LampungCorner.com,Tubaba— Sektor perikanan Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, terus menunjukkan peran strategis dalam menopang ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat.
Sepanjang 2025 lalu, kinerja perikanan budidaya dan perikanan tangkap di daerah ini tercatat mengalami pertumbuhan positif, seiring meningkatnya produksi dan konsumsi ikan masyarakat.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tubaba, Iskandar, didampingi Sekretaris Satyono Jati Utomo dan Kepala Bidang Penguatan Daya Saing Produk Perikanan Patria Sanjaya Putra, mengatakan capaian sektor perikanan pada 2025 menjadi modal penting untuk mendorong target yang lebih tinggi pada 2026.
“Secara umum, produksi perikanan Tubaba tahun 2025 mengalami peningkatan sekitar 2 hingga 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Iskandar saat dikonfirmasi media, Senin (19/01/2026).
Berdasarkan data Dinas Perikanan Tubaba, total produksi perikanan budidaya sepanjang 2025 mencapai 4.786,26 ton, jauh melampaui produksi perikanan tangkap yang tercatat sebesar 632,46 ton. Kondisi ini menegaskan perikanan budidaya sebagai tulang punggung sektor perikanan di Tubaba.
“Komoditas unggulan budidaya masih didominasi ikan lele dengan produksi sekitar 2.650 ton, disusul nila sekitar 590 ton, ikan mas sekitar 400 ton, gurame sekitar 310 ton, serta patin sekitar 270 ton. Sementara itu, perikanan tangkap di perairan darat Tubaba menghasilkan berbagai jenis ikan lokal seperti baung, jelabat, betok, gabus, dan lais, yang menjadi konsumsi utama masyarakat setempat,” terangnya.
Menurut Iskandar, sekitar 90 persen produksi perikanan, baik budidaya maupun tangkap, berada di Kecamatan Tumijajar, Tulang Bawang Udik, dan Tulang Bawang Tengah. Ketiga wilayah tersebut berkembang sebagai sentra utama perikanan daerah.
“Seiring meningkatnya produksi, tingkat konsumsi ikan masyarakat Tubaba juga menunjukkan tren positif. Angka Konsumsi Ikan (AKI) pada 2025 tercatat mencapai 36,51 kilogram per kapita per tahun, naik dari 34,2 kilogram pada tahun sebelumnya,” paparnya.
Peningkatan ini, lanjut Iskandar, turut dipengaruhi juga oleh pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asupan protein hewani, khususnya dari ikan.
Meski menunjukkan kinerja positif, pengembangan sektor perikanan Tubaba masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah keterbatasan ketersediaan dan kualitas air, karena beberapa usaha budidaya masih bergantung pada aliran Sungai Way Rarem.
“Selain itu, ketersediaan benih ikan berkualitas masih menjadi kendala, sehingga pembudidaya harus bergantung pada pasokan dari luar daerah seperti Kalirejo (Pringsewu) dan Kota Metro. Faktor lain yang cukup membebani adalah tingginya harga pakan yang meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Keterbatasan sarana dan infrastruktur pendukung juga masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian,” ujar Iskandar.
Menghadapi 2026, Dinas Perikanan Tubaba menyiapkan sejumlah langkah strategis. Untuk perikanan budidaya, pengembangan akan difokuskan pada lele dan nila, mengingat siklus produksi yang relatif singkat, yakni sekitar 2–3 bulan.
“Upaya peningkatan produksi benih akan diperkuat melalui Balai Benih Ikan (BBI) Mulya Asri serta 108 Unit Pembenihan Rakyat (UPR) yang tersebar di Tubaba. Target produksi perikanan budidaya pada 2026 dipatok meningkat sekitar 5 persen dibandingkan capaian 2025,” tuturnya.
Sementara itu, pengembangan perikanan tangkap akan diarahkan pada pemberdayaan nelayan, pendampingan teknis, serta pengusulan bantuan alat tangkap apabila tersedia program pendukung. Produksi perikanan tangkap ditargetkan tumbuh sekitar 2 persen pada 2026.
“Saat ini, tercatat terdapat 2.690 pembudidaya ikan dan 218 nelayan murni yang telah tervalidasi di Kabupaten Tubaba. Namun, dengan keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), kami berharap adanya dukungan lebih luas dari program bantuan tingkat nasional agar pengembangan perikanan budidaya dan tangkap dapat berjalan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku perikanan di Tubaba,” pungkasnya. (Rian)
















