Peneliti BRIN Jelaskan Sebab Orang Tewas Karena Disengat Tawon

- Jurnalis

Rabu, 19 Januari 2022 - 21:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sarang tawon vespa (Foto: Imam Suripto/detikcom)

Sarang tawon vespa (Foto: Imam Suripto/detikcom)

LAMPUNGCORNER.COM, Jakarta – Peristiwa meninggalnya seseorang akibat sengatan tawon pernah dikabarkan beberapa kali. Salah satunya pernah dilaporkan oleh CNN Indonesia pada 2019 lalu, di mana seorang balita 2,5 tahun di Kepulauan Riau meninggal dunia setelah diserang tawon.

Dalam arsip detikcom juga pernah diberitakan hal serupa pada 2020. Seorang pria berumur 30 tahun meninggal setelah disengat tawon vespa atau tawon ndas. Dan pada Rabu (05/01/2022) lalu, mengutip dari detiknews, seorang kakek di DI Yogyakarta juga tewas akibat sengatan kawanan tawon vespa.

Melihat beberapa kejadian ini, mengapa sengatan tawon, utamanya tawon vespa bisa sampai menyebabkan tewasnya seseorang?

Manusia pada kenyataannya memang bisa meninggal karena sengatan tawon. Dikutip dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), peneliti Pusat Riset Biologi BRIN Sih Kahono menjelaskan, kekuatan racun tawon vespa lebih kuat dari lebah.

“Kekuatan racun tawon vespa lebih kuat dari lebah. Tapi frekuensi penyengatan juga penting. Semakin sering menyengat akan semakin kuat sengatannya,” urai Kahono, dikutip Rabu (19/01/2022).

Sengatan lebah dan tawon pun dapat dilihat dari bekasnya. Menurut Kahono, tawon vespa meninggalkan bekas berupa lubang tanpa ada sengat tertinggal.

Baca Juga :  Pemprov Lampung Distribusikan 100 Ribu Dosis Vaksin PMK Hewan Ternak

Akan tetapi, harus digarisbawahi bahwa tidak semua orang yang disengat tawon akan meninggal. Kasus meninggal karena sengatan tawon pada dasarnya jarang terjadi.

Pada yang mengalaminya, orang tersebut akan mengalami efek bengkak, kemerahan, dan rasa gatal di kulit. Sengatan tawon juga dapat menimbulkan rasa amat perih hingga alergi yang berat. Hal ini disebabkan racun tawon itu sendiri.

“Serangga seperti tawon dapat melepaskan racun melalui sengatannya. Racun tawon masuk ke dalam kelompok histamin. Racun serangga yang masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan reaksi keracunan yang beragam pada setiap orang. Tingkat ketahanan atau alergi setiap orang yang disengat berbeda-beda. Lima sengatan sudah dapat membunuh jika memiliki alergi yang tinggi,” papar Kahono.

Tawon sebetulnya adalah hewan teritorial, yakni memiliki kawasannya sendiri. Saat ada manusia yang memasuki wilayahnya, serangga tersebut bisa merasa terancam.

Menurut Kahono, salah satu yang perlu diwaspadai adalah pada umumnya manusia tidak menilai aktivitasnya mengganggu tawon. Sebaliknya, tawon bisa jadi merasa terganggu dengan kedatangan manusia.

“Umumnya kita tidak merasa aktivitas kita mengganggu tawon, tetapi tawon mungkin terganggu dengan kedatangan manusia. Sehingga tawon akan mengeluarkan zat feromon sebagai tanda bahwa ada bahaya datang. Akhirnya karena untuk mempertahankan diri maka tawon menyerang kita,” imbuhnya.

Baca Juga :  Terima Kunjungan Persatuan Dokter Paru Indonesia, Wagub Jihan Komitmen Percepat Eliminasi TBC di Lampung

Tawon juga terbagi menjadi dua jenis, yakni tawon soliter dan sosial. Kahono menuturkan, tawon soliter adalah yang hidup sendirian hampir seluruh hidupnya.

Kebalikannya, tawon sosial cenderung hidup secara koloni besar dan punya banyak anakan. Saat merasa ada ancaman, tawon sosial akan melindungi koloninya dengan cara menyerang.

Mengenai sifat tawon ini, dirinya menerangkan bahwa tingkat agresivitas tiap jenis tawon berbeda. Faktor perbedaannya adalah intensitas gangguan yang terjadi pada koloni mereka di waktu-waktu sebelumnya. Jadi, semakin sering diganggu, semakin agresif pula hewan tersebut.

Bagi seseorang yang mengalami serangan tawon, perlu diketahui bahwa semakin melawan, maka akan semakin membahayakan diri.

“Semakin kita melakukan perlawanan akan semakin membahayakan diri kita sendiri. Karena itu cara terbaik saat diserang oleh tawon adalah melarikan diri sejauh mungkin atau dengan membuang pakaian yang dipakai untuk menghilangkan feromon yang sudah menempel di baju,” tegas Kahono.

Red

Berita Terkait

Terima Kunjungan Persatuan Dokter Paru Indonesia, Wagub Jihan Komitmen Percepat Eliminasi TBC di Lampung
HUT Lampung ke-62, Pemprov Optimalkan Layanan RSUD Bandar Negara Husada
DPRD Dalami Kelalaian Medis RSIA Puri Betik Hati, Panggil Direktur dan Dinkes Lampung
Tekan Risiko Komplikasi, Pemeriksaan Rutin Prolanis Digelar di Puskesmas Kotabumi II
Darurat Kasus Suspek Campak Capai 591, Pemprov Lampung Kebut Vaksinasi dan Sosialisasi
Soroti 591 Kasus Suspek Campak, Anggota Komisi V DPRD Minta Dinkes Lampung Jemput Bola
Pemprov Lampung Distribusikan 100 Ribu Dosis Vaksin PMK Hewan Ternak
Wagub Jihan Kunjungi Pasien Kanker di RSUDAM, Dorong Peningkatan Layanan Radioterapi
Berita ini 211 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 19:04 WIB

Terima Kunjungan Persatuan Dokter Paru Indonesia, Wagub Jihan Komitmen Percepat Eliminasi TBC di Lampung

Kamis, 16 April 2026 - 21:34 WIB

HUT Lampung ke-62, Pemprov Optimalkan Layanan RSUD Bandar Negara Husada

Senin, 13 April 2026 - 21:34 WIB

DPRD Dalami Kelalaian Medis RSIA Puri Betik Hati, Panggil Direktur dan Dinkes Lampung

Jumat, 10 April 2026 - 09:59 WIB

Tekan Risiko Komplikasi, Pemeriksaan Rutin Prolanis Digelar di Puskesmas Kotabumi II

Selasa, 7 April 2026 - 20:45 WIB

Darurat Kasus Suspek Campak Capai 591, Pemprov Lampung Kebut Vaksinasi dan Sosialisasi

Berita Terbaru

LAMPUNG SELATAN

Pimpin APINDO Lamsel, Fikry Dorong Sinergi Pengusaha dan Pemerintah

Rabu, 29 Apr 2026 - 20:20 WIB