LampungCorner.com,Tubaba— Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke 80, jagat media sosial diramaikan oleh fenomena unik, yaitu berkibarnya bendera Jolly Roger, simbol bajak laut dari serial anime dan manga populer One Piece, di sejumlah wilayah Indonesia.
Sejumlah unggahan di platform media sosial, menunjukkan bendera bergambar tengkorak dengan topi jerami khas karakter Monkey D.Luffy dikibarkan berdampingan dengan bendera Merah Putih.
Fenomena ini menuai beragam reaksi. Sebagian warganet memandangnya sebagai bentuk ekspresi kreatif generasi muda yang merayakan kemerdekaan dengan semangat kebebasan dan petualangan ala bajak laut Topi Jerami. Namun, tidak sedikit pula yang mengkritik tindakan tersebut karena dianggap tidak menghormati simbol negara.
Menurut satu di antara pengamat daerah asal Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, Ahmad Basri, pengibaran bendera One Piece harus dibaca bukan sebagai sikap anti kebangsaan atau tidak nasionalisme, melainkan juga dapat dibaca sebagai ekspresi kekecewaan kolektif terhadap wajah negara yang gagal memberi makna sejati dari kemerdekaan itu sendiri.
“Bendera bajak laut menjadi simbol satir bahwa rakyat merasa seperti awak kapal yang tersesat, tidak tahu arah, ditinggal nahkoda. Kalau kemerdekaan hanya dimaknai sebagai kebebasan dari penjajahan fisik kolonial Belanda dan Jepang tentu jawabannya memang kita sudah merdeka,” ujar Ahmad Basri yang juga selaku Ketua K3PP Tubaba, kepada media, Sabtu (02/08/2025).
Menurutnya, kalau kemerdekaan dimaknai sebagai kebebasan untuk hidup layak, mendapatkan keadilan, pendidikan, kesehatan, hingga kesejahteraan, maka mayoritas rakyat mungkin menjawab belum. Kemerdekaan itu masih mimpi.
“Realitasnya kemiskinan masih menjadi potret sehari-hari. Ketimpangan semakin menganga. Harga-harga kebutuhan pokok mencekik, lapangan pekerjaan sulit dan akses terhadap pelayanan publik makin mahal. Sementara itu elit-elit politik hidup dalam kemewahan dan memperlihatkan gaya hidup borjuis. Terlihat gaya berbusana pesta, mobil mewah, pamer kekuasaan jabatan. Itu yang selalu dipertontonkan di hadapan rakyat,” tuturnya.
Dalam situasi semacam itu rakyat tidak lebih dari penonton dalam panggung besar kemerdekaan. Mereka hanya disebut saat Pemilu tiba atau ketika dibutuhkan sebagai massa. Rakyat tak pernah benar-benar menjadi subjek dalam pembangunan bangsa. Rakyat masih dianggap badut sirkus.
“Wajar jika bendera One Piece simbol bajak laut dikibarkan. Itu simbol representasi kekecewaan atas kemerdekaan yang dianggap palsu. Kemerdekaan masih sebatas teks proklamasi akan tetapi tidak pernah hadir dalam kehidupan sehari-hari rakyat kecil,” ungkapnya.
Menjadi satu catatan bersama bahwa kolonialisme hari ini tidak datang dengan senapan dan seragam militer. Akan tetapi datang dalam bentuk kebijakan yang mencekik, utang negara yang tak berujung, eksploitasi sumber daya oleh oligarki dan sistem politik transaksional. Negara tak lagi menjadi pelindung rakyat justru menjadi pelayan para pemilik modal.
“Kekayaan alam negeri ini dari Sabang sampai Merauke hanya menjadi komoditas ekspor dan bancakan elite. Rakyat tetap miskin di tengah sumber daya yang melimpah. Bahkan pada usia 80 tahun kemerdekaan wajah indonesia masih buram dan terjebak dalam cengkeraman neokolonialisme baik dari luar maupun dari dalam negeri sendiri,” jelasnya.
Maka, lanjut dia, jangan buru – buru menyalahkan mereka yang mengibarkan bendera One Piece. Justru harus bertanya mengapa semangat cinta tanah air hari ini diekspresikan lewat simbol perlawanan bendera One Piece?. Bisa jadi karena rakyat tidak menemukan ruang untuk menyuarakan melalui kanal-kanal saluran formal. Mereka tidak anti Merah Putih. Mereka hanya kecewa karena Merah Putih terasa kehilangan makna kesejarahannya.
“Di usia 80 tahun kemerdekaan bangsa indonesia seharusnya merayakan kedewasaan dengan introspeksi bukan hanya seremoni semata. Kita butuh lebih dari sekadar sebatas parade, lomba-lomba, panjat pinang atau lari karung. Bukan itu arti kemerdekaan,” pungkasnya. (Rian)
















