LAMPUNGCORNER.COM – Komisi II DPRD Provinsi Lampung mendorong percepatan pengembangan bibit unggul singkong.
Langkah ini dinilai menjadi kunci untuk mendongkrak produktivitas sekaligus menjaga pasokan bahan baku industri tepung tapioka di Lampung.
Anggota Komisi II DPRD Lampung, Mikdar Ilyas, mengatakan pembahasan pengembangan bibit unggul saat ini tengah dimatangkan bersama Pemerintah Provinsi Lampung, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Lampung (Unila), asosiasi petani, serta pelaku industri.
Upaya tersebut merupakan tindak lanjut dari rekomendasi Panitia Khusus (Pansus) Singkong DPRD Lampung.
“Di Lampung ada sekitar 78 pabrik tepung tapioka yang membutuhkan pasokan singkong dalam jumlah besar. Karena itu, pengembangan bibit unggul harus segera direalisasikan,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).
Menurut Mikdar, penggunaan bibit unggul berpotensi meningkatkan produktivitas singkong hingga 40–50 ton per hektare.
Hal ini menjadi penting di tengah tren berkurangnya luas lahan tanam akibat sebagian petani beralih ke komoditas lain seperti jagung, padi, dan kelapa sawit.
“Kalau lahannya berkurang tetapi produksinya meningkat, kebutuhan industri tetap bisa terpenuhi,” katanya.
Tak hanya soal kuantitas, bibit unggul juga ditargetkan mampu meningkatkan kadar pati singkong dari rata-rata sekitar 20 persen menjadi 24–25 persen. Peningkatan ini dinilai akan membuat proses produksi tepung tapioka jauh lebih efisien.
“Kalau kadar pati sekarang sekitar 20 persen, pabrik membutuhkan lima kilogram singkong untuk menghasilkan satu kilogram tepung. Kalau naik jadi 25 persen, cukup empat kilogram. Artinya lebih efisien dan harga singkong juga berpotensi lebih baik,” jelasnya.
Terkait harga, Pemprov Lampung telah menetapkan harga acuan melalui Peraturan Gubernur sebesar Rp1.350 per kilogram.
Namun, harga di tingkat petani saat ini justru berada di kisaran Rp2.100 hingga Rp2.200 per kilogram.
“Yang penting jangan sampai harga turun di bawah acuan Pergub. Sekarang justru harga di lapangan berada di atasnya,” ujarnya.
Mikdar menambahkan, pembahasan pengembangan bioetanol belum menjadi prioritas. Seluruh pihak saat ini masih fokus pada penguatan bibit unggul.
Ia menyebut salah satu perusahaan, Bumi Waras, telah mendukung pendanaan program tersebut dan diharapkan perusahaan lain ikut berpartisipasi.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung, produksi ubi kayu mencapai 8,15 juta ton pada 2023.
Dengan potensi lahan sekitar 300 ribu hingga 500 ribu hektare, penggunaan bibit unggul diproyeksikan mampu mendorong produksi hingga 12–15 juta ton per tahun.
“Kalau harga singkong tetap baik, petani pasti terus menanam. Kami optimistis kebutuhan bahan baku industri ke depan tetap bisa terpenuhi,” pungkasnya. (*)
















