LAMPUNGCORNER.COM, Mesuji — Petani di Kabupaten Mesuji nampaknya harus benar-benar berjuang untuk terus bisa menanam padi. Pasalnya, selain kondisi jalan, pembangunan infrastruktur pertanian juga harus menjadi perhatian pemerintah agar petani bertahan dengan menanam komoditas pangan itu.
Salah satunya, banjir yang merendam dua puluh hektare sawah di Desa Wirabangun Kecamatan Simpangpematang, Rabu (01/03/2023). Dari keterangan para petani setempat, banjir kali ini sangat berdampak bagi petani karena adanya pintu air yang dibangun pada Tahun 2019 lalu.
Menurut para petani, banjir kali ini diperparah adanya pintu air yang dibangun di hilir kanal yang justru membuat air tersumbat mengalir.
“Pintu air itu tidak ada fungsinya, selain hanya menghambat aliran sungai hingga luapannya masuk ke sawah warga,” kata Agus Seno, petani warga Desa Wirabangun.
Saat ini, kata Agus, air masih tetap menggenangi sawah dan belum juga surut. Padahal, kata dia, sawah diwilayah itu baru saja ditanam.
“Kalau sampai tidak surut dalam 1×24 jam dan padi yang ditanam sempat seluruhnya terendam, dipastikan harus tanam ulang, karena pasti bibit itu hasilnya tidak baik,” ujarnya.
Lambatnya air surut, kata dia lagi karena adanya pintu air yang baru dibangun tersebut. Karena, sebelum ada pintu air, kanal (sungai) itu cukup lebar untuk membuang air jika terjadi banjir. Namun saat ini, aliran sungai jadi sempit dengan dibangunnya pintu air.
“Sebelumnya memang banjir pernah datang tapi sepintas lewat. Dalam beberapa jam, sudah surut. Sekarang, banjir datang, saat melintasi pintu air, kanal menyempit seperti bottleneck, air meluap ke sawah di kanan kiri kanal ini, termasuk punya saya,” ujarnya.
Joko, juga petani yang baru saja tanam mengaku rugi jutaan rupiah. Mulai dari bibit, bajak dan tenaga yang sudah keluar untuk tanam. Karena, ia memastikan harus menanam ulang lagi sawahnya yang sudah terendam.
Ia berharap, kondisi banjir seperi ini pemerintah harus turun tangan dengan memberi solusi yang kongkrit. Karena pintu air yang dibangun bukan menjadi bagian solusi malah menyulitkan petani setempat.
“Kami ini bingung. Itu pintu air siapa yang minta. Kalaupun yang kami butuhkan ya tanggul dan kanal baru. Bukan pintu air seperti ini, yang justru tidak ada gunanya. Mengendalikan air tidak bisa, malah penyumbang banjir,” ujarnya.
Juga ketika musim kemarau tiba, pintu air itupun tidak bisa berfungsi untuk membendung air. Sehingga warga bisa memenfaatkan untuk mengambil airnya ke sawah. “Petani tetap pakai mesin sedot air (alkon) untuk mengairi sawah,” katanya.
Terpisah, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dan Holtikultura, Dinas Pertanian Mesuji, Halwan mengatakan sawah di Desa Wirabangun memang baru memasuki masa tanam. Ia memprediksi jika usia tanam padi diwilayah itu dibawah 30 hst (hari setelah tanam).
“Kami sudah terima laporan banjir sawah di Wirabangun dan ada yang sudah tanam ulang,” katanya.
Sedangkan mengenai pintu air, Halwan justru menilai wilayah tersebut kekurangan pintu air. “Jadi air meluap melebihi tanggul yang ada jika hujan lebat,” tutupnya. (*)
Red















