LAMPUNGCORNER.COM, Mariupol berantuk dengan ambang bencana kemanusiaan seiring kota pelabuhan strategis itu dikepung pasukan Rusia. Warga sipil lantas berangsur-angsur dievakuasi menuju titik aman. Rombongan evakuasi teranyar pada Selasa (15/3/2022) membawa puluhan ribu penduduk.
Wakil PM Ukraina, Iryna Vereshchuk, mengungkap hingga 29.000 orang berhasil melintasi rute evakuasi yang direncanakan pemerintah. Mereka mengendarai mobil pribadi untuk melarikan diri.
Wakil kepala staf Presiden Volodymyr Zelensky, Kyrylo Tymoshenko, mengkonfirmasi angka tersebut.
“Hari ini sekitar 20.000 orang keluar dari Mariupol dengan mobil pribadi di sepanjang koridor kemanusiaan,” lapor Tymoshenko, seperti dikutip dari AFP.
Sekitar 570 dari 4.000 mobil yang meninggalkan kota itu telah tiba di kota tujuan, Zaporizhia. Sedangkan kendaraan lain yang masih menempuh perjalanan akan bermalam di sepanjang rute.
Pengemudi berkendara dengan lamban karena risiko menyentuh ranjau. Pos pemeriksaan dan jalanan yang hancur oleh gempuran juga mempersulit perjalanan.
Sebelumnya, rombongan evakuasi pertama yang terdiri dari 160 mobil meninggalkan Mariupol pada Senin (14/3/2022). Setidaknya 300 warga sipil dari kloter itu telah sampai di Zaporizhzhia.
“Seperti diberitakan, kemarin sekitar 160 mobil meninggalkan Mariupol. Hingga pukul 10.00 ada informasi sekitar 300 warga Mariupol mencapai Zaporizhzhia,” tulis pernyataan pemerintah daerah.
Vereshchuk meyakinkan, koridor kemanusiaan turut diupayakan di wilayah-wilayah lain. Ia menerangkan, 8.533 orang dievakuasi dari kota-kota di Sumy. Sementara itu, 320 bangsal dan karyawan rumah sakit juga dievakuasi dari Kharkiv.
Evakuasi baru menyaksikan kemajuan usai berulang kali digagalkan Kremlin. Terlebih, Vereshchuk menuturkan, mayoritas penduduk tidak memiliki mobil maupun bahan bakar. Sehingga, mereka memerlukan bus untuk dievakuasi.
Terlepas dari upaya-upaya evakuasi pun, 400.000 warga masih terjebak di kota itu. Baik akibat serangan ataupun kekurangan sokongan, korban jiwa mulai berjatuhan.
Otoritas setempat menerangkan, lebih dari 2.100 penduduk telah tewas di Mariupol sejak awal invasi Moskow.
Bahkan, para penduduk yang tersisa tak lagi dapat mengakses air mengalir atau pemanas. Pasokan makanan juga tentu kian merosot.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) menyebut situasi di Mariupol semakin genting. Sebab, ICRC tidak dapat mengirimkan bantuan ke kota itu.
Vereshchuk sempat menuduh, Rusia tidak mematuhi perjanjian untuk koridor kemanusiaan. Kini, ia mendapati hambatan saat mengirim pasokan pada Selasa (15/3/2022).
Menurut pejabat senior Ukraina, Kyrylo Tymoshenko, Moskow tak hanya menghalangi evakuasi. Serdadu Kremlin dikatakan juga memblokir konvoi bantuan kemanusiaan.
Akibatnya, warga telah terperangkap tanpa pemanas, listrik, maupun pasokan makanan dan air selama lebih dari dua pekan.
“Intinya adalah ratusan ribu orang (di Mariupol) masih menderita,” ungkap ICRC.
Red















