LampungCorner.com, LAMPUNG UTARA – Kritik keras dilontarkan Wakil Bupati Lampung Utara, Romli, terhadap wajah birokrasi di daerahnya. Ia menyoroti masih kuatnya pola pikir terbalik di kalangan aparatur yang seharusnya melayani masyarakat, justru ingin dilayani.
Pernyataan itu disampaikan Romli saat mendampingi Bupati Lampung Utara, Hamartoni Ahadis, dalam kunjungan kerja ke Kecamatan Tanjung Raja, Rabu (8/4/2026).
Di hadapan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kepala dinas, hingga para camat, Romli menegaskan kembali hakikat pemerintahan hadir sebagai pelayan publik, bukan simbol kekuasaan.
“Layanilah masyarakat dengan baik, dengan hati yang ikhlas. Kita ini pelayan, bukan untuk dilayani. Tapi faktanya, kadang terbalik,” tegasnya lantang.
Ia tak menutup mata terhadap realitas yang berkembang. Bahkan, Romli secara terbuka mengakui adanya krisis kepercayaan publik terhadap institusi, mulai dari pemerintah daerah hingga aparat penegak hukum. Baginya, persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan jargon semata.
“Jujur saja, saat ini ada krisis kepercayaan. Tidak cukup hanya dengan kata-kata. Harus ada bukti, pelayanan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Romli juga memberi pesan tegas kepada para camat agar tidak terjebak rutinitas di balik meja. Ia menekankan pentingnya kehadiran langsung di tengah masyarakat, membangun kolaborasi dengan kepala desa, serta menyerap persoalan riil warga.
“Camat harus hadir di tengah masyarakat, jangan hanya di kantor. Bangun kolaborasi dengan kepala desa, dengarkan langsung keluhan warga,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Hamartoni dan Wakil Bupati Romli juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas sejumlah program pembangunan yang belum sepenuhnya terealisasi selama satu tahun masa kepemimpinan mereka.
“Kami mohon maaf atas kekurangan yang ada, baik infrastruktur maupun program yang belum menyentuh masyarakat secara luas,” ucap Romli.
Ia menyoroti persepsi publik yang kerap membandingkan geliat pembangunan di perkotaan dengan kondisi desa yang masih tertinggal, mulai dari jalan rusak hingga minimnya fasilitas dasar.
“Kalau di kota bangunan megah berdiri, tapi di desa jalan rusak, masyarakat akan menilai pemerintah tidak bekerja. Itu jadi catatan bagi kami,” ungkapnya.
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, Romli memastikan pasangan kepemimpinan Hamartoni–Romli tetap berpegang pada komitmen awal untuk menunaikan janji politik kepada masyarakat.
“Kami akan bekerja semaksimal mungkin untuk mewujudkan janji-janji kepada masyarakat. Itu komitmen kami,” tandasnya. (*)










