LAMPUNG TIMUR – Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tak sekadar menjadi proyek pembangunan infrastruktur pesisir. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong kawasan tersebut menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan.
Komitmen itu diwujudkan melalui kegiatan Bulan Bakti KKP 2026 yang digelar di KNMP Desa Sukorahayu, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur (Lamtim), Rabu (4/11/2026).
Berbagai layanan dan bantuan diberikan langsung kepada masyarakat. Mulai pemeriksaan kesehatan gratis bagi 100 warga, bazar produk perikanan yang melibatkan lima UMKM, hingga penyaluran bantuan sembako berupa beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Minyakita kepada 200 warga.
Kegiatan juga diisi lomba mewarnai tingkat TK dan SD, senam bersama, demo memasak berbahan ikan lokal, Gerai Mutu, serta layanan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL).
Tak hanya itu, KKP turut menyerahkan secara simbolis dua unit handy talky (HT) dan life jacket kepada perwakilan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), serta sertifikat SKN.
Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Yudi Nurul Ihsan, Sekretaris Daerah (Sekda) Lamtim Rustam Effendi, Plt Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Lamtim Dwi Giyarti, perwakilan Forkopimda, kepala OPD, Forkopimcam, serta masyarakat nelayan.
Dirjen PDSPKP KKP Yudi Nurul Ihsan mengatakan, Bulan Bakti KKP merupakan bentuk pengabdian pemerintah untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat pesisir. Terutama dalam mendengar kebutuhan nelayan sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan mereka.
“Puncak Bulan Bakti KKP kita selenggarakan di Kampung Nelayan Merah Putih sebagai wujud nyata pengabdian untuk hadir lebih dekat, mendengar kebutuhan, dan meningkatkan kesejahteraan nelayan, sekaligus menandai 27 tahun pengabdian KKP kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Yudi, KNMP menjadi salah satu program prioritas nasional KKP periode 2025–2029. Program tersebut tidak boleh berhenti pada pembangunan infrastruktur semata, tetapi harus mampu menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Karena itu, seluruh fasilitas yang tersedia di KNMP harus dimanfaatkan dan dikelola secara profesional. Dengan demikian, produktivitas nelayan dapat meningkat dan berdampak langsung terhadap pendapatan mereka secara berkelanjutan.
Yudi juga mengingatkan pentingnya ketepatan sasaran bantuan pemerintah, pemeliharaan fasilitas, serta penanganan persoalan nelayan secara cepat. Di sisi lain, kelestarian ekosistem laut harus tetap menjadi perhatian bersama.
Sementara itu, Sekda Lamtim Rustam Effendi mengapresiasi dukungan KKP terhadap pengembangan sektor kelautan dan perikanan di daerah tersebut.
Rustam menyebut, berdasarkan data 2025, Lamtim memiliki 4.738 nelayan dengan produksi perikanan tangkap mencapai 62.697.145 kilogram.
Selain itu, terdapat 237 kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) dengan produksi 8.096,95 ton. Sementara jumlah pelaku usaha pengolahan perikanan tercatat sebanyak 162 dengan total produksi mencapai 5.184.560 kilogram.
“Angka-angka tersebut membuktikan bahwa sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat Lampung Timur,” kata Rustam.
Dia berharap, keberadaan KNMP Sukorahayu dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pesisir. Nelayan diharapkan tidak hanya menjual hasil tangkapan dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai jual hasil perikanan sekaligus mendongkrak pendapatan keluarga nelayan.
Di lokasi terpisah, kegiatan serupa juga digelar di KNMP Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai. Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Pemberdayaan Usaha KKP Ali Rahmat Iman Santosa.
Melalui Bulan Bakti KKP 2026, sinergi pemerintah pusat dan daerah diharapkan semakin kuat dalam mengembangkan sektor kelautan dan perikanan. Terlebih, Lamtim memiliki potensi besar yang dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. (*)
Editor: Furkon Ari














