Lampungcorner.com, Bandar Lampung – Japan Association for Construction Human Resources (JAC), Yugo Okamoto didampingi Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Thomas Amirico meninjau proses belajar di Kelas Vokasi Migran, Kamis (4/12/2025).
Dua sekolah yang ditinjau adalah SMKN 4 Bandar Lampung dan SMAN 2 Bandar Lampung.
Thomas mengatakan Kelas Vokasi Migram adalah program unggulan Pemprov Lampung bagi anak-anak SMA/SMK yang ingin bekerja ke luar negeri, salah satu fokusnya adalag Jepang.
“Mereka kami ajari bahasa Jepang selama satu tahun. Ada tambahan materi kebudayaan, keterampilan dan lainnya sesuai kebutuhan di Jepang,” kata Thomas.
Saat ini baru ada 27 dari 88 guru Bahasa Jepang yang sudah mengajar. Sementara sisanya akan terus diupayakan secara bertahap.
“Kami berharap program ini bisa membantu agar bisa bekerja di Jepang dan meningkatkan kualitas hidup serta mengurangi angka pengangguran di Lampung,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Perwakilan JAC, Yugo Okamoto, menyampaikan bahwa salah satu syarat yang diprioritaskan bagi pekerja untuk bekerja di Jepang yaitu kemampuan berbahasa Jepang.
“Kedua adalah keahlian. Keahlian ini bergantung pada proses dan jenis pekerjaan yang akan digeluti calon pekerja,” ujarnya.
Saat ini, jelas Yugo Okamoto, kami juga mengupayakan agar setiap perusahaan di Jepang dapat memberikan dukungan berupa pendidikan langsung kepada calon pekerja dari Indonesia.
“Saya berharap semakin banyak warga negara Indonesia yang berminat bekerja di sektor konstruksi di Jepang sehingga dapat memberikan manfaat bagi perusahaan dan masyarakat di Jepang,” ujarnya.
Secara keseluruhan, jelas Yugo, Jepang membutuhkan banyak tenaga kerja. Di bidang konstruksi saja, kebutuhan tenaga kerja mencapai sekitar 80.000 orang. Saat ini komposisi pekerja di Jepang berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Kami berharap Indonesia dapat menjadi salah satu penyumbang sumber daya manusia terbesar. Hal ini dikarenakan kondisi Jepang yang tengah mengalami kekurangan tenaga kerja akibat jumlah penduduk usia produktif yang terbatas,” ujarnya.
Kami berkomitmen untuk mengusahakan agar calon pekerja muda Indonesia dapat memberikan manfaat, baik bagi Indonesia maupun Jepang, sehingga hubungan kedua negara semakin kuat.
“Setelah bekerja di Jepang, para pekerja diharapkan dapat kembali ke Indonesia dan memanfaatkan ilmu serta pengalaman yang diperoleh,” tuturnya. (*)









