Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Kru Dihentikan, Basarnas Tetap Lakukan Pemantauan

- Jurnalis

Jumat, 18 September 2026 - 09:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SERANG – Operasi pencarian dan pertolongan terhadap lima jurnalis dan tiga kru speedboat Arupadhatu I yang hilang di perairan Selat Sunda resmi dihentikan.

Keputusan tersebut diambil setelah Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kansar) Banten menggelar rapat evaluasi bersama seluruh unsur terkait, termasuk Gubernur Banten Andra Soni dan keluarga korban.

Evaluasi dilakukan setelah operasi pencarian berlangsung selama 10 hari. Operasi awal dilaksanakan selama tujuh hari dan kemudian diperpanjang tiga hari atas permintaan keluarga.

Andra Soni mengatakan, selama operasi gabungan berlangsung, tim SAR belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang berada di dalamnya.

“Tadi disampaikan bahwa sejak pelaksanaan hari pertama operasi gabungan pencarian dan pertolongan sampai dengan hari ke-10, setelah perpanjangan tiga hari, secara umum tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun penumpang atau awak yang berada di kapal tersebut,” ujar Andra di Posko SAR Gabungan Marina Carita, Banten, Kamis (17/9/2026).

Selama pencarian, tim SAR gabungan menemukan 13 objek di perairan Selat Sunda. Beberapa di antaranya berupa jaket pelampung, terpal, helm hingga galon.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan dan dikonfirmasi oleh Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud), seluruh temuan tersebut dinyatakan tidak berkaitan dengan Arupadhatu I.

Baca Juga :  Momen Presiden Prabowo Sapa Sherly Tjoanda Disambut Riuh Tepuk Tangan: Pemilu Masih Lama

“Beberapa temuan material atau objek, tercatat ada 13 objek yang ditemukan selama operasi. Setelah dicek dan diteliti, dinyatakan bahwa saat ini temuan tersebut tidak terhubung dengan Arupadhatu I,” kata Andra.

Meski operasi pencarian aktif dihentikan, pemerintah daerah bersama Basarnas memastikan pemantauan di perairan Selat Sunda tetap dilakukan.

Operasi pencarian juga dapat kembali dibuka sewaktu-waktu apabila ditemukan petunjuk baru atau laporan masyarakat yang telah terkonfirmasi.

Andra menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur SAR gabungan yang telah terlibat dalam operasi pencarian selama 10 hari. Ia juga mengapresiasi insan pers yang turut mengawal perkembangan pencarian.

“Semoga kita mendapatkan informasi yang bisa kita tindak lanjuti. Terima kasih kepada rekan media yang 10 hari ini terus membantu operasi ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kansar Banten Al Amrad mengatakan penghentian operasi SAR aktif bukan berarti pencarian informasi mengenai keberadaan korban dihentikan sepenuhnya.

Menurut dia, pemantauan terhadap perairan Selat Sunda tetap dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk Vessel Traffic Service (VTS), Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal), Polairud, serta kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Baca Juga :  Prabowo Lantik Letjen Kristomei Sianturi Jadi Kepala BNPB

“Setelah pencarian ini kita hentikan, kita akan melakukan pemapelan melalui VTS, termasuk dari Lanal, termasuk dari Polair yang melakukan patroli di sekitar situ, termasuk para aktivitas kapal yang melintasi Selat Sunda ini,” terang Al Amrad.

Kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda juga diminta memberikan informasi apabila menemukan benda yang diduga berkaitan dengan Arupadhatu I ataupun menemukan korban.

Al Amrad menegaskan, tidak ada batas waktu khusus untuk pemantauan tersebut.

“Apabila kapal-kapal yang melintas di situ menemukan objek yang mungkin dari kapal Arupadhatu atau survivor, itu akan tetap disampaikan ke kami,” ujarnya.

Dia menjelaskan, penghentian operasi dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) Basarnas.

Operasi SAR pada awalnya berlangsung selama tujuh hari. Setelah itu, operasi diperpanjang selama tiga hari atas permintaan keluarga. Namun, hingga batas waktu tersebut berakhir, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan korban.

“Seperti tadi SOP kami tujuh hari. Setelah itu ada permintaan perpanjangan tiga hari dan itu tidak ada tanda-tanda korban untuk ditemukan. Operasi SAR kita hentikan dan kita lanjutkan dengan broadcast dan pengamanan lain,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait

Siapa di Balik Penyadapan Nomor Presiden? Yusril: Hukum Harus Bicara dengan Bukti
Kasus Penyadapan Ilegal, Ini 3 Pasal yang Menjerat Listyo Sigit, Ahrie Sonta dan Eko Hadi
Sadap Nomor Presiden hingga Tokoh Politik, Tiga Jenderal Polisi Jadi Tersangka
Usai Pelantikan, Gubernur Mirza Titip Pesan Khusus, Komang Koheri Siapkan Program Prioritas untuk Lampung Tengah
I Komang Koheri Resmi Dilantik Jadi Bupati Lampung Tengah
Dukungan Tembus 80,83 Persen, Berkas Pencalonan Wirahadikusumah dan Adi Kurniawan Diserahkan ke PWI Pusat
Bahlil Tegaskan Indonesia Belum Mau Ekspor Listrik, Danantara Diminta Tak Terima Lobi
Hujan Es di Lampung Barat, Atap Rumah Warga Berlubang seperti Kena Tembak
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 09:26 WIB

Siapa di Balik Penyadapan Nomor Presiden? Yusril: Hukum Harus Bicara dengan Bukti

Rabu, 4 November 2026 - 08:45 WIB

Kasus Penyadapan Ilegal, Ini 3 Pasal yang Menjerat Listyo Sigit, Ahrie Sonta dan Eko Hadi

Selasa, 3 November 2026 - 22:49 WIB

Sadap Nomor Presiden hingga Tokoh Politik, Tiga Jenderal Polisi Jadi Tersangka

Selasa, 3 November 2026 - 14:17 WIB

Usai Pelantikan, Gubernur Mirza Titip Pesan Khusus, Komang Koheri Siapkan Program Prioritas untuk Lampung Tengah

Selasa, 3 November 2026 - 12:19 WIB

I Komang Koheri Resmi Dilantik Jadi Bupati Lampung Tengah

Berita Terbaru

Personel Tim Rescue C Damkarmat Kota Bandar Lampung mengevakuasi jasad perempuan lanjut usia yang ditemukan di dalam sumur di belakang rumahnya, Jalan Makmun Isya, Kelurahan Kuripan, Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung, Selasa (3/11/2026). Foto: Ist.

BANDAR LAMPUNG

Enam Hari Ibu Tak Berkabar, Anak Temukan Jasadnya di Dasar Sumur

Rabu, 4 Nov 2026 - 08:32 WIB