LAMPUNGCORNER.COM, Bandarlampung — Kodri terihat memarkirkan mobil angkutan kota (angkot) nya di tepi jalan depan Taman Tugu Juang Bandarlampung. Tulisan “Cantik” terihat di bagian kaca depan angkotnya. Sambil melirik ke arah seberang dan belakang, Kodri membuka pintu angkotnya dengan perlahan.
Kepalanya ia tutupi dengan topi untuk menghindari teriknya cahaya matahari siang itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Ia lalu berdiri bersandar di badan mobilnya, sembari mengangkat tangan untuk menawarkan tumpangan kepada orang-orang yang berjalan kaki.
Warga Kecamatan Tanjungsenang berperawakan kurus dan kulit hitam itu, harus bersabar menanti penumpang yang ingin naik kendaraannya. Sebab, pemberhentiannya itu bukanlah tempat biasa ia menunggu penumpang.
Ia terpaksa kesana karena tak diizinkan melintas di jalur yang biasa dilalui. Sehingga Kodri terpaksa memutar ke arah jalur pulang sesuai jurusan angkutannya, yakni Wayhalim-Tanjungkarang.
“Biasanya saya (cari penumpang) di depan Mal Ramayana. Tapi karena lagi ditutup (akibat PPKM Level 4), terpaksa ngetem disini,” ujarnya kepada rilisid.lampung (group lampungcorner.com) yang menemaninya menunggu penumpang pada Kamis (22/7/2021) siang.
Pria berumur 53 tahun yang sudah bertahun-tahun menjalani profesi sebagai sopir angkot itu, lantas bercerita tentang sulitnya kini mencari penumpang di tengah persaingan dengan taksi dan ojek online yang menjamur.
Memakai masker kain yang terlihat sedikit kotor, suaranya terdengar berat saat ia menceritakan semakin sulitnya mencari uang setoran ke pemilik angkot.
“Sekaranng nyari 50 ribu rupiah saja susahnya minta ampun. Belum minyak sama makan kita. Kalau lebih baru bisa bawa pulang duit ke rumah,” tuturnya sambil matanya tak lepas mencari calon penumpang.
Meski demikian, perantau asal Palembang yang kemudian berkeluarga di tanah Lampung itu mengatakan ia tak putus asa dalam usahanya mencari nafkah untuk anak dan istri yang selalu setia menantinya di rumah.
“Mau bagaimana lagi, harus tetap usaha kan. Kalau sudah usaha pasti Allah kasih (rejeki), doanya semoga corona cepat selesai,” ujarnya sembari izin untuk melanjutkan perjalanan, mengantar satu penumpang yang sudah masuk ke dalam angkotnya.
Kursi penumpang yang masih banyak kosong itu pun terlihat jelas saat angkotnya berlalu. (*)
Red









