Mantan Birokrat Senior dan Tokoh Masyarakat Lampura Dukung Pinjaman Daerah Rp150 Miliar

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 18:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tokoh masyarakat, Ansyori Sabak (kiri baju putih bergaris) dan mantan Wakil Bupati Tulang Bawang Barat, Fauzi Hasan (kanan).

Tokoh masyarakat, Ansyori Sabak (kiri baju putih bergaris) dan mantan Wakil Bupati Tulang Bawang Barat, Fauzi Hasan (kanan).

LampungCorner.com, LAMPUNG UTARA – Dukungan terhadap rencana pinjaman daerah senilai Rp150 miliar yang akan diajukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Utara (Lampura) kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) terus mengalir. Di tengah silang pendapat antarfraksi DPRD, langkah yang diambil Bupati Hamartoni Ahadis dan Wakil Bupati Romli justru mendapat penguatan dari kalangan tokoh masyarakat hingga mantan birokrat senior.

Tokoh masyarakat sekaligus mantan birokrat senior, Fauzi Hasan, menilai skema pembiayaan melalui pinjaman daerah merupakan langkah realistis di tengah keterbatasan fiskal yang saat ini dialami banyak daerah.

Menurutnya, kondisi infrastruktur dan tuntutan pelayanan publik tidak memungkinkan pemerintah daerah hanya bergantung pada kemampuan anggaran rutin.

“Semua daerah hari ini mengalami kesulitan fiskal. Kalau pemerintah daerah tidak bergerak, pembangunan bisa stagnan. Ketika stagnan, itu artinya mundur,” kata Fauzi Hasan saat ditemui di kediamannya, Rabu (20/5/2026).

Mantan Wakil Bupati Tulang Bawang Barat itu menegaskan, pinjaman daerah tidak seharusnya dipandang semata sebagai beban keuangan.

Ia menilai, selama dilakukan berdasarkan kebutuhan objektif masyarakat dan diiringi tata kelola anggaran yang disiplin, pinjaman dapat menjadi instrumen percepatan pembangunan.

Baca Juga :  BKPSDM Lampura Pastikan Tiga ASN Terpidana Korupsi Wajib PTDH, UPS Harus Dikembalikan

Fauzi mencontohkan, kerusakan jalan yang dibiarkan tanpa penanganan justru akan memperbesar biaya pembangunan pada masa mendatang.

“Kalau jalan berlubang saat ini tidak diperbaiki, satu tahun lagi kerusakannya bisa lebih parah. Biaya perbaikannya juga semakin besar. Itu bentuk kemunduran,” ujarnya.

Meski mendukung, Fauzi mengingatkan agar penggunaan dana pinjaman dilakukan secara terukur, terarah, dan fokus pada program prioritas yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Boleh pinjam, tetapi harus terkendali. Penggunaannya harus efektif, efisien, dan arahnya jelas,” katanya.

Selain itu, Fauzi juga mendorong adanya semangat gotong royong pembangunan dengan melibatkan sektor swasta di Lampura.

Menurut dia, perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di wilayah tersebut semestinya turut berkontribusi membantu pembangunan infrastruktur, khususnya perbaikan jalan, di luar program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Ia mengusulkan pemerintah daerah bersama DPRD dapat menggandeng para pelaku usaha untuk ikut memperbaiki ruas jalan strategis, sebagaimana yang pernah dilakukan di sejumlah daerah lain di Lampung.

Dukungan serupa juga disampaikan tokoh masyarakat Lampura, Ansyori Sabak. Ia menilai masyarakat saat ini lebih membutuhkan solusi nyata atas kerusakan infrastruktur dibandingkan perdebatan politik terkait sumber pembiayaan pembangunan.

Baca Juga :  Revitalisasi Pasar Dekon Lampura Tak Kunjung Rampung, Pedagang Mulai Pertanyakan Uang yang Disetor

Menurut Ansyori, persoalan utama yang dirasakan masyarakat adalah buruknya kondisi jalan yang menghambat aktivitas ekonomi warga.

“Masyarakat tidak terlalu mempersoalkan uang itu dari mana. Yang penting jalan-jalan rusak yang selama ini menjadi keluhan segera diperbaiki,” kata Ansyori.

Ia bahkan mempertanyakan sikap salah satu anggota DPRD Lampura dari partai pengusung kepala daerah yang menolak rencana pinjaman tersebut. Padahal, menurutnya, pembangunan infrastruktur saat ini sudah berada pada tahap mendesak.

Ansyori menilai perbedaan pandangan politik seharusnya tidak menghambat agenda pembangunan yang menyangkut kepentingan masyarakat luas. Terlebih, akses jalan memiliki pengaruh besar terhadap distribusi hasil pertanian seperti beras, singkong, jagung, dan komoditas lainnya.

“Bagaimana harga hasil pertanian bisa baik kalau akses jalannya rusak? Distribusi terganggu, biaya angkut naik. Kalau dibiarkan, kerusakan makin parah dan biaya perbaikannya justru lebih besar,” ujarnya. (*)

Berita Terkait

BKPSDM Lampura Pastikan Tiga ASN Terpidana Korupsi Wajib PTDH, UPS Harus Dikembalikan
Transparansi Seleksi JPTP Lampura Dipertanyakan, Hasil Tiga Besar Masih Jadi Misteri
Baru Dilantik, 10 Pejabat Lampura Langsung Dikejar Target
Seleksi Terbuka JPTP Lampura Masuk Tiga Besar, Nama dan Nilai Peserta Masih Dirahasiakan
Lampung Rebut Juara 1 Newsroom Timnas
Kejari Lampura Musnahkan Barang Bukti 42 Perkara, Ada Sabu dan Senpi Rakitan
Gubernur Mirza dan Bupati Hamartoni Cek Jalan Lampura, Rp76 Miliar Disiapkan Lewat Inpres
60 ASN Berebut 11 Kursi JPTP Lampura, Berikut Nama dan Jabatan dengan Pelamar Terbanyak
Berita ini 66 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:41 WIB

BKPSDM Lampura Pastikan Tiga ASN Terpidana Korupsi Wajib PTDH, UPS Harus Dikembalikan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:57 WIB

Transparansi Seleksi JPTP Lampura Dipertanyakan, Hasil Tiga Besar Masih Jadi Misteri

Senin, 12 Oktober 2026 - 19:35 WIB

Baru Dilantik, 10 Pejabat Lampura Langsung Dikejar Target

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:30 WIB

Seleksi Terbuka JPTP Lampura Masuk Tiga Besar, Nama dan Nilai Peserta Masih Dirahasiakan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:57 WIB

Lampung Rebut Juara 1 Newsroom Timnas

Berita Terbaru