LAMPUNGCORNER.COM — Anggapan bahwa sekali atau dua kali mengonsumsi minuman manis bisa langsung menyebabkan diabetes masih kerap beredar di masyarakat.
Padahal, penelitian terbaru menunjukkan risiko diabetes tidak hanya dipengaruhi oleh konsumsi gula, tetapi juga pola hidup secara keseluruhan.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition) edisi 30 Juni 2026.
Penelitian dilakukan pada remaja untuk melihat hubungan antara konsumsi minuman berpemanis (Sugar-Sweetened Beverages/SSBs), perilaku sedentari, dan risiko prediabetes.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara frekuensi konsumsi minuman manis dan rendahnya aktivitas fisik dengan peningkatan risiko prediabetes.
Artinya, semakin sering seseorang mengonsumsi minuman berpemanis dan semakin minim aktivitas fisik, semakin besar peluang mengalami gangguan kadar gula darah.
Namun demikian, peneliti menegaskan bahwa gula bukan satu-satunya penyebab diabetes.
Penyakit ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, berat badan, hingga faktor genetik.
Karena itu, anggapan bahwa “sekali minum es teh manis langsung kena diabetes” dinilai sebagai informasi yang menyesatkan.
Penelitian juga menemukan bahwa minuman berpemanis rasa susu menjadi jenis yang paling banyak dikonsumsi responden.
Di sisi lain, mayoritas remaja menghabiskan waktu berjam-jam untuk aktivitas minim gerak, seperti menggunakan gawai atau komputer untuk hiburan.
Kombinasi kedua kebiasaan tersebut dinilai meningkatkan risiko gangguan metabolisme sejak usia muda.
Para peneliti mendorong pentingnya edukasi terkait konsumsi gula yang bijak. Mengurangi frekuensi minuman manis, memperbanyak konsumsi air putih, serta meningkatkan aktivitas fisik menjadi langkah sederhana untuk menjaga kadar gula darah tetap normal.
Selain itu, skrining kesehatan sejak dini juga dinilai penting guna mendeteksi risiko prediabetes sebelum berkembang menjadi diabetes.
Hasil penelitian ini sekaligus meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat. Yang perlu diwaspadai bukan hanya gula, melainkan pola hidup tidak sehat secara keseluruhan.
Mengendalikan konsumsi minuman manis dan tetap aktif bergerak menjadi kunci menjaga kesehatan metabolik, terutama sejak usia remaja. (*)
















