Tokoh Adat Soroti Dampak Tambang PT Yudistira: Lingkungan Rusak, CSR Dinilai Nihil

- Jurnalis

Senin, 25 Mei 2026 - 13:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LampungCorner.com, PESAWARAN – Aktivitas tambang galian C yang dikelola PT Yudistira di Desa Sukarame, Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, menuai protes dari tokoh adat dan masyarakat setempat. Warga menilai aktivitas tambang tersebut tidak hanya berdampak buruk terhadap lingkungan sosial, tetapi juga berpotensi memicu bencana longsor.

Penyimbang Adat Marga Pedada, Basri Saleh, mengatakan keberadaan perusahaan tambang yang semestinya membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat justru menimbulkan berbagai persoalan di tengah warga.

“Kami tentu merasa dirugikan karena tidak ada kontribusi perusahaan bagi adat maupun masyarakat di sini,” ujar Basri, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, aktivitas pertambangan telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang cukup parah di tiga desa, yakni Desa Sukarame, Desa Rusaba, dan Desa Kota Jawa, Kecamatan Punduh Pidada.

Basri menjelaskan, dampak yang dirasakan masyarakat meliputi polusi debu, kerusakan lahan milik warga, hingga rusaknya ekosistem laut seperti terumbu karang akibat aktivitas kapal tongkang pengangkut hasil tambang yang melintas di sekitar dermaga perusahaan.

Selain itu, warga juga khawatir aktivitas pengerukan dapat memicu longsor, terutama di wilayah Desa Sukarame.

Ia menyoroti lokasi Puskesmas Punduh Pidada yang berada dekat area tambang dan dinilai rawan terdampak longsor karena banyak pohon di sekitar lokasi telah ditebang dan lahan digali menggunakan alat berat.

Baca Juga :  DPLH Pesawaran Ungkap Aktivitas Tambang PT Yudistira Masih Gunakan Izin UKL-UPL Lama

“Puskesmas itu lokasinya sangat dekat dengan areal tambang. Kami khawatir bisa longsor karena pohon-pohon sudah digunduli dan pengerukan dilakukan menggunakan ekskavator,” katanya.

Tak hanya itu, polusi debu dan kebisingan dari aktivitas tambang disebut mengganggu pelayanan kesehatan serta kenyamanan pasien yang menjalani perawatan di Puskesmas Punduh Pidada.

“Kendaraan tambang dan alat berat juga melewati jalan umum. Saat hujan, lumpur berserakan di jalan dan pernah ada warga yang terjatuh ketika melintas,” tambahnya.

Basri juga menyoroti minimnya pemberdayaan masyarakat lokal oleh pihak perusahaan. Ia meminta perusahaan lebih melibatkan warga sekitar dalam aktivitas kerja serta merealisasikan program Corporate Social Responsibility (CSR).

“Banyak pekerja justru didatangkan dari luar daerah. Untuk apa ada perusahaan tambang kalau masyarakat sekitar hanya jadi penonton. Saya sudah berkali-kali mempertanyakan dana CSR, tetapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” tegasnya.

Keluhan serupa juga disampaikan W, salah seorang warga sekitar. Ia mempertanyakan legalitas reklamasi laut untuk pembangunan dermaga perusahaan serta langkah konkret perusahaan dalam menangani dampak lingkungan yang terjadi.

Baca Juga :  SPPG Binong Way Layap Diresmikan, Libatkan UMKM hingga Petani Lokal

Menurutnya, keberadaan dermaga dan aktivitas kapal tongkang telah merusak ekosistem laut dan merugikan para nelayan setempat.

“Dermaga itu ada izinnya atau tidak? Karena aktivitas kapal tongkang dan dermaga yang berdiri di situ merusak terumbu karang dan merugikan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menilai perusahaan tidak memiliki sistem drainase yang memadai sehingga material tanah dan batu dari area tambang langsung turun ke jalan umum.

Selain persoalan lingkungan, warga mengaku terdampak pada pasokan listrik di wilayah sekitar sejak aktivitas tambang beroperasi.

“Memang mereka membuat trafo sendiri, tetapi daya listrik di terminal tidak bertambah. Akibatnya listrik ke rumah warga berkurang, lampu menjadi redup dan banyak alat elektronik rusak. Sebelum ada tambang, listrik di sini normal,” katanya.

Warga berharap perusahaan dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan masyarakat sekitar, termasuk memberikan kontribusi nyata melalui program CSR dan kepedulian terhadap dampak lingkungan maupun sosial yang terjadi.

“Harapan kami hanya ada kerja sama yang baik untuk masyarakat, dan perusahaan benar-benar peduli terhadap warga sekitar,” pungkasnya. (*)

Editor: Furkon Ari

Berita Terkait

80 Persen Sawah Rusak Diserang Tikus, DTPH Pesawaran Berikan Obat dan Siapkan Bantuan Benih Padi
DPLH Pesawaran Tegaskan Izin Lingkungan PT Yudistira Masih Berlaku
35 Hari Penuh Gotong Royong, Jembatan Garuda Akhirnya Hubungkan Harapan Warga Way Semah
SPPG Binong Way Layap Diresmikan, Libatkan UMKM hingga Petani Lokal
Petani Kakao dan Lada Pesawaran Dibina Badan Riset Prancis, Siap Tembus Pasar Ekspor
Apel Siaga HKB 2026, Wabup Pesawaran Tekankan Kolaborasi dan Mitigasi Risiko
Pertumbuhan Ekonomi Pesawaran Capai 5,38 Persen, Musrenbang Siapkan Arah Pembangunan 2027
Siap Amankan Mudik Lebaran 2026, Bupati Nanda Hadiri Rakor Lintas Sektoral di Polda Lampung
Berita ini 135 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 17:04 WIB

80 Persen Sawah Rusak Diserang Tikus, DTPH Pesawaran Berikan Obat dan Siapkan Bantuan Benih Padi

Jumat, 26 Juni 2026 - 19:15 WIB

DPLH Pesawaran Tegaskan Izin Lingkungan PT Yudistira Masih Berlaku

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:53 WIB

35 Hari Penuh Gotong Royong, Jembatan Garuda Akhirnya Hubungkan Harapan Warga Way Semah

Senin, 25 Mei 2026 - 20:17 WIB

SPPG Binong Way Layap Diresmikan, Libatkan UMKM hingga Petani Lokal

Senin, 25 Mei 2026 - 13:48 WIB

Tokoh Adat Soroti Dampak Tambang PT Yudistira: Lingkungan Rusak, CSR Dinilai Nihil

Berita Terbaru

Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan B50, Target Kurangi Impor BBM. Foto: Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden

NASIONAL

Prabowo Resmikan B50, Target Kurangi Impor BBM

Kamis, 9 Jul 2026 - 17:00 WIB