LampungCorner.com, LAMPUNG UTARA – Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO) terus mendorong peningkatan kesejahteraan petani kopi melalui pengelolaan hasil panen yang bernilai tambah. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Gunung Katon, Kecamatan Tanjungraja, Kabupaten Lampung Utara (Lampura), Kamis (6/8/2026), dengan mengusung tema “Pengelolaan Pascapanen Kopi Berbasis Nilai Tambah.”
Kegiatan yang berlangsung di kediaman salah seorang warga itu diikuti puluhan petani kopi. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai teknik pengelolaan pascapanen yang mampu meningkatkan kualitas sekaligus nilai jual kopi di pasaran.
Dosen Program Studi Agribisnis FPP UMKO, Yuni Elmita Sari, S.P., M.Si, menjelaskan bahwa penerapan pengelolaan hasil panen berbasis nilai tambah menjadi salah satu kunci agar petani memperoleh harga yang lebih menguntungkan.
Menurutnya, nilai tambah diperoleh dari kualitas hasil panen yang memenuhi standar pasar, mulai dari tingkat kebersihan, kadar kekeringan, proses penyortiran biji, hingga pengolahan limbah kopi yang masih memiliki nilai ekonomi.
“Mulai dari proses panen saja, petani harus memetik buah kopi yang sudah berwarna merah. Kemudian dilanjutkan dengan proses pengeringan, penyortiran biji, hingga pemisahan kulit kopi yang selanjutnya dikumpulkan. Semua tahapan itu memiliki nilai dan harga masing-masing sesuai kualitas kopi yang dihasilkan. Harga kopi yang dipetik saat buah merah tentu berbeda dengan kopi yang masih hijau karena sangat memengaruhi kualitas hasil panen,” jelas Yuni.
Selain teknik pascapanen, Yuni juga menekankan pentingnya peran kelompok tani maupun kelompok wanita tani dalam membuka akses pasar serta mengembangkan produk kopi lokal.
Menurutnya, kelembagaan petani menjadi sarana penting untuk memperkuat posisi tawar petani sekaligus mendorong lahirnya inovasi produk. Salah satunya melalui pengembangan kopi bubuk lokal dengan merek khas Desa Gunung Katon.
“Kelompok wanita tani misalnya dapat membuat merek kopi bubuk lokal yang memiliki ciri khas. Produk dikemas dengan baik, diberi label, kemudian dipasarkan, baik di tingkat lokal maupun regional. Hal itu tentu akan menjadi nilai tambah bagi produk kopi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim PKM, Yansen Atik, S.E., M.Si, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat melalui penyuluhan, pelatihan, dan edukasi.
“Ini merupakan salah satu bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bertujuan membangun pola pikir serta menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat terhadap berbagai persoalan yang dihadapi,” kata Yansen.
Perwakilan petani kopi Desa Gunung Katon, Lirih Rahmawati, menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang digelar FPP UMKO. Ia menilai materi yang diberikan sangat bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman petani mengenai pentingnya kualitas dalam menentukan harga jual kopi.
“Acara ini sangat baik karena menambah pengetahuan dan wawasan kami tentang bagaimana meningkatkan harga kopi melalui kualitas dan pengelolaan hasil panen yang lebih baik. Terima kasih kepada FPP UMKO yang telah datang dan berbagi ilmu kepada kami sebagai petani kopi,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh dan pamong Desa Gunung Katon, tim dosen FPP UMKO, di antaranya Zakiatun Nufus, S.E., M.E., serta mahasiswa Program Studi Agribisnis yang ikut mendukung pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. (*)
















