LampungCorner.com,Tubaba– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, mencatat sebanyak 18 kejadian bencana sepanjang tahun 2025.
Di sisi lain, BPBD juga memaparkan kondisi stok logistik kebencanaan yang saat ini sebagian besar telah menipis.
Kepala BPBD Tubaba melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Zuliadi, menyampaikan keterangan tersebut saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Senin (05/01/2026).
“Selama 2025 terdapat 18 kejadian bencana, didominasi hujan deras disertai angin kencang serta banjir. Sementara stok logistik saat ini memang perlu diperkuat kembali,” ujar Zuliadi.
Berdasarkan data BPBD Tubaba, dari total 18 kejadian bencana, 4 di antaranya merupakan banjir dan 14 kejadian hujan deras disertai angin kencang atau puting beliung. Kejadian tersebut tersebar di sejumlah Tiyuh (Desa) dan Kelurahan di Tubaba, dengan dampak mulai dari rumah terendam banjir, rumah rusak ringan hingga roboh, pohon tumbang, hingga terputusnya akses jembatan.
“Salah satu kejadian terbesar terjadi pada Desember 2025, ketika banjir melanda sejumlah wilayah dan mengakibatkan puluhan rumah terendam serta Jembatan Nugrik di Tiyuh Gunung Katun Tanjungan terputus,” ungkapnya.
Dalam setiap kejadian, BPBD Tubaba telah melakukan penanganan melalui evakuasi warga, penyaluran bantuan logistik, serta pembersihan lokasi bencana dengan melibatkan TNI-Polri, Dinas Sosial, Baznas, hingga relawan masyarakat.
BPBD Tubaba juga memaparkan kondisi stok logistik kebencanaan per awal 2026. Persediaan beras saat ini nihil. Gula pasir tersisa 637 kilogram dari persediaan awal 730 kilogram, susu tersisa 60 kaleng dari 123 kaleng, dan mie instan tinggal 120 bungkus dari 1.360 bungkus.
Selain itu, minyak goreng tersisa 245 liter dari 307 liter, sarden 159 kaleng dari 223 kaleng, sementara stok teh telah habis. Untuk perlengkapan kebencanaan, BPBD tidak memiliki stok selimut dan karpet. Family kit tersisa dua paket, hygiene kit masih tersedia 20 paket, serta asbes sebanyak 60 lembar masih tersedia.
“Dari sisi peralatan, kita memiliki satu unit perahu karet dalam kondisi baik, dua unit perahu viber rusak ringan, serta sejumlah tenda posko dan kendaraan operasional yang sebagian mengalami kerusakan ringan,” terangnya.
Zuliadi mengakui, keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan utama dalam penguatan logistik dan peralatan kebencanaan. Pada tahun 2026, anggaran pengadaan logistik hanya dialokasikan sekitar Rp9 juta, menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kami tetap berupaya mengajukan bantuan ke Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat, terutama untuk peralatan vital seperti perahu viber dan pelampung,” katanya.
Memasuki tahun 2026, BPBD Tubaba juga menargetkan penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana melalui peningkatan sosialisasi dan pelatihan kebencanaan kepada masyarakat, penguatan koordinasi lintas sektor, serta peningkatan kesiapan personel dan sistem respons cepat.
“Kami berharap Kabupaten Tubaba senantiasa aman kedepannya, dan masyarakat semakin siap menghadapi apapun potensi bencana,” pungkasnya. (Rian)










