LAMPUNGCORNER.COM, Pemerintah Inggris tampaknya menerapkan standar ganda terhadap pemilik klub di Liga Inggris. Pasalnya, tidak hanya pemilik Chelsea saja yang diduga terlibat perang, melainkan pemilik Newcastle United pun disinyalir terlibat hal serupa.
Bos Chelsea, Roman Abramovich diketahui harus menerima sanksi dari Pemerintah Inggris imbas konflik Rusia-Ukraina pada Kamis (10/3) lalu. Pemerintah Inggris beralasan, Abramovich memiliki kedekatan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Sehingga, sebagai negara yang tergabung ke dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Pemerintah Inggris berupaya menekan para pebisnis Rusia yang memiliki hubungan spesial dengan Putin.
Seperti diwartakan CNN International, Abramovich termasuk ke dalam daftar tujuh pebisnis kaya raya di Inggris yang terkait dengan politik Rusia. Alhasil, saat ini, Chelsea pun turut terkena imbas dari sanksi yang dijatuhkan terhadap Abramovich.
Namun, sebagian pihak merasa sanksi yang dijatuhkan Pemerintah Inggris terhadap Abramovich berhubungan dengan urusan politik. Salah satunya diungkap oleh BBC Economics Editor, Faisal Islam.
Faisal mengatakan, ada unsur politik di balik hukuman yang diberikan kepada Abramovich. Bahkan, Faisal mengungkap, hal tersebut dikatakan langsung oleh ‘orang dalam’ Pemerintah Inggris.
“Ini sudah diserukan sejumlah politisi. Dia [Roman Abramovich] paling terkenal dari oligarki Rusia. Pemerintah telah memberi tahu kami, setelah tekanan politik untuk membuat langkah ini, ada segala macam proses hukum yang harus dilalui untuk memasukkan seseorang ke dalam daftar ini,” katanya kepada BBC Radio 5 Live.
Sehingga, buntut dari sanksi yang dijatuhkan Abramovich adalah munculnya fraksi yang mempertanyakan ‘kebebasan’ pemilik anyar Newcastle United, Mohammed Bin Salman. Sebab, Putra Mahkota Arab Saudi itu diduga terlibat dengan penyerangan yang dilakukan koalisi militer terhadap Yaman.
France 24 melaporkan, koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi itu melancarkan serangan udara di Ibu Kota Yaman, Sanaa, pada Februari lalu. Koalisi militer tersebut menyerang sistem komunikasi yang dimiliki pemberontak Houthi di Yaman.
“Kami telah menghancurkan sebuah sistem komunikasi yang digunakan untuk mengoperasikan stasiun kendali drone,” kata pimpinan Koalisi Arab Saudi kepada Saudi News Agency dikutip dari France 24.
“Houthi menggunakan Kementerian Telekomunikasi dan Teknologi Informasi di Sanaa untuk operasi jahat,” tambahnya.
Alhasil, sebagian pihak bertanya-tanya terhadap ‘standar ganda’ yang diterapkan Pemerintah Inggris. Pasalnya, Mohammed Bin Salman memiliki kasus yang serupa dengan Abramovich.
Namun, manajer Chelsea, Thomas Tuchel, memilih tidak berkomentar terkait ‘kemiripan’ kasus antara pemilik Newcastle United dan Chelsea. Juru taktik asal Jerman itu mengaku tidak ingin asal tuduh sebelum adanya bukti konkret.
“Sayangnya, situasi yang menimpa pemilik kami [Abramovich] tampaknya ikut menyeret pemilik Newcastle United. Lalu, apa yang bisa saya katakan? Saya tidak mau membanding-bandingkan atau menyalahkan orang lain. Sebab, hal ini tidak akan merubah apapun,” kata Tuchel dikutip Football London.
“Pernyataan kami terkait penolakan perang yang dilancarkan Rusia terhadap Ukraina tidak perlu diragukan. Namun, kami memang tengah menerima konsekuensi yang tidak diharapkan dan di sinilah fokusnya. Saya harap Anda mengerti,” pungkasnya.
Red















