Lampungcorner.com, Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung terus mendorong penguatan transformasi ekonomi daerah melalui hilirisasi komoditas strategis sebagai upaya meningkatkan nilai tambah, daya saing, dan ketahanan ekonomi daerah.
Komitmen tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan saat menjadi keynote speaker pada Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Semester I 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia di Marriott Resort Pesawaran, Selasa (28/4/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Perspektif Pemerintah Provinsi Lampung terhadap Hilirisasi Komoditas Strategis” tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong transformasi ekonomi Lampung yang bernilai tambah, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari fungsi Bank Indonesia sebagai mitra strategis pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, dalam menjalankan fungsi strategic advisory guna mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan daerah.
“Melalui forum ini, kami berharap seluruh pihak dapat bersama-sama memberikan kontribusi terbaik bagi perekonomian daerah, sekaligus memperkuat pemahaman mengenai kondisi ekonomi Provinsi Lampung saat ini maupun prospeknya ke depan,” ujarnya.
Dalam paparannya, Sekdaprov Marindo Kurniawan menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Lampung menunjukkan kinerja positif.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2025 tercatat sebesar 5,28%, melampaui rata-rata nasional dan meningkat dibanding tahun sebelumnya sebesar 4,57%.
Capaian tersebut terutama ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai tulang punggung perekonomian daerah.
Selain pertumbuhan yang terjaga, Provinsi Lampung juga mencatat inflasi yang terkendali di kisaran 2,5%, tingkat pengangguran sebesar 4,14%, serta penurunan angka kemiskinan menjadi satu digit, yakni 9,6%.
Menurut Marindo, capaian tersebut menjadi modal penting, namun sekaligus menegaskan perlunya transformasi ekonomi agar Lampung tidak hanya bertumpu pada sektor primer, tetapi mampu mengembangkan nilai tambah melalui hilirisasi.
“Sektor pertanian harus beranjak dari sekadar penyedia bahan baku menjadi penggerak industri hilirisasi yang memberikan nilai tambah lebih besar. Yang kita dorong adalah transformasi dari pertanian tradisional menuju pertanian modern, karena di situlah ruang pertumbuhan ekonomi baru dapat dibangun,” ujar Marindo.
Ia menjelaskan, salah satu tantangan utama ekonomi Lampung saat ini adalah masih besarnya porsi komoditas yang dijual dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi, sehingga nilai tambah lebih banyak dinikmati di luar daerah.
Karena itu, hilirisasi dipandang sebagai strategi untuk memperkuat daya saing sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam konteks tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung mendorong hilirisasi berbasis desa melalui program unggulan Desaku Maju, yang dirancang sebagai ekosistem ekonomi desa dari hulu hingga hilir.
Program tersebut mencakup penyediaan pupuk hayati cair di ribuan titik, bantuan dryer pertanian untuk sentra produksi, penguatan vokasi dan kapasitas sumber daya manusia desa, hingga pembangunan jalan desa untuk mendukung distribusi dan efisiensi rantai pasok komoditas.
Menurut Marindo, pendekatan ini menempatkan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus memastikan manfaat hilirisasi dapat langsung dirasakan masyarakat.
“Kalau ekonomi Lampung ingin tumbuh kuat, maka desa harus tumbuh. Karena itu kita memastikan ekonomi bertumbuh dari desa, tidak hanya bertumpu pada pusat-pusat produksi. Hilirisasi harus menghadirkan nilai tambah yang tinggal di desa dan dinikmati petani kita,” tegasnya.
Ia juga mencontohkan inovasi hilirisasi yang mulai berkembang di sejumlah daerah, seperti pengolahan singkong menjadi tepung mocaf di Pringsewu, serta penguatan model bisnis komoditas strategis yang dapat direplikasi melalui kolaborasi lintas kabupaten/kota.
Marindo turut mengapresiasi peran Bank Indonesia yang selama ini intensif mendampingi pemerintah daerah dan masyarakat dalam menginisiasi pengembangan model bisnis serta integrasi ekonomi komoditas di Provinsi Lampung.
Dengan kolaborasi yang erat dan langkah yang terarah, Provinsi Lampung patut optimistis mampu menjadi daerah yang tidak hanya kuat sebagai produsen komoditas.
Tetapi juga unggul dalam pengolahan dan distribusi, serta berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional. (*)









