Studi Ungkap, Durasi Tidur Panjang Belum Tentu Redam Hormon Stres

- Jurnalis

Rabu, 15 Juli 2026 - 15:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tidur lama belum tentu turunkan hormom kortisol
foto: Halodoc

Tidur lama belum tentu turunkan hormom kortisol foto: Halodoc

Lampungcorner – Tidur lebih lama belum tentu mampu menurunkan hormon stres kortisol. Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Endocrine Disorders pada 17 April 2026.

Studi berjudul Assessment of Sleep Duration and Cortisol Levels among Selected South African Medical Students tersebut dilakukan oleh Anam Mhlana dan tim dari Walter Sisulu University, Afrika Selatan.

Penelitian melibatkan 100 mahasiswa kedokteran berusia 18–30 tahun. Para peneliti mengukur kadar kortisol melalui sampel saliva pada pagi hari, serta menganalisis durasi tidur, indeks massa tubuh, dan sejumlah indikator kesehatan lainnya.

Baca Juga :  Makan Satu Alpukat Sehari, Benarkah Baik untuk Jantung? Ini Temuan Terbarunya

Hasilnya cukup mengejutkan. Peneliti menemukan adanya hubungan positif antara durasi tidur dan kadar kortisol. Artinya, semakin lama waktu tidur tidak otomatis membuat hormon stres menurun.

Kortisol sendiri merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal sebagai respons terhadap stres. Dalam kadar normal, hormon ini berperan penting dalam mengatur metabolisme, tekanan darah, hingga sistem kekebalan tubuh.

Namun, jika kadarnya terus meningkat dalam jangka panjang, kortisol dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Mulai dari masalah tidur, kecemasan, hingga peningkatan risiko penyakit metabolik.

Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menegaskan bahwa menjaga keseimbangan hormon stres tidak cukup hanya dengan menambah durasi tidur. Kualitas tidur justru menjadi faktor yang lebih menentukan.

Baca Juga :  JKN Kian Kokoh, Layani 282,7 Juta Peserta dan Jadi Fondasi SDM Indonesia Sehat

Selain itu, pengelolaan stres, pola makan bergizi, serta aktivitas fisik yang teratur juga berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Peneliti juga menyoroti pentingnya program pengelolaan stres, terutama bagi mahasiswa dan kelompok usia produktif dengan beban aktivitas tinggi.

Langkah sederhana seperti rutin berolahraga, melakukan relaksasi atau meditasi, menjaga hubungan sosial, serta menerapkan pola tidur yang konsisten dinilai lebih efektif dibanding hanya berfokus pada lamanya waktu tidur. (*)

Berita Terkait

Menuju Akreditasi Paripurna, RSUD KH Ahmad Hanafiah Perkuat Mutu dan Keselamatan Pasien
Makan Satu Alpukat Sehari, Benarkah Baik untuk Jantung? Ini Temuan Terbarunya
Tak Terlihat tapi Masuk ke Tubuh, Mikroplastik Kini Ditemukan di Plasenta
Studi Ungkap Bahaya Makanan Ultra Proses bagi Kesehatan
Penelitian Ungkap Jahe Berpotensi Bantu Kendalikan Diabetes Tipe 2
JKN Kian Kokoh, Layani 282,7 Juta Peserta dan Jadi Fondasi SDM Indonesia Sehat
Lobi Pemkab Lampura Berbuah Manis, RSUD Ryacudu Dapat Alkes Rp42 Miliar dan Dana Pengembangan Rp49 Miliar
Wagub Jihan Pimpin Rakor Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis Kabupaten Lampung Selatan
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:39 WIB

Menuju Akreditasi Paripurna, RSUD KH Ahmad Hanafiah Perkuat Mutu dan Keselamatan Pasien

Senin, 27 Juli 2026 - 09:51 WIB

Makan Satu Alpukat Sehari, Benarkah Baik untuk Jantung? Ini Temuan Terbarunya

Sabtu, 18 Juli 2026 - 15:39 WIB

Tak Terlihat tapi Masuk ke Tubuh, Mikroplastik Kini Ditemukan di Plasenta

Sabtu, 18 Juli 2026 - 15:32 WIB

Studi Ungkap Bahaya Makanan Ultra Proses bagi Kesehatan

Rabu, 15 Juli 2026 - 15:50 WIB

Studi Ungkap, Durasi Tidur Panjang Belum Tentu Redam Hormon Stres

Berita Terbaru