LampungCorner.com,Tubaba – Komoditas tebu mulai menjadi pilihan utama bagi sejumlah petani di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung. Melalui program kemitraan yang dijalankan Sugar Group Companies (SGC), para petani kini melihat peluang baru yang dinilai lebih menjanjikan dibandingkan tanaman sebelumnya seperti singkong.
Program kemitraan tebu yang dijalankan itu pun mulai mendapat sambutan positif dari petani di Kabupaten Tubaba. Pihak perusahaan menjanjikan kesejahteraan petani lewat jaminan harga, pasar, dan pendampingan teknis yang berkelanjutan.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Tubaba, Sarwo, melalui Kepala Bidang Perkebunan Rahmat Efendi, mengatakan bahwa hingga saat ini terdapat sekitar 500 hektare lahan tebu milik masyarakat yang sudah ditanam di berbagai Kecamatan di Tubaba. Sebagian diantaranya bermitra dengan perusahaan seperti SGC, sementara lainnya masih dikelola secara mandiri.
“Kita melalui penyuluh pertanian terus mendorong agar petani tidak lagi bergantung pada singkong dan mulai beralih ke tebu. Komoditas tebu memang terbukti lebih prospektif, baik dari sisi harga, hasil panen, maupun jaminan pasar. Selain itu, kondisi geografis Tubaba sangat mendukung untuk pengembangan tebu,” ujar Rahmat, saat dikonfirmasi media, Jumat (10/10/2025).
Rahmat menambahkan, untuk perusahaan, SGC saat ini memang menjadi satu-satunya perusahaan yang aktif melakukan sosialisasi kemitraan dengan petani melalui dukungan pemerintah daerah. Program ini diharapkan dapat memperkuat sektor perkebunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Yogi, perwakilan Kemitraan SGC, menjelaskan, bahwa hingga saat ini, sudah tercatat 24 petani dengan total lahan 47 hektare dari beberapa kecamatan di Tubaba, seperti Tulang Bawang Tengah, Lambu Kibang, Way Kenanga, dan Gunung Agung, yang bergabung dalam program kemitraan dengan SGC.
“Mekanisme pendaftaran kerja sama cukup mudah, hanya dilakukan secara online melalui tautan resmi milik perusahaan. Bagi yang berminat dapat menghubungi kontak person di nomor (+62 821-6459-3543) terlebih dahulu. Nantinya, petani yang berminat akan dikirim link resmi pendaftaran untuk mengisi data lengkap seperti biodata, luas dan lokasi lahan, status kepemilikan, serta rencana waktu tanam,” jelasnya.
Setelah data diinput, tim SGC akan menghubungi petani untuk melanjutkan proses kontrak dan memberikan bimbingan teknis pengolahan tebu mulai dari tanam hingga panen.
“Tidak ada batas minimal luas lahan. Berapa pun bisa diajukan. Kemitraan ini bersifat mandiri, artinya petani tetap mengelola lahan sendiri, sementara SGC memberikan jaminan pasar dan harga yang transparan,” terangnya.
Dalam kerja sama ini, lanjut Yogi, SGC juga menawarkan bantuan bibit berkualitas dengan sistem bayar setelah panen, senilai Rp.5,4 juta per hektare. Harga pembelian tebu pun cukup menjanjikan, yakni Rp.715 ribu per ton dengan rendemen 7 persen.
“Rata-rata produksi tebu per hektar bisa mencapai 80 ton, jadi hasilnya cukup menjamin,” tambah Yogi.
Selain sistem pembayaran bibit yang fleksibel, SGC juga memastikan pembayaran hasil panen dilakukan maksimal seminggu setelah pengantaran.
“Program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani melalui pola kerja sama saling menguntungkan. Petani mendapatkan jaminan harga dan pasar, sementara perusahaan memperoleh pasokan bahan baku yang stabil,” tuturnya.
Yogi juga menerangkan, keuntungan lain dari menanam tebu adalah efisiensi jangka panjang, karena tanaman tebu bisa dipanen hingga tiga kali dalam sekali tanam, biaya produksi rendah, dan kondisi iklim Lampung sangat mendukung pertumbuhannya.
Sambutan positif pun terasa di masyarakat, Mirza, salah satu petani sekaligus Ketua Kelompok Tani di Panaragan, mengungkapkan sudah banyak petani setempat yang beralih komoditas terutama dari singkong ke tebu melalui kemitraan maupun secara mandiri.
“Ya, sekarang banyak petani mulai beralih ke tebu karena singkong sudah tidak menjanjikan. Di Panaragan ini sudah ada beberapa yang bermitra juga dengan SGC,” pungkasnya.
Dengan dukungan perusahaan, pemerintah, dan petani itu sendiri, komoditas tebu di Tubaba diyakini akan menjadi motor baru peningkatan ekonomi petani lokal di sektor perkebunan. (Rian)
















