NCC Unila Jadi Harapan Baru Petani Singkong Lampung, Bibit Unggul Ditargetkan Siap 2027

- Jurnalis

Jumat, 24 Juli 2026 - 22:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LampungCorner.com, BANDAR LAMPUNG – Kehadiran National Cassava Centre (NCC) di Universitas Lampung (Unila) diharapkan menjadi titik balik bagi industri tapioka dan kesejahteraan petani singkong di Provinsi Lampung.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menilai, pusat riset tersebut menjadi langkah strategis untuk mendongkrak produktivitas singkong, memperkuat daya saing industri tapioka, sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

Harapan itu disampaikan Mirza usai peresmian NCC di lingkungan Universitas Lampung oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Jumat (24/7/2026).

Menurut Mirza, NCC diharapkan mampu menghasilkan bibit singkong unggul yang lebih produktif, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan industri. Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan bibit hasil riset tersebut mulai diproduksi dan dimanfaatkan petani pada 2027.

“National Cassava Centre kita ingin meningkatkan daya saing industri tapioka dan juga produktivitas petani singkong,” kata Mirza.

Dia menegaskan, keberadaan pusat riset tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan penelitian. Hasil inovasi harus bisa diterapkan langsung di lahan pertanian sehingga petani memperoleh manfaat nyata.

“Dari pusat riset ini kita menargetkan menemukan bibit unggul yang baik, yang efisien, produktivitasnya tinggi, sesuai kebutuhan industri, sehingga petani jauh lebih makmur dan industri tapioka memiliki daya saing di pasar internasional. Persiapan produksi bibit ditargetkan pada 2027 sudah bisa dimanfaatkan petani,” ujarnya.

Baca Juga :  Lahan 2.300 Meter Persegi di Totokaton Hasilkan Pangan dari Kebun hingga Ternak

Dalam sambutannya, Mirza juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas atas dukungan terhadap pembangunan NCC di Universitas Lampung.

Menurut dia, peresmian pusat riset tersebut bukan sekadar menandai hadirnya lembaga penelitian baru. Lebih dari itu, NCC diharapkan menjadi awal terbentuknya ekosistem yang menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, dunia industri, dan kesejahteraan petani.

Lampung sendiri merupakan sentra produksi singkong terbesar di Indonesia, dengan kontribusi lebih dari 70 persen terhadap produksi nasional. Sebanyak delapan dari 15 kabupaten di Lampung menjadi daerah utama penghasil komoditas tersebut.

“Singkong sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lampung,” tambahnya.

Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Industri tapioka Lampung masih harus bersaing ketat dengan Thailand dan Vietnam, dua negara yang juga menjadi pemain besar dalam industri tapioka dunia.

Mirza menilai, negara pesaing memiliki dukungan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas. Sementara itu, petani dan industri di Indonesia dinilai masih berjalan sendiri-sendiri sehingga daya saing belum optimal.

Kondisi tersebut turut memengaruhi harga singkong di tingkat petani. Demi menjaga harga produk tetap kompetitif di pasar internasional, industri kerap menekan harga bahan baku. Dampaknya dirasakan sekitar 500 ribu petani singkong di Lampung yang menggantungkan hidup pada komoditas tersebut.

Baca Juga :  Presiden PKS Bakal Hadiri Pesta Rakyat Petani di Pringsewu, Riyono: Bukti Keberpihakan

Selama puluhan tahun, petani cenderung memperluas lahan tanam untuk mengejar keuntungan. Padahal, negara pesaing justru mendorong peningkatan produktivitas melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi.

Mirza juga menyoroti fluktuasi harga singkong dalam 15 tahun terakhir. Menurut dia, kenaikan harga yang signifikan hanya terjadi dua kali, yakni pada 2014 dan 2021. Kenaikan tersebut bukan dipicu peningkatan produktivitas dalam negeri, melainkan kegagalan panen di Thailand akibat bencana dan fenomena El Nino.

“Nasib petani kita selama ini justru bergantung pada kondisi negara lain. Ketika Thailand gagal panen harga naik, tetapi saat mereka panen raya harga kembali jatuh. Kondisi seperti ini tidak boleh terus terjadi,” tegasnya.

Karena itu, Mirza berharap NCC mampu menjadi pusat inovasi yang melahirkan varietas singkong unggul serta teknologi budi daya yang lebih efisien.

Dengan dukungan riset dan penerapan teknologi, produktivitas diharapkan meningkat, biaya produksi dapat ditekan, dan industri tapioka nasional semakin kompetitif di pasar internasional.

Pada akhirnya, keberhasilan NCC tidak hanya diukur dari temuan ilmiah, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan petani. Targetnya jelas: singkong Lampung semakin produktif, industri tapioka semakin kuat, dan kesejahteraan petani ikut meningkat. (*)

Berita Terkait

Presiden PKS Bakal Hadiri Pesta Rakyat Petani di Pringsewu, Riyono: Bukti Keberpihakan
Lahan 2.300 Meter Persegi di Totokaton Hasilkan Pangan dari Kebun hingga Ternak
Panen Raya di Pasir Sakti, Program Petani Mitra Adhyaksa Buktikan Sinergi untuk Kesejahteraan Petani
Peneliti Soroti Potensi Sorgum, Kunci Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 19:20 WIB

Presiden PKS Bakal Hadiri Pesta Rakyat Petani di Pringsewu, Riyono: Bukti Keberpihakan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 21:03 WIB

Lahan 2.300 Meter Persegi di Totokaton Hasilkan Pangan dari Kebun hingga Ternak

Kamis, 30 Juli 2026 - 18:09 WIB

Panen Raya di Pasir Sakti, Program Petani Mitra Adhyaksa Buktikan Sinergi untuk Kesejahteraan Petani

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:59 WIB

Peneliti Soroti Potensi Sorgum, Kunci Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Jumat, 24 Juli 2026 - 22:34 WIB

NCC Unila Jadi Harapan Baru Petani Singkong Lampung, Bibit Unggul Ditargetkan Siap 2027

Berita Terbaru