Lampungcorner.com, Lampung Selatan – Setelah ziarah ke Makam Pahlawan Nasional asal Lampung Selatan (Lamsel), Ketua DPC Partai Demokrat Lamsel yang baru Muhammad Junaidi terus melanjutkan silaturahminya.
Kali ini Bung Adi-Sapaan akrab Muhammad Junaidi, silaturahmi dan mohon doa serta dukungan dari Pangeran Sangun Ratu sebagai Kepala Adat Marga Legun Way Urang agar Partai Demokrat (PD) Lamsel dapat lebih berpartisipasi dalam pembangunan Lamsel.
“Silaturahmi saya dengan tokoh adat hari ini khususnya Pangeran Sangun Ratu dalam rangka meminta dukungan, agar Partai Demokrat ke depan bisa lebih berpartisipasi dalam pembangunan,” ujarnya dalam keterangan press realease-nya yang diterima Lampungcorner.com, Minggu (15/Mei/2022).
Selanjutnya Bung Adi dan rombongan melanjutkan ziarah ke makam Karullah Hulubalang leluhur Marga Legun Way Urang.
“Ziarah dilakukan untuk mendoakan pendahulu kita, kan dalam Al-Quran jelas ayatnya Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki,” (Q.S Ali Imran: 169),” ujarnya mengutip ayat suci Al-Qur’an.
Lalu apa saja pembicaraan dengan tokoh adat setempat?
Menurutnya, ia banyak mendapatkan titipan pesan pembangunan Lamsel ke depan.
“Tadi banyak berbincang dengan pangeran, ya sembari ngopi dan makan kue khas Lampung, pangeran berpesan agar dapat menggunakan segala sumberdaya untuk turut membangun Lampung Selatan dan kalau semua bersatu berpadu dengan niatan membangun maka Insyaallah Lampung Selatan dapat menjadi Kabupaten yang makmur dan rakyatnya sejahtera,” jelas mantan anggota DPRD Lampung ini.
Bung Adi menambahkan, menurutnya adat dan budaya daerah berkaitan erat dengan pembangunan. Karena itu ia berniat melanjutkan silaturahminya ke lima marga di Lamsel.
“Ya di masa lalu wilayah ini dikenal dengan nama viers Marga Katimbang, jadi ada 4 marga yang memiliki wilayah ini kemudian menjadi 5 marga di tambah marga Katibung. Jadi saya memang ingin silaturahmi dengan semua Pangeran di 5 marga ini sekaligus ziarah ke makam makam leluhur 5 marga,” urainya.
Tak lupa ia juga akan mengunjungi kampung halamannya di Pulau Iwo.
“Setelahnya saya juga akan ziarah ke kampung saya yang bernama Pulau Iwo yang letaknya dekat dengan desa Khulung Khelok di sisi sungai Sekampung. Dahulu masuk marga Tegineneng, kalo peta tahun 1860 masih ada desa kami itu. Jadi desa kami dulu disemaka, tahun 1847 setelah dibakar Belanda kami bergeser pindah ke pulau iwo. Baru tahun 1876 kami pindah ke wilayah adat marga balau,” pungkasnya. (*)









