Dari Uang Masuk hingga Proyek Kampus, KPK Bongkar Dugaan Korupsi Penerimaan Mahasiswa Baru Unsoed

- Jurnalis

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Akhmad Sodiq sebagai tersangka kasus dugaan pemerasan dan gratifikasi dalam penerimaan mahasiswa baru.

Selain Akhmad Sodiq, KPK menetapkan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unsoed Norman Arie Prayogo sebagai tersangka.

Empat tersangka lainnya yakni Kepala Bagian Akademik Unsoed Eko Sumanto serta tiga pihak swasta, Dian Mulia Wardhana, Adhi Wiharto, dan Mulyono.

“Melalui kecukupan alat bukti, KPK menetapkan enam orang tersangka,” kata Plh Direktur Penyidikan KPK Ahmad Taufik Husein di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (21/8/2026) malam.

KPK langsung menahan keenam tersangka untuk 20 hari pertama, terhitung sejak 21 Agustus hingga 9 September 2026. Mereka ditahan di Rutan Cabang Gedung Merah Putih KPK.

Kasus tersebut terungkap melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang digelar KPK pada Kamis (20/8/2026).

Dalam operasi senyap itu, penyidik menyita uang tunai sekitar Rp665 juta dan saldo rekening senilai Rp99 juta.

Taufik mengatakan perkara tersebut terbagi dalam tiga klaster.

Klaster pertama berkaitan dengan dugaan permintaan uang Rp650 juta kepada orang tua calon mahasiswa Fakultas Kedokteran yang mengikuti seleksi melalui jalur mandiri.

Baca Juga :  Budiyono Resmi Daftar Calon Rektor Unila 2027–2031

Permintaan tersebut diduga dilakukan Norman melalui dua perantara, yakni Dian dan Adhi. Praktik itu, menurut KPK, diketahui Akhmad Sodiq.

Uang kemudian diserahkan kepada Dian dan Adhi. Namun, calon mahasiswa tersebut justru dinyatakan tidak lulus seleksi.

Orang tua calon mahasiswa lantas meminta uang dikembalikan. Masalahnya, uang tersebut disebut sudah digunakan untuk keperluan pribadi oleh Dian dan Adhi.

Untuk mengembalikan uang tersebut, Norman melalui Dian, Adhi, dan Mulyono diduga menjanjikan pembayaran menggunakan pencairan tiga paket pekerjaan di lingkungan Unsoed.

Ketiga proyek tersebut yakni pengadaan kanopi, renovasi kantin, dan pengecatan gedung.

“Paketan pekerjaan tersebut telah selesai dikerjakan oleh CV milik MYN (Mulyono), yang selanjutnya untuk pencairan pembayarannya dialihkan ke pihak swasta dimaksud,” ujar Taufik.

Klaster kedua berkaitan dengan penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri pada 2025 dan 2026.

Dalam perkara ini, Sodiq diduga memberikan arahan kepada Mulyono dengan kode, “jangan diminta di awal, jika dikasih bilang terima kasih”.

Atas arahan tersebut, Mulyono dengan sepengetahuan Sodiq diduga menerima uang sedikitnya Rp680 juta.

Sodiq juga diduga memerintahkan Mulyono melakukan pembayaran pembelian tiga bidang tanah yang kemudian diatasnamakan Mulyono.

Baca Juga :  800 Ribu Hektare Disasar, Pupuk Hayati Cair Diyakini Dongkrak Produksi Tanaman Pangan di Lampung

Dengan demikian, Mulyono disebut bertindak sebagai penerima sekaligus pengelola uang yang diperuntukkan bagi Sodiq.

Sementara itu, klaster ketiga melibatkan Eko Sumanto selaku Kepala Bagian Akademik Unsoed.

Eko diduga berkomunikasi dengan salah satu pihak yang menjadi pengepul calon mahasiswa baru.

Dengan sepengetahuan Sodiq, Eko disebut melakukan tawar-menawar “mahar” untuk proses penerimaan mahasiswa baru melalui jalur mandiri.

Setelah kesepakatan tercapai, Eko menerima uang dari pihak pengepul calon mahasiswa baru dengan total mencapai Rp1,12 miliar.

“Atas penerimaan tersebut ES melaporkannya kepada ASO, kemudian ASO memberikan akses user ID-nya kepada ES untuk proses otorisasi ‘klik’ atau memberikan approval pada calon mahasiswa baru yang telah memberikan uang,” ungkap Taufik.

Atas perbuatannya, keenam tersangka disangkakan melanggar Pasal 12 huruf e atau Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Mereka juga disangkakan melanggar Pasal 20 huruf c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. (*)

Berita Terkait

Update Gempa NTT: 44.946 Rumah Rusak, 83 Orang Meninggal
BNPB Catat 3.752 Gempa Susulan Guncang NTT, Korban Tewas Capai 75 Jiwa
Konflik Pertanahan Buay Bulan dan PTPN I Dimediasi, Empat Kesepakatan Jadi Titik Awal
Susul Dua Pendaftar, Prof. Asep Sukohar Resmi Daftar Pilrek Unila
Ukom Lampura Jadi Sorotan, Suwardi: Pilih Pejabat yang Bersih, Kompeten dan Berani
Kabar Baik, Guru PPPK Bakal Jadi PNS
Terima Gratifikasi Rp20,7 Miliar, Mantan Kakanwil Pajak Ditahan KPK
Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 71 Orang, Puluhan Ribu Warga Mengungsi
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:43 WIB

Dari Uang Masuk hingga Proyek Kampus, KPK Bongkar Dugaan Korupsi Penerimaan Mahasiswa Baru Unsoed

Jumat, 21 Agustus 2026 - 19:52 WIB

Update Gempa NTT: 44.946 Rumah Rusak, 83 Orang Meninggal

Kamis, 20 Agustus 2026 - 21:13 WIB

BNPB Catat 3.752 Gempa Susulan Guncang NTT, Korban Tewas Capai 75 Jiwa

Kamis, 20 Agustus 2026 - 21:02 WIB

Konflik Pertanahan Buay Bulan dan PTPN I Dimediasi, Empat Kesepakatan Jadi Titik Awal

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:29 WIB

Susul Dua Pendaftar, Prof. Asep Sukohar Resmi Daftar Pilrek Unila

Berita Terbaru

BREAKING NEWS

Update Gempa NTT: 44.946 Rumah Rusak, 83 Orang Meninggal

Jumat, 21 Agu 2026 - 19:52 WIB