LampungCorner.com, LAMPUNG TIMUR – Wabah Penyakit Kuku dan Mulut (PMK) kembali menghantui peternak. Kali ini, ratusan ekor sapi di tiga dusun Desa Tegal Yoso, Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur, diduga terpapar virus berbahaya tersebut.
Dampaknya tak main-main. Puluhan ekor sapi dilaporkan mati, sementara puluhan lainnya terpaksa dijual dengan harga murah karena kondisi yang terus memburuk.
Priyanto, salah satu peternak setempat, menggambarkan situasi yang kian mengkhawatirkan. Ia menyebut wabah telah menyebar luas di Dusun 1, 2, dan 3.
“Puluhan sapi mati. Yang masih hidup banyak yang terpaksa dijual murah, dan sebagian lagi hanya bisa tergeletak lemah,” ungkapnya, Senin (23/3/2026).
Ia juga menyampaikan kekecewaannya karena merasa belum ada penanganan langsung di lapangan saat kondisi ternak semakin kritis.
“Mungkin masih suasana Lebaran, jadi belum ada bantuan langsung. Padahal kondisi sapi warga sudah sangat parah,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Lampung Timur, Dwi Giyarti, membenarkan adanya wabah PMK di wilayah tersebut.
“Iya, benar. Kami sudah memantau dan langsung mengirim dua petugas ke lapangan, terdiri dari tenaga medik dan mantri hewan. Informasi lanjutan akan segera kami sampaikan,” ujarnya melalui sambungan telepon.
Secara umum, sapi yang terjangkit PMK menunjukkan gejala seperti demam tinggi mencapai 39–41 derajat Celsius, produksi air liur berlebih hingga berbusa, serta munculnya luka atau lepuh di bagian mulut, termasuk lidah, gusi, moncong, hingga sela kuku. Kondisi ini membuat sapi tampak lemas, kehilangan nafsu makan, dan pincang akibat luka pada kaki.
Sebagai langkah pencegahan, peternak diimbau untuk segera memisahkan ternak yang sakit dari yang sehat, melaporkan kasus ke Dinas Peternakan atau Puskeswan setempat, serta rutin melakukan disinfeksi kandang.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan agar tidak menjual ternak yang sedang sakit karena berpotensi memperluas penyebaran virus. (*)
Editor: Furkon Ari










