LAMPUNGCORNER.COM, Metro — Wilayah Tempat Pembungan Akhir Sampah (TPAS) di Kelurahan Karangrejo, Metro Utara, Kota Metro, kerap dikeluhkan warga. Pasalnya, lokasi tersebut berdekatan dengan pemukiman warga yang sebelumnyas sudah tinggal disekitar pembuangan sampah tersebut.
Ketua RW O9 Karangrejo, Widodo, menuturkan keluhan itu akibat polusi udara dan aroma tak sedap sampah yang berakibat pada penyakit paru-paru.
Widodo juga mengatakan penyakit tersebut bukan hanya menyerang orang dewasa. Namun juga anak-anak.
“Berhubung tidak ada tempat tinggal, beberapa warga terpaksa tinggal di dekat TPAS itu. Parahnya, warga banyak terkena penyakit paru-paru,” kata dia saat ditemui di kediamannya, Selasa (7/2/2023).
Bahkan, jelas dia, setelah ditanya, anak kecil di sekitar TPAS banyak yang kena flek paru-paru,” sambung dia.
Selain penyakit paru-paru, Wododo juga menjelaskan, jika musim penghujan tiba, penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) lebih masif menyerang warga yang tinggal di dekat TPAS.
Menurutnya, warga sekitar hanya ingin mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkelanjutan.
“Permintaan warga itu sederhana sih, minta kesehatan, pemberian vitamin, dan suplemen imun,” pintanya mewakili warga.
Sementara, warga sekitar, Yanto (38), mengaku jika kini sekitar TPAS sudah mulai membaik. Namun ia tetap mengeluhkan jika angin berhembus dari TPAS menuju pemukiman warga, aromanya sangat mengganggu.
“Sejak 23 tahun saya merasakan ini sampai sekarang,” keluhnya.
Yanto mengaku jika dirinya merupakan salah satu warga yang menderita penyakit paru-paru akibat wilayahnya yang dekat TPAS.
“Kalau warga sekitar, apalagi anak kecil itu hampir mayoritas terkena flek pada paru-parunya, itu sekitaran umur 10 tahun ke bawah. Itu banyak yang kena,” ujarnya.
Serupa dengan Ketua RW 09, Yanto pun mengharapkan ada pelayanan kesehatan yang berkelanjutan untuk warga yang terdampak.
“Kalau tidak salah, itu dua kali melakukan pelayanan kesehatannya, di tahun kemarin. Untuk sekarang tidak ada lagi. Yang katanya sempat ada kabar mau diberikan vitamin, itu tidak ada juga,” ungkapnya.
“Intinya kesehatan itu rutin, dan pemberian gizi itu rutin. Kalau kita mau pemberian gizi untuk lingkungan, harusnya ada komitmennya, berapa bulan sekali gitu. Namun ini tak ada keputusannya. Ini tidak berkelanjutan,” pungkasnya (*)
Red









