LAMPUNGCORNER.COM, Menteri BUMN Erick Thohir menjelaskan alasan Perum Bulog tidak masuk ke dalam Holding BUMN Pangan atau ID Food. Adapun holding ini resmi dibentuk pada 8 Januari 2022 lalu, ditandai dengan pengalihan saham dalam penandatanganan akta inbreng antara pemerintah, lima BUMN, dan RNI.
Kelima BUMN yang dialihkan sahamnya ke RNI adalah PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, PT Sang Hyang Seri, PT Perikanan Indonesia, PT Berdikari (Persero), dan PT Garam (Persero).
Dia menjelaskan, ada perbedaan fungsi yang diemban Bulog dengan ID Food. Pertama, fungsi Bulog yaitu sebagai stabilisator harga pangan. Lalu untuk holding pangan sendiri akan difokuskan ke market oriented.
“Satu, Bulog sebagai stabilisator, di mana Bulog intervensi ketika harga naik lalu Bulog bisa beli barang-barang dengan nilai tertentu, dimasukkan sebagai cold storage atau pergudangan untuk menjaga stabilitas harga. Lalu holding pangan dibentuk untuk fokus kepada market,” jelas Erick dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR Bersama Menteri BUMN, Selasa (25/1).
Selanjutnya, dia mencontohkan fungsi market oriented holding pangan atau ID Food yang baru dibentuknya tersebut terlihat salah satunya apa yang dilakukan oleh Perinus-Perindo. Erick menyebut dia sudah rapat dengan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono.
“Perinus-Perindo tidak lagi punya kapal yang bersaing dengan nelayan, Perinus-Perindo jadi offtaker yang mendampingi nelayan dengan produk yang standarisasi. Kemarin kita uji coba, contohnya gurita,” lanjut dia.
Komoditas gurita tersebut saat ini melalui standarisasi kualitasnya agar bisa bersaing di pasar internasional. Erick mengatakan, gurita ini setelah distandarisasi, lalu di-steam, dan di-vacuum, lalu dikirim ke luar negeri.
Dia melanjutkan, contoh lainnya juga dilakukan oleh PT Sang Hyang Seri. Perusahaan tersebut saat ini tidak lagi bersaing dengan beras petani yang kualitasnya ditujukan untuk kebutuhan domestik, namun menjadi offtaker dengan beras berkualitas tinggi untuk diekspor ke Timur Tengah.
“Peran (holding) pangan kita menjadi offtaker, tidak lagi menyaingi para petani, nelayan, peternak, ini tentu butuh konsolidasi yang dilakukan secara bertahap,” tuturnya.
Erick juga mencontohkan keberhasilan program Makmur, ekosistem yang dibangun PT RNI, PT Pupuk, Bank Himbara, dan Asuransi Jasindo. Program tersebut, kata dia, difokuskan untuk komoditas tebu, jagung, dan beras.
“Ada bantuan pinjaman dari Bank himbara, lalu PT Pupuk memberikan pupuk dan bibit yang baik, lalu RNI offtaker bersama swasta. Targetnya 50 ribu hektare sekarang mencapai 85 ribu hektare. Sudah terjadi di tahun kemarin, sehingga petani naik pemasukannya sampai 30 persen,” tutup dia.
Red















