LampungCorner.com, BANDAR LAMPUNG – Penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja terus menjadi perhatian serius. Fenomena ini bukan hanya soal perilaku berisiko, tetapi juga hasil dari kombinasi kompleks faktor pribadi, keluarga, lingkungan, pendidikan, hingga kondisi sosial masyarakat.
Berdasarkan penelitian Dr. Zainuddin Hasan,S.H.,M.H., menunjukkan bahwa berbagai aspek tersebut saling mempengaruhi, membuat remaja lebih rentan terjerumus.
1. Faktor Pribadi
Rasa ingin tahu yang tinggi sering kali menjadi pintu masuk pertama. Banyak remaja mencoba narkoba tanpa memahami konsekuensinya.
Tekanan emosional, seperti kecemasan atau stres, membuat mereka melihat narkoba sebagai “jalan pintas” untuk meredakan beban psikologis. Pilihan instan ini justru membawa risiko besar bagi masa depan mereka.
2. Faktor Keluarga
Lingkungan keluarga adalah benteng pertama perlindungan remaja. Namun ketika perhatian dan kontrol orang tua melemah biasanya karena kesibukan, celah itu menjadi peluang besar bagi remaja untuk salah langkah.
Minimnya komunikasi membuat mereka mencari perhatian dan penerimaan di luar rumah. Jika jatuh pada pergaulan yang salah, risiko penyalahgunaan narkoba pun meningkat.
3. Faktor Lingkungan
Lingkungan sekitar memiliki pengaruh kuat dalam membentuk perilaku remaja. Kehidupan sosial yang individualis membuat kontrol sosial melemah.
Ketika lingkungan dipenuhi perilaku negatif, termasuk penggunaan narkoba, remaja yang belum matang secara emosional lebih mudah terseret arus.
4. Faktor Pendidikan
Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga wadah pembentukan karakter. Sayangnya, jika edukasi tentang bahaya narkoba tidak berjalan efektif, siswa menjadi kurang memahami risiko nyata.
Minimnya sosialisasi membuat mereka lebih mudah mencoba hal berbahaya ini, apalagi jika mendapat tekanan atau ajakan dari teman sebaya.
5. Faktor Sosial
Banyak remaja merasa terasing akibat minimnya kedekatan dengan keluarga atau lemahnya ikatan sosial di lingkungan sekitar.
Ketika mereka merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita, rasa kesepian dan stres itu dapat membuat narkoba tampak seperti pelarian. Padahal, yang mereka butuhkan adalah ruang aman dan dukungan emosional.
Jika keluarga, sekolah, dan masyarakat mampu saling bersinergi dalam memberikan perhatian dan edukasi, peluang remaja untuk terhindar dari penyalahgunaan narkoba akan jauh lebih besar.
Upaya pencegahan harus berjalan bersama, mulai dari lingkungan terkecil hingga kebijakan sosial yang berpihak pada penguatan karakter generasi muda. (*)
Sumber: ejurnal.politeknikpratama.ac.id
Laporan: Budi Sudewo
Editor: Furkon Ari









