Lampungcorner.com – Beredar sebuah video yang memperlihatkan kondisi siswa-siswa yang hendak menyebrangi sungai yang disebut berada di Desa Kalipasir, Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur.
Dalam video dengan durasi satu menit itu, terdapat narasi yang menyorot belum terbangunnya jembatan penghubung antara Kalipasir–Way Bungur.
Bahkan warga dan siswa yang hendak beraktivitas juga terpaksa harus menyeberangi sungai dengan bantuan kapal kecil tanpa perlengkapan keselamatan.
Tak hanya itu, dalam video juga menyebutkan bahwa Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela sudah merespons keluhan warga.
Namun mereka menyebut Jihan meminta untuk menghentikan pemviralan video tersebut.
“Terima kasih untuk Wakil Gubernur Lampung yang semalam sudah telepon dan suruh menghentikan video saya. Saya tidak akan pernah berhenti sebelum jembatan ini benar-benar dibangun,” ujar perekam video dalam unggahan yang beredar pada Minggu 1 Februari 2026.
Dia menambahkan merasa miris dengan kondisi ini memgingat Desa Kalipasir sudah ada sejak 1960.
“Jadi kalau memang enggak bisa kerja, enggak usah kerja. Kalian itu digaji sama rakyat tapi fasilitas rakyat enggak diutamakan,” katanya.
Sayangnya salah satu akun yang memposting video tersebut tak membalas ketika Rilis ID mencoba mengkonfirmasi pemberitaan ini.
Sementara itu berdasarkan postingan Akun Instagram @Mirzajihan_ memberikan klarifikasi atas video viral tersebut.
Beredar di media sosial sebuah video dengan narasi seolah-olah Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menelepon warga yang memprotes kondisi jalan dan pembangunan jembatan, serta menyuruh warga untuk menghentikan perekaman video. Narasi tersebut tidak benar dan merupakan fitnah.
Perlu kami tegaskan bahwa:
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela tidak pernah menelepon warga, baik terkait kondisi jalan maupun pembangunan jembatan.
Tidak pernah ada perintah untuk menghentikan perekaman video atau bentuk intimidasi apa pun kepada warga.
Pemerintah Provinsi Lampung terbuka terhadap aspirasi, kritik, dan masukan masyarakat terkait infrastruktur jalan dan jembatan.
Dengan demikian, narasi yang beredar merupakan informasi keliru yang berpotensi menyesatkan publik. Masyarakat diimbau untuk lebih cermat memverifikasi kebenaran informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh potongan video yang beredar tanpa konteks yang jelas.















