LAMPUNGCORNER.COM, Maluku Tengah — Potensi tsunami tidak hanya terjadi di wilayah Pulau Jawa. Ancaman air bah juga berpotensi di pesisir Maluku Tengah.
Hal itu diungkapkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati.
Dwikorita mengungkapkan bencana tsunami non-tektonik yaitu tsunami yang bukan disebabkan gempa. Potensi ancamannya cukup besar.
Menurutnya, hasil penelusuran dan verifikasi zona bahaya yang dilakukan BMKG di Pulau Seram menunjukkan bahwa sepanjang garis pantai pulau tersebut merupakan laut dalam dengan tebing-tebing curam yang sangat rawan longsor.
“Gempa menjadi trigger terjadinya longsor yang kemudian menyebabkan gelombang. Dalam pemodelan, dapat disimpulkan apakah berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak. Bisa saja tidak, tapi ternyata gempa tersebut malah membuat longsor bawah laut yang kemudian memicu tsunami,” ujar Dwikorita dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/9/2021).
Dwikorita menyatakan bahwa pernah terjadi longsoran jejak tanah di Negeri Tehoru, Maluku Tengah. Warga setempat bahkan telah menghitung kedalaman laut dari batas bibir pantai.
”Jarak 3 meter dari bibir pantai, kedalaman laut sudah mencapai 23 meter,” ungkapnya.
Hingga saat ini, masih kata Dwikorita, belum ada negara di dunia yang mampu mendeteksi tsunami non-tektonik secara cepat, tepat dan akurat.
Sistem peringatan dini yang dibangun negara-negara di dunia adalah sistem peringatan dini tsunami akibat goncangan gempa bumi dan selama ini yang bisa dilakukan hanyalah memantau muka air laut dengan buoy atau tide gauge.
Meski begitu, cara tersebut kurang efektif karena sifat alat yang baru bisa menginformasikan usai kejadian tsunami sehingga warning yang diberikan terlambat, tsunami sudah datang.
“Karena dipicu oleh longsoran bawah laut, maka estimasi waktu kedatangan tsunami bisa sangat cepat. Hanya dalam hitungan kurang dari 3 menit, seperti yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah,” papar Dwikorita.
Dwikorita pun meminta masyarakat yang berada di sepanjang garis pantai di Pulau Seram untuk segera melakukan evakuasi mandiri, apabila merasakan getaran atau guncangan tanah atau gempa bumi tanpa harus menunggu peringatan dini BMKG.
“Belajar dari pengalaman, tidak usah menunggu peringatan dini tsunami. Segera lari begitu merasakan getaran tanah atau gempa. Jauhi pantai dan segera lari ke bukit-bukit atau tempat yang lebih tinggi,” pintanya.
Lebih lanjut, Dwikorita mengatakan bahwa Kepulauan Maluku memiliki sejarah panjang gempa bumi dan tsunami.
Karenanya, ia berharap pemerintah daerah dengan pihak terkait dapat melakukan berbagai upaya mitigasi guna mengurangi dampak dan risiko kerugian jika sewaktu-waktu bencana gempa dan tsunami terjadi.
“Masyarakat harus terus dilatih sehingga tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi, disamping penyiapan tempat evakuasi yang secepat mungkin dapat dicapai, melalui jalur-jalur evakuasi yang aman yang disertai rambu-rambu yang jelas,” pungkasnya. (*)
Red









