LampungCorner.com, LAMPUNG UTARA – Dugaan keracunan makanan yang menimpa sejumlah siswa SD Negeri 3 Sindang Sari, Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, berbuntut teguran keras.
Ketua Satgas Pengawasan dan Pembinaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Lampung Utara, Mat Sholeh, secara langsung menegur dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Hajjah Lis selaku penyedia makanan.
Teguran itu diberikan menyusul laporan resmi dari pihak sekolah terkait makanan yang diduga menjadi penyebab siswa mengalami gangguan kesehatan.
Mat Sholeh mengungkapkan, pihak SPPG Hajjah Lis telah mengakui adanya kelalaian dalam proses penyediaan makanan. Kelalaian inilah yang diduga kuat menjadi pemicu terjadinya dugaan keracunan tersebut.
“Pihak SPPG sudah mengakui adanya kelalaian. Ini tentu menjadi perhatian serius karena menyangkut kesehatan dan keselamatan siswa,” tegas Mat Sholeh.
Tak hanya soal dugaan keracunan, Satgas MBG juga menyoroti tidak adanya distribusi makanan bergizi gratis kepada SD Negeri 3 Sindang Sari selama masa libur sekolah.
Padahal, di beberapa sekolah dasar lain, bantuan MBG tetap disalurkan dalam bentuk makanan kering.
“Ini juga menjadi catatan penting. Ada sekolah lain yang tetap menerima MBG saat libur, tapi SDN 3 Sindang Sari tidak mendapatkan distribusi sama sekali,” ujarnya.
Mat Sholeh juga mengungkapkan bahwa Satgas MBG sebenarnya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur SPPG Hajjah Lis pada Desember lalu.
Namun saat itu, dapur dalam kondisi tutup sehingga pemeriksaan tidak dapat dilakukan secara maksimal.
“Waktu kami sidak, dapurnya tutup. Jadi bagaimana kami mau melihat kondisi dapur dan proses pengolahannya,” kata Mat Sholeh mengisahkan.
Atas rangkaian temuan tersebut, Satgas MBG Lampung Utara memastikan akan melaporkannya kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
Selain itu, Satgas juga berkomitmen untuk memfasilitasi pihak dapur agar memenuhi seluruh standar dan sertifikasi yang dipersyaratkan.
“Kami akan laporkan ke BGN dan memfasilitasi agar dapur MBG ini memenuhi standar sertifikasi, baik IPAL, kelayakan air, maupun standar kebersihan,” jelasnya.
Ke depan, Satgas MBG menegaskan akan terus memperketat pengawasan dan pembinaan terhadap dapur-dapur MBG yang dinilai belum layak, demi memastikan program MBG benar-benar berjalan sesuai standar dan memberikan manfaat maksimal bagi para siswa.
“Kami tidak ingin kejadian seperti ini terulang. Pembinaan akan terus dilakukan agar kualitas layanan MBG benar-benar terjaga,” pungkas Mat Sholeh. (*)
Editor: Furkon Ari










