LampungCorner.com,Tubaba— Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) terus mengintensifkan langkah-langkah strategis untuk menurunkan angka stunting di wilayah setempat.
Tahun 2025 ini, Dinas PPKB Tubaba menargetkan penurunan prevalensi stunting dari data terakhir 13,4 persen menjadi 10,7 persen, sejalan dengan komitmen mewujudkan generasi emas Indonesia yang sehat dan berkualitas.
Plt. Kepala Dinas PPKB Tubaba, dr. Wita Hestriani, M.Kes., menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menyeluruh dari hulu ke hilir.
“Stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi menyangkut masa depan bangsa. Karena itu, intervensi dilakukan mulai dari remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, hingga anak balita,” kata Wita, saat dikonfirmasi media di ruang kerjanya, Senin (13/10/2025).
Untuk mencapai target tersebut, Dinas PPKB telah melaksanakan serangkaian program terpadu, di antaranya pendampingan keluarga berisiko stunting melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK) di seluruh Tiyuh (Desa) dan Kelurahan, sosialisasi gizi seimbang dan pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), serta pelayanan KB berkualitas guna mengatur jarak kelahiran dan menekan angka kehamilan berisiko.
“Selain itu, kolaborasi lintas sektor terus diperkuat melalui Mini Lokakarya di tingkat Kecamatan bersama Puskesmas, Pemerintah Tiyuh, dan berbagai stakeholder. Dinas PPKB juga menggulirkan dua program unggulan, yakni Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dan Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting (Genting), yang menekankan peran keluarga dan komunitas dalam mempercepat penurunan angka stunting,” jelasnya.
Dalam rangkaian Pekan Edukasi Genting, sebanyak 434 keluarga berisiko terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan baduta mendapatkan edukasi tentang gizi, pola asuh, serta pemantauan pertumbuhan anak. Program ini melibatkan TPK bersama mitra kerja di lapangan agar pendampingan berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
“Dinas PPKB Tubaba juga menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) setempat untuk menyalurkan bantuan nutrisi bagi 400 keluarga sasaran Genting. Tidak hanya itu, sejumlah pihak terutama Pemerintah Tiyuh juga memberikan bantuan pemenuhan gizi untuk anak-anak dan ibu hamil. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat aspek pemenuhan gizi anak-anak rentan dan mendorong penurunan angka stunting secara signifikan,” terangnya.
Menurutnya, data Dinas Kesehatan hingga Oktober 2025 ini, mencatat masih terdapat 425 balita di Kabupaten Tubaba dengan status gizi kurang, dan data dari DPPKB sejumlah 6.219 keluarga masih berisiko stunting yang tersebar di sembilan Kecamatan di Tubaba. Risiko ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelahiran prematur, jarak kelahiran yang terlalu dekat, lingkungan kurang bersih, dan sanitasi yang belum memadai.
“Untuk capaian target tahun ini belum bisa dipastikan berapa persentase penurunannya, karena capaian angka stunting akan kita ketahui secara pasti melalui Survei Kesehatan Indonesia atau Survei Gizi Indonesia dari Kementerian Kesehatan nantinya, mungkin di akhir tahun,” ungkapnya.
Wita memastikan bahwa setiap keluarga berisiko mendapatkan pendampingan dan intervensi yang tepat. Dengan kerja sama lintas sektor dan dukungan masyarakat, pihaknya optimistis target 10,7 persen prevalensi stunting bisa tercapai tahun ini.
“Langkah terukur dan kolaboratif sangat diperlukan sebagai komitmen kita bersama dalam mewujudkan generasi sehat, cerdas, dan bebas stunting,” pungkasnya. (Rian)










