LampungCorner.com, BANDAR LAMPUNG – Setiap 10 Januari, bangsa Indonesia memperingati Hari Tritura (Tri Tuntutan Rakyat), sebuah momentum historis yang lahir dari gejolak politik dan sosial pada pertengahan 1960-an.
Peringatan ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan pesan kuat tentang peran rakyat dalam mengawal arah perjalanan bangsa.
Tritura berakar dari situasi nasional pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965, ketika kondisi politik, ekonomi, dan keamanan berada dalam ketidakstabilan.
Krisis yang berkepanjangan serta ketidakpastian arah kebijakan negara menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Sikap pemerintah yang dinilai lamban dan kurang tegas terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) semakin memicu ketegangan.
Dari situ, lahirlah gelombang aksi Tritura yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, pelajar, buruh, hingga guru.
Aksi tersebut menjadi simbol solidaritas rakyat dalam menyuarakan tuntutan perubahan demi masa depan bangsa.
Tiga tuntutan utama yang kemudian dikenal sebagai Tritura merupakan reaksi langsung atas memburuknya kondisi kehidupan masyarakat saat itu.
Tuntutan pertama adalah pembubaran PKI beserta seluruh organisasi yang berafiliasi dengannya.
Kedua, perombakan Kabinet Dwikora yang dianggap tidak mampu mengatasi krisis nasional.
Ketiga, penurunan harga serta perbaikan kebijakan ekonomi yang kian memberatkan kehidupan rakyat. Namun, perjuangan tersebut tidak berjalan tanpa pengorbanan.
Gugurnya mahasiswa Arif Rahman Hakim dalam aksi demonstrasi menjadi bukti bahwa perubahan besar sering kali dibayar mahal.
Pengorbanan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah bangsa dibangun dengan darah, air mata, dan keberanian.
Lebih dari setengah abad berlalu, semangat Tritura tetap relevan bagi kehidupan berbangsa saat ini.
Peringatan ini menegaskan pentingnya keberanian bersikap kritis terhadap kekuasaan ketika kebijakan tidak berpihak kepada rakyat.
Tritura juga menegaskan peran strategis generasi muda sebagai agen perubahan yang mampu menyuarakan aspirasi secara bermartabat.
Di sisi lain, pemerintah dituntut untuk senantiasa terbuka terhadap kritik, menjaga keadilan, serta memelihara stabilitas nasional.
Hari Tritura menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dipahami dan dipetik hikmahnya.
Dari sana, bangsa Indonesia diharapkan terus melangkah ke depan dengan menjunjung nilai keadilan, kebijaksanaan, dan keberpihakan kepada rakyat. (*)
Laporan: Budi Sudewo
Editor: Furkon Ari









