Pelaku UMKM Binaan BRI Berkembang Pesat Pakai Ecoprint, Namanya Kahut Siger Bori

- Jurnalis

Sabtu, 7 Desember 2024 - 17:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LAMPUNGCORNER.COM, Bandarlampung – Buat para pecinta fashion di Lampung, nama Kahut Siger Bori sudah tidak asing lagi. Ya, usaha fashion satu ini punya ciri khas sendiri yang menggunakan bahan-bahan alami untuk membuat motif dan pewarnaan.

Kahut Siger Bori berhasil mencuri perhatian dengan produknya yang unik dan ramah lingkungan. Usaha fashion ini merupakan brand lokal asal Lampung yang berdiri sejak 2018.

Owner Kahut Siger Bori, Anggraeni Kumala Sari mengatakan ia mengusung teknik eco print dalam setiap produknya.

Sejarah Kahut Sigerb Bori bermula saat munculnya kesadaran Anggraeni bahwa bisnis fashion sangat berdampak pada pencemaran lingkungan.

Maka Anggraeni Kumala Sari ingin mencoba sesuatu yang baru dalam usaha fashionnya dengan penggunaan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan.

“Awalnya saya punya usaha bordir di Jawa Tengah, dan saya sering berpindah-pindah karena mengikuti suami yang tugasnya berpindah-pindah. Tapi saya tidak bisa lepas dari usaha kriya dan wastra. Selama itu saya selalu memakai bahan-bahan sintetis,” jelasnya.

“Kemudian saya mendapat informasi bahwa fashion itu adalah pencemar terbesar di dunia selain plastik. Akhirnya saya pikir harus menggunakan bahan-bahan alami tetapi, maka saya mempelajari dan mencari-cari, akhirnya saya bertemu dengan teknik pewarna alami ecoprint,” tambahnya.

Teknik ecoprint adalah yaitu dengan mencetak atau mewarnai kain menggunakan daun, bunga, kulit kayu, dan sebagainya.

Baca Juga :  149 Kebakaran di Bandar Lampung, Kerugian Tembus Rp1,75 Miliar

Hal itu membuat setiap produk Kahut Sigerbori memiliki keunikan tersendiri dan berpotensi untuk menjadi salah satu brand lokal yang diakui di dalam negeri.

Namun pembuatan ecoprint tidaklah mudah. Karena ada banyak factor yang harus diperhatikan agar kain yang diwarnai dan diberi motif tidak gagal.

“Yang pertama kita harus memakai dedaunan yang memiliki tanin atau zat pewarna yang kuat. Kemudian kelembaban udara, PH air sangat berpengaruh. Jadi satu rumah produksi dengan rumah produksi yang lain pasti akan menghasilkan hasil yang berbeda,” jelasnya.

Nama Kahut Siger Bori diambil dari bahas Lampung Pesisir. Kahut yang artinya sayang, Siger artinya mahkota wanita, dan bori diambil dari nama teknik pembuatannya shibori.

Ia mengaku awal berdirinya Kahut Siger Bori tidaklah mudah. Karena modalnya terbatas dan langsung terdampak pandemi covid-19 di awal 2020 lalu.

“Kami tumbuh dan besar di era pandemi, jadi ketika masa pandemi itu memang ada insentif-insentif dari pemerintah untuk lebih memperhatikan UKM agar tetap bisa bertumbuh,” jelasnya.

Anggraeni menyebut Kahut Siger Bori mendapat banyak support dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Support itu sangat besar dampaknya bagi kemajuan usahanya.

Baca Juga :  Dukung HPN dan Porwanas 2027, Rycko Menoza Optimistis Ekonomi Lampung Bergeliat

“Banyak insentif yang diberikan kepada kami baik kemudian kemudahan mengurus perizinan maupun kesempatan-kesempatan. Alhamdulillah kami merupakan binaan dari Bank Rakyat Indonesia atau BRI,” jelasnya.

“Jadi saya ini banyak disupport oleh BRI dalam hal pemasaran, kemudian banyak pelatihan-pelatihan juga dari BRI. Juga sekalian untuk promosi terutama kalau UKM itu kan yang dibutuhkan di mana kita bisa memperluas pasar. Kami itu sering sekali diajak oleh BRI untuk untuk ikut pameran-pameran skala nasional,” jelasnya.

Dengan bantuan itu, Anggraeni menyebut dampak ekonominya sangat besar. Bahkan saat ikut satu event hanya dua hari, pendapatannya bisa setara dengan omset sebulan.

“Ya otomatis juga pemasukan kita omset, kita ketika pameran itu dalam waktu 2 hari bisa setara dengan hasil yang didapat dalam sebulan,” tandasnya.

Perjuangan untuk Kahut Siger Bori kini telah menuai keberhasilan. Awalnya usaha ini dibuma hanya dengan modal yang sangat minim, tidak lebih dari Rp500 ribu untuk membeli 10 meter kain.

Kemudian untuk peralatan yang dibutuhkan hanya memakai peralatan masak seperti panci dan kompor bekas dari dapur yang sudah tidak terpakai.

Kini berbagai produk Kahut Siger Bori tak hanya digemari di wilayah Lampung tapi juga dari berbagai daerah lain. (*)

Berita Terkait

Sidak DPRD Bandar Lampung Ungkap Material Bekas di Proyek Trotoar Sultan Agung yang Ambrol
Bank Lampung Siap Kolaborasi Sukseskan HPN dan Porwanas 2027
Tuan Rumah Porwanas XV 2027, PWI Lampung Bidik 5-7 Emas dari Lomba Karya Jurnalistik
Launching Tim Bhayangkara Lampung Gratis, 4.000 Jersey Dibagikan
Karang Taruna Lampung Siap Jadi Garda Mitigasi Bencana hingga Desa
Dukung HPN dan Porwanas 2027, Rycko Menoza Optimistis Ekonomi Lampung Bergeliat
PWI Lampung Bidik Tri Sukses Porwanas dan HPN 2027, Dongkrak Prestasi hingga Ekonomi Daerah
Terima SK Manajer, Aswarodi Langsung Siapkan Pelatda Bulutangkis Menuju Porwanas 2027
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 14:51 WIB

Sidak DPRD Bandar Lampung Ungkap Material Bekas di Proyek Trotoar Sultan Agung yang Ambrol

Rabu, 2 September 2026 - 17:08 WIB

Bank Lampung Siap Kolaborasi Sukseskan HPN dan Porwanas 2027

Minggu, 30 Agustus 2026 - 08:53 WIB

Tuan Rumah Porwanas XV 2027, PWI Lampung Bidik 5-7 Emas dari Lomba Karya Jurnalistik

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:52 WIB

Launching Tim Bhayangkara Lampung Gratis, 4.000 Jersey Dibagikan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 19:08 WIB

Karang Taruna Lampung Siap Jadi Garda Mitigasi Bencana hingga Desa

Berita Terbaru

Plt Kepala BKPSDM Lampura, Hendri Dunant. Foto dok

BREAKING NEWS

Pemkab Lampura Buka Seleksi 11 JPTP, Berikut Jadwal dan Syaratnya

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:21 WIB