoditas unggulan seperti padi, jagung, singkong, nanas, kopi, kakao, lada, tebu, serta berbagai komoditas perkebunan lainnya.
Untuk mendorong hilirisasi, Pemerintah Provinsi Lampung telah menyiapkan sejumlah program strategis, di antaranya pembangunan fasilitas pupuk hayati cair di 2.500 desa, pembangunan dryer hasil pertanian di 500 desa, hingga Program Desa Ku Maju.
Mirza juga menilai komoditas singkong masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan, baik dari sisi produktivitas maupun penguatan kemitraan dengan industri.
Sementara itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rahmat Pambudy menyatakan usulan tersebut akan dikaji sebagai bagian dari penyusunan kebijakan pembangunan nasional.
“Perencanaan pembangunan harus berbasis pada kondisi riil di daerah, terutama dari tingkat desa,” kata Rahmat.
Ia menegaskan, hilirisasi pertanian menjadi salah satu kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi sekaligus merata.
“Kita ingin pertumbuhan tinggi dan pemerataan juga tinggi. Caranya melalui pertanian, khususnya pertanian berbasis hilirisasi,” tegasnya.
Rahmat menambahkan, komoditas singkong memiliki prospek strategis untuk dikembangkan, tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai bagian dari industri berbasis pertanian dan energi terbarukan.
“Singkong memiliki masa depan besar, termasuk untuk mendukung pengembangan energi terbarukan dan industri,” pungkasnya. (*)














