Lampungcorner – Tidur lebih lama belum tentu mampu menurunkan hormon stres kortisol. Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Endocrine Disorders pada 17 April 2026.
Studi berjudul Assessment of Sleep Duration and Cortisol Levels among Selected South African Medical Students tersebut dilakukan oleh Anam Mhlana dan tim dari Walter Sisulu University, Afrika Selatan.
Penelitian melibatkan 100 mahasiswa kedokteran berusia 18–30 tahun. Para peneliti mengukur kadar kortisol melalui sampel saliva pada pagi hari, serta menganalisis durasi tidur, indeks massa tubuh, dan sejumlah indikator kesehatan lainnya.
Hasilnya cukup mengejutkan. Peneliti menemukan adanya hubungan positif antara durasi tidur dan kadar kortisol. Artinya, semakin lama waktu tidur tidak otomatis membuat hormon stres menurun.
Kortisol sendiri merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal sebagai respons terhadap stres. Dalam kadar normal, hormon ini berperan penting dalam mengatur metabolisme, tekanan darah, hingga sistem kekebalan tubuh.
Namun, jika kadarnya terus meningkat dalam jangka panjang, kortisol dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Mulai dari masalah tidur, kecemasan, hingga peningkatan risiko penyakit metabolik.
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menegaskan bahwa menjaga keseimbangan hormon stres tidak cukup hanya dengan menambah durasi tidur. Kualitas tidur justru menjadi faktor yang lebih menentukan.
Selain itu, pengelolaan stres, pola makan bergizi, serta aktivitas fisik yang teratur juga berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Peneliti juga menyoroti pentingnya program pengelolaan stres, terutama bagi mahasiswa dan kelompok usia produktif dengan beban aktivitas tinggi.
Langkah sederhana seperti rutin berolahraga, melakukan relaksasi atau meditasi, menjaga hubungan sosial, serta menerapkan pola tidur yang konsisten dinilai lebih efektif dibanding hanya berfokus pada lamanya waktu tidur. (*)
















