LAMPUNGCORNER.COM, Metro — Tingkat pencemaran bakteri E-Coli (Escherichia Coli) pada air tanah di Metro meningkat. Dari 71 persen di musim kemarau menjadi 75 persen di musim hujan.
Hal ini diketahui dari penelitian laboratorium Universitas Indonesia (UI) bersama dengan Unicev dan University of Technology Sydney (UTS) Australia serta Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro).
Metro menjadi satu dari dua kota di Indonesia yang diteliti sumber air tanahnya berdasarkan jumlah pengguna air tanah.
Asisten Penelitian Air UI, Siti Maysarah, menjelaskan pihaknya telah dua kali melakukan penelitian di lima kelurahan yang mewakili masing-masing kecamatan.
Penelitian berdasarkan tingkat kepadatan penduduk, kemiskinan, kondisi air tanah, serta minimnya pengguna PDAM lantaran masih menggunakan air tanah dari sumur gali maupun bor.
Adapun kelurahan yang menjadi sampel adalah Karangrejo, Rejomulyo, Iringmulyo, Ganjarasri, dan Hadimulyo Barat.
Atas hasil ini, Dinas Kesehatan (Diskes) Metro mengimbau masyarakat dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya melihat sumber air yang akan dikonsumsi.
Kepala Diskes Kota Metro, Erla Andrianti, menjelaskan air yang tercemar E-Coli merupakan salah satu indikator penyebab stunting pada anak.
“Terlebih apabila dikonsumsi teratur,” jelasnya, Selasa (20/9/2022).
Karenanya, Diskes melalui sanitarian Puskesmas melakukan survei air sekitar puskesmas secara berkala terhadap sumur rumah tangga.
Dari hasil survei akan terlihat penyebab tercemarnya air sumur rumah tangga tersebut lalu segera dilakukan penindakan.
“Apakah sumur itu cincinnya kurang atau ada rembesan atau malah tidak dicincin. Juga apakah dekat dengan septic tank,” pungkasnya.
Dikutip dari halodoc.com, ada empat penyakit yang disebabkan bakteri E-Coli.
Yakni infeksi selaput otak, saluran kemih dan pencernaan, serta komplikasi ginjal. (*)
Red









