LAMPUNGCORNER.COM — Juru Bicara (Jubir) Taliban, Syed Zekrullah Hashmi, menegaskan perempuan Afghanistan tidak bisa terlibat dalam urusan pemerintahan dengan menduduki jabatan publik seperti menteri.
Menurutnya, perempuan hanya memiliki tugas utama melahirkan dan membesarkan anak. Ia menilai kaum hawa tidak dibutuhkan dalam kabinet pemerintahan Afghanistan.
“Perempuan tidak bisa bekerja memimpin kementerian. Itu seperti Anda menaruh sesuatu yang tidak sanggup mereka pikul di leher mereka,” kata Syed Zekrullah Hashmi dalam wawancara dengan Tolo News seperti dikutip Associated Press.
Hasmi juga menegaskan tidak penting bagi pemerintah Afghanistan memiliki wakil perempuan dalam kabinetnya.
Karenanya, ia menyatakan bahwa perempuan yang melakukan aksi unjuk rasa di sejumlah kota dalam beberapa hari terakhir tidak mewakili citra wanita Afghanistan.
“Perempuan Afghanistan adalah mereka yang melahirkan generasi Afghanistan, mendidik mereka, mendidik etika Islam pada mereka,” tegas Hasmi.
Sebelumnya, Taliban menjanjikan perlindungan terhadap hak perempuan dan pembentukan pemerintahan yang inklusif. Hal itu mereka sampaikan saat mengklaim berkuasa penuh atas Afghanistan pada 15 Agustus 2021 lalu.
Namun, hal tersebut tidak tercermin dalam kabinet sementara yang diresmikan Taliban belum lama ini. Setidaknya ada 33 anggota kabinet pemerintahan Afghanistan diisi oleh petinggi veteran Taliban tanpa ada perwakilan kelompok dan golongan lain, termasuk kaum perempuan.
Kendati demikian, Taliban telah menyatakan kaum perempuan Afghanistan diizinkan untuk bersekolah sampai perguruan tinggi, bahkan hingga program pascasarjana.
Namun, kelompok itu tetap menerapkan sejumlah kebijakan yang membatasi kaum perempuan seperti kewajiban bagi perempuan memakai pakaian Islami.
Di antaranya menggunakan hijab, belajar di kelas terpisah dengan siswa laki-laki, hingga pengawasan setiap pelajaran yang diambil mereka.
“Kami tidak akan mengizinkan anak laki-laki dan perempuan untuk belajar bersama,” kata Menteri Pendidikan Tinggi Afghanistan Abdul Baqi Haqqani.
“Kami tidak akan mengizinkan (mereka) menjalani pendidikan bersama,” ia menambahkan.
Tak hanya itu, perempuan Afghanistan juga dilarang berolahraga. Menurut Taliban, olahraga tidak penting bagi kaum perempuan dan hanya membahayakan wanita lantaran berisiko mengekspose bagian tubuh mereka.
Taliban juga dilaporkan menggunakan kekerasan dalam menghadapi aksi demo perempuan Afghanistan yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir di Kabul dan beberapa kota lainnya.
Tak hanya membatasi perempuan, Taliban, yang menganut interpretasi hukum Islam yang ketat, juga melarang musik dan seni selama masa kekuasaan mereka sebelumnya sekitar 1996-2001. (*)
artikel: Rilis.id
Red















